Bukan Likuifaksi, Ahli Ungkap Sebab Tanah Bergerak Purworejo

CNN Indonesia | Senin, 18/01/2021 20:20 WIB
LIPI menyebutkan fenomena tanah bergerak yang terjadi di Purwerejo, Jawa Tengah pada Rabu (14/1) lalu bukan disebabkan likuifaksi. Ilustrasi tanah bergerak. (Dok. BNPB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari menyebutkan fenomena tanah bergerak yang terjadi di Purwerejo, Jawa Tengah pada Rabu (14/1) lalu bukan disebabkan likuifaksi. Tanah bergerak kali ini lebih dipicu oleh hujan lebat dengan durasi lama.

Tanah bergerak akibat likuifaksi sebelumnya terjadi pada 2018 di Sigi, Sulawesi Tengah. Penyebabnya karena guncangan gempa.

"Tanah bergerak yang banyak terjadi sekarang ini di beberapa wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah merupakan tanah longsor tipe nendatan yang dipicu oleh hujan lebat dengan durasi lama," kata Adrin melalui pesan singkat, Senin (18/1).


Ia menjelaskan curah hujan yang tinggi dengan durasi tidak sebentar, lama kelamaan akan membuat volume air di dalam tanah ikut naik sehingga mengakibatkan pergeseran.

Namun, kondisi tersebut biasanya terjadi pada tanah yang memiliki lapisan batuan kedap air cukup tinggi sehingga air tak terserap sempurna. Kata Adrin di tanah Purwerejo banyak batu kedap air berjenis breksi.

"Penyebabnya karena ada kenaikan air tanah di dalam lapisan tanah yang labil akibat pengaruh curah hujan tersebut. Kenaikan muka air tanah ini akibat lapisan batuan kedap air yang menyebabkan air hujan tidak bisa masuk ke dalam," ungkapnya.

"Faktir berikutnya, lapisan batuan mempunyai kemiringan sehingga ketika terjadi kenaikan muka air tanah di dalam lapisan tanah yang labil, maka lapisan tanah itu akan bergerak," sambung Adrin kemudian.

Kata dia biasanya tanah bergerak tipe nendatan (tanah ambles) ini terjadi di daerah yang memiliki banyak lahan basah seperti sawah atau empang dan memiliki lapisan bebatuan.

Antisipasi Fenomena Tanah Bergerak

Ia mengatakan untuk mencegah tanah bergerak tipe nendatan, perlu dilakukan kajian dan pemetaan terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa luas daerah yang berpotensi mengalami tanah bergerak tersebut.

"Upaya paling efektif mencegah bencana tanah bergerak tipe nendatan ini adalah dengan melarang atau memindahkan pemukiman dari daerah berpotensi bahaya itu. Karena upaya mencegah kenaikan air tanah saat hujan lebat akan membutuhkan teknologi yang sangat mahal," kata dia.

Upaya lain bisa dengan memperkuat lereng, namun biayanya juga akan tidak sedikit.

"Lalu bisa juga dengan meminta masyarakat untuk berpindah pola cocok tanam dari bersawah (lahan basah) ke ladang (lahan kering), tapi hal itu mungkin sulit dilakukan," katanya.

Jika relokasi belum bisa dilakukan, alternatif lainnya yakni pemantauan pergerakan tanah. Kata dia biasanya tanah bergerak tipe nendatan terjadi secara perlahan sehingga bisa dipantau dengan teknologi EWS longsor yang sederhana dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

"Untuk teknologi mendeteksi tanah bergerak tipe nendatan ini sudah ada, tapi perlu didukung dengan hasil pemetaan dan kajian geologi terlebih dahulu," katanya.

(ryh/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK