Vaksin Moderna Akui Lemah Lawan Mutasi Baru Corona Afsel

CNN Indonesia | Selasa, 26/01/2021 14:14 WIB
Vaksin Moderna mengklaim ampun melawan mutasi baru Covid-19 di Inggris, namun untuk varian baru Afrika Selatan masih hadapi kelemahan. Ilustrasi vaksin Covid-19 Moderna. (AP/Ted S. Warren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Produsen vaksin asal Amerika Serikat (AS) Moderna mengklaim vaksin Covid-19 buatannya mampu melindungi terhadap varian baru yang ditemukan di Inggris. Namun tidak pada mutasi di Afrika Selatan.

Moderna mengatakan tidak menemukan pengurangan respon antibodi terhadap varian Covid-19 yang ditemukan di Inggris. Namun pada varian Covid-19 baru asal Afrika Selatan (Afsel), Moderna menemukan respons yang berkurang terhadap vaksinnya.

Munculnya varian baru di kedua negara itu menimbulkan kekhawatiran bahwa fungsi vaksin kurang efektif. Moderna menambahkan, kini pihaknya akan mempertimbangkan rancangan vaksin terbaru jika ditemukan adanya perlindungan yang menurun seperti kasus di Afsel.


"Virus tidak akan berhenti, sementara strain saat ini tampaknya dilindungi dengan baik oleh vaksin COVID-19 kami. Penting bagi kami untuk terus mengembangkan penelitian dan tindakan pencegahan untuk mengalahkan pandemi," kata Presiden Moderna Stephen Hoge mengutip Reuters, Selasa (26/11).

Moderna berharap vaksinnya saat ini akan tetap protektif setidaknya selama satu tahun untuk melawan Covid-19.

Kendati demikian, pakar penyakit menular Universitas Pennsylvania Amerika Serikat (AS), Paul Offit mengaku khawatir vaksin Moderna tidak mampu berikan proteksi terhadap varian baru virus Covid-19 .

"Agak mengkhawatirkan jika Anda melihat respons antibodi yang lebih rendah, tetapi itu tidak berarti bahwa Anda tidak terlindungi," katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tingkat yang terbilang rendah itu memang masih mungkin cukup untuk melindungi tubuh dari infeksi dengan gejala yang serius.

"Tujuan dari vaksin ini untuk menjauhkan pasien dari rumah sakit dan kematian (jika terinfeksi virus). Agar, jika pasien mengalami infeksi tidak membebani tim medis," tambahnya.

Produsen Pfizer dan BioNTech sebelumnya juga mengklaim uji laboratorium vaksin mereka efektif terhadap varian yang ditemukan di Inggris, tetapi belum mengungkapkan hasil terhadap varian baru Covid-19 Afrika Selatan.

Varian Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Inggris telah membuat lonjakan besar kasus positif, dan juga telah ditemukan di berbagai negara bagian AS. Otoritas kesehatan AS mengatakan, varian asal Inggris menjadi varian Covid-19 yang dominan tersebar di Amerika Serikat dalam enam minggu terakhir.

Melansir NYTimes, Departemen Kesehatan Minnesota telah mengkonfirmasi adanya varian Covid-19 terbaru itu. Ia mengatakan, kasus varian virus Covid-19 yang lebih menular terkonfirmasi di Minnesota.

Kasus tersebut teridentifikasi pada seorang penduduk yang baru melakukan perjalanan dari Brasil. Namun menurut otoritas setempat, mutasi baru virus Covid-19 itu mungkin belum beredar luas.

Anthony S. Fauci, penasihat Covid-19 untuk Presiden AS Joe Biden mengatakan hanya masalah waktu yang dapat mendeteksi mutasi baru Covid-19 di Amerika Serikat.

"Dengan banyaknya perjalanan penduduk dan tingkat efisiensi transmisibilitas, bukanlah hal yang mengherankan," ucapnya.

(can/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK