Polemik Pengambilan Data, Riuh Tagar Uninstall Whatsapp

CNN Indonesia | Minggu, 24/01/2021 23:48 WIB
Whatsapp menjadi buah bibir netizen di awal 2021 karena rencana aturan privasi baru aplikasi pertukaran pesan itu untuk para penggunanya. Ilustrasi whatsapp. Whatsapp berencana menerapkan aturan privasi baru aplikasi pertukaran pesan itu untuk para penggunanya.(CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Whatsapp menjadi buah bibir netizen di awal 2021 karena rencana aturan privasi baru aplikasi pertukaran pesan itu untuk para penggunanya di dunia.

Sedianya kebijakan privasi itu yang mendesak pengguna menyetujui pemberian data kepada Facebook itu berlaku 8 Februari, namun Whatsapp menyatakan menunda pelaksanaannya. Dalih whatsapp, pada 15 Januari lalu, penundaan itu untuk menjernihkan misinformasi seputar cara kerja privasi dan keamanan aplikasi.

Meskipun demikian, di dunia maya--utama Twitter--telah ramai gerakan seruan dengan menggunakan tanda pagar (tagar/#) UninstallWhatsapp.


Lewat tagar tersebut, mereka 'melawan' langkah Whatsapp yang 'memaksa' pengguna untuk setuju membagi data mereka dengan Facebook jika ingin tetap menggunakan layanannya.

Pemberitahuan muncul saat pengguna membuka Aplikasi. Jika tak setuju dengan pembaruan, pengguna bisa menghapus akun.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Minggu (24/1), ragam kicauan dari netizen di Twitter lewat #UninstallWhatsapp. Beberapa di antaranya ada yang membagikan dengan aplikasi pertukaran pesan lain yang kalah populer dibandingkan Whatsapp seperti Line.

Adapula yang membandingkannya dengan apliksi pertukaran pesan lain yang saat ini menjadi pesaing Whatsapp seperti Telegram dan Signal.

Salah satunya seperti yang dikicaukan @autumnsair yang meminta para profesor untuk bermigrasi ke Telegram atau Line.

Atau, @cheezedjk yang menyatakan sudah bermigrasi ke Signal.

Dan, ada pula yang menyebut Whatsapp akan serupa nasibnya dengan Blackberry Messenger (BBM). Diketahui, BBM yang pernah merajai pertukaran pesan ponsel hingga awal dekade 2010an , keberadaannya kemudian terdepak oleh Whatsapp.

Salah satunya seperti yang diungkap @thomsar6 dengan mempersonifikasi BBM yang memberikan sambutan kepada Whatsapp karena akan memiliki nasib sama seperti dirinya.

Atau, @nurudinwriter yang menyindir seruan #UninstallWhatsapp dengan pertanyaan apakah mau kembali ke BBM saja.

Namun, ada pula yang memberikan edukasi soal penggunaan aplikasi pada kicauan bertanda #UninstallWhatsapp. Salah satunya Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto yang merilis lagi edukasi. Damar juga berpesan agar Utamakan ubah perilaku (keamanan digital) dulu, baru kemudian migrasi ke platform komunikasi yang menghargai privasi.

"Hati-hati pilih platform pengganti ya," kicau dia.

Atau, @Santosh00685 yang mempertanyakan dalih Whatsapp soal rencana membagikan informasi dengan Facebook.

Sementara itu, setelah memutuskan menunda pelaksanaan kebijakan privasi baru jadi 15 Mei 2021, Whatsapp menyatakan secara bertahap akan berusaha lebih lagi untuk menjernihkan misinformasi seputar cara kerja privasi dan keamanan aplikasi.

WhatsApp mengaku telah menerima masukan dan pertanyaan dari banyak pengguna bahwa pembaruan kebijakan privasi kurang jelas. Perusahaan juga menemukan banyak misinformasi beredar yang menyebabkan kekhawatiran.

Global Head WhatsApp, Will Cathcart menegaskan perusahaan sangat serius terhadap privasi dan keamanan obrolan. Pembaruan itu diklaim tidak mempengaruhi privasi pesan pribadi pengguna dengan teman dan keluarga dengan cara apa pun.

Cathcart menyadari pembaruan telah menyebabkan kebingungan. Namun, pihaknya telah melakukan segala cara untuk meyakinkan pengguna bahwa data mereka tidak disalahgunakan.

(kid/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK