Mengenal Waterspout Tornado yang Terjang Wonogiri

CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 20:59 WIB
Fenomena pusaran angin di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri disebut bukan puting beliung, tapi Waterspout tornado. Ilustrasi Tornado. (iStockphoto/deepspacedave)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyimpulkan fenomena pusaran angin yang terjadi di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri bukan puting beliung, melainkan Waterspout yang masuk dalam kategori angin tornado.

Melansir laman resmi LAPAN, Waterspout merupakan tornado yang terkoneksi dengan air dan memiliki skala mikro, biasanya fenomena ini hanya dapat terjadi di atas danau, tambak, sungai, bendungan dan lainnya.

Menurut peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN Erma Yulihastin, terdapat perbedaan mendasar antara fenomena Waterspout dan angin puting beliung akibat kondisi anomali cuaca.


Erma menjelaskan bahwa ciri Waterspout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti suatu belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari suatu awan jenis cumuluscongestus atau cumulonimbus.

Tornado waterspout memiliki beberapa fase pembentukan, pertama terdapat dukungan temperatur, kelembaban dan pergeseran angin yang menjadi syarat bagi pembentukannya.

Kedua fase awan cerah yang terbentuk di atas permukaan air. Ketiga awan cerah itu dikelilingi oleh awan berwarna gelap. Keempat pembentukan corong berwarna terang yang memanjang dan berbentuk spiral. Kelima pembentukan corong spiral yang memanjang dan di bagian bawah permukaan air terbentuk percikan air ke segala arah.

Pada tahapan kelima itu, peluruhan Waterspout terjadi ketika terdapat udara lembab atau uap air yang masuk ke dalam corong badainya.

Waterspout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti suatu belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari suatu awan jenis cumulus congestus atau cumulonimbus.

Fenomena ini tidak bertahan lama dan tidak ada potensi perpindahan dari air menuju darat. Karena tidak adanya dukungan kelembaban air yang dihasilkan oleh yang dihasilkan dari permukaan air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga menjelaskan hal serupa. Nanda Alfuadi menjelaskan fenomena waterspout yakni pusaran angin yang terjadi dari awan Cumulonimbus di atas permukaan air. Waterspout memiliki mekanisme pembentukan dan ciri yang sama dengan tornado.

Nanda menjelaskan tornado adalah fenomena angin yang berputar secara vertikal dari awan Cb di atas permukaan daratan. Tornado terjadi akibat perbedaan suhu udara di wilayah pembentukan tornado tadi yang lebih hangat dibandingkan lingkungannya.

Melansir CNN, fenomena Waterspout sering dikenal sebagai tornado landspouts. Fenomena ini dikenal tidak berbahaya dan berada pada lokasi radius cenderung kecil dan tidak harus disertai cuaca buruk untuk memicu tornado Waterspout.

Dilansir Accuweather, fenomena Waterspout tidak dapat berkembang jika tidak adanya badai petir di area tersebut. Meskipun tornado ini terbilang lemah, Waterspout juga cukup kuat untuk menjungkirbalikkan perahu jika terjadi di lautan. Namun pada tornado jenis ini hanya bertahan beberapa menit saja.

(can/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK