Daftar Presiden Dunia Pakai Telegram Imbas Kasus Whatsapp

jps, CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 09:38 WIB
Sejumlah Presiden dunia kini menjadi pengguna Telegram imbas dari kasus Whatsapp. Ilustrasi. CEO Telegram menyebut sejumlah pemimpin dunia kini menjadi pengguna Telegram imbas kasus Whatsapp (AFP PHOTO / CHRISTOPHE ARCHAMBAULT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri dan CEO Telegram, Pavel Durov menyatakan sejumlah kepala negara dunia kini menjadi pengguna Telegram imbas kasus Whatsapp.

Pada Kamis (14/1) malam, lewat akun resmi di Telegram, Durov mengumumkan dua orang presiden yang menjadi pengguna baru Telegram.

Kedua presiden itu bergabung setelah postingan terakhirnya tentang kenaikan jumlah pengguna dalam beberapa waktu terakhir.


"Sejak posting terakhir saya, masuknya pengguna baru ke Telegram secara besar-besaran semakin cepat. Kita mungkin menyaksikan migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia," ujar Durov lewat akun Telegram miliknya

"Mengikuti fenomena global ini, dua presiden memulai saluran Telegram," ujarnya.

Durov membeberkan dua presiden yang baru menjadi pengguna telegram adalah Presiden Brasil Jair Bolsonaro (@jairbolsonarobrasil) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (@RTErdogan).

Kehadiran Bolsonaro dan Erdogan, kata Durov menambah panjang daftar kepala negara yang menggunakan aplikasi buatannya.

Sebelumnya, kepala negara yang telah menggunakan Telegram, antara lain;
- Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador (@PresidenteAMLO),
- Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (@leehsienloong).
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (@V_Zelenskiy_official),
- Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev (@shmirziyoyev),
- Presiden Taiwan Tsai Ing-wen (@iingtw),
- Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed (@AbiyAhmedAliofficial), dan
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (@bnetanyahu).

Durov berkata seluruh presiden itu merupakan akun terverifikasi karena menampilkan tanda centang biru di daftar obrolan dan hasil pencarian pengguna.

Lebih lanjut, Durov mengaku sangat terhormat dengan para pemimpin politik hingga banyak organisasi publik karena menggunakan Telegram. Dia mengklaim Telegram, bisa diandalkan untuk memerangi informasi yang salah dan menyebarkan kesadaran tentang masalah penting dalam masyarakat mereka.

Tidak seperti jaringan lain, Durov mengklaim Telegram tidak menggunakan algoritma non transparan untuk memutuskan apakah pelanggan akan melihat konten langganan mereka atau tidak.

"Akibatnya, saluran Telegram adalah satu-satunya cara langsung bagi para pemimpin untuk terhubung secara andal dengan audiens mereka," ujarnya.

Durov menambahkan Telegram memulihkan transparansi dan integritas komunikasi 'satu-ke-banyak' publik dengan menghapus algoritma manipulatif yang telah menjadi identik dengan platform teknologi 2010-an.

Sebelumnya, Durov menyampaikan pengguna aktif Telegram telah mencapai lebih dari 500 juta. Sebanyak 25 juta pengguna diklaim bergabung hanya dalam waktu 72 jam.

Kenaikan jumlah pengguna Telegram yang signifikan tak lepas dari pengaruh kebijakan privasi baru WhatsApp. Selain mengumpulkan data pribadi pengguna, kebijakan baru itu bisa membuat data pengguna dimiliki dan digunakan Facebook.

Aplikasi pesan WhatsApp hingga Telegram akan meminta pengguna memberikan data lokasi, kontak, nomor telepon hingga alamat email.Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Aplikasi pesan WhatsApp hingga Telegram akan meminta pengguna memberikan data lokasi, kontak, nomor telepon hingga alamat email.
(eks/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK