Positif Nyaris 1 Juta, Ahli Sebut Imbas Wisata-Lemah Deteksi

CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 16:32 WIB
Kasus positif Covid-19 RI nyaris tembus 1 juta kasus, ahli sebut sebagai imbas wisata dan lemah deteksi mutasi virus corona. Ilustrasi (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan, tingginya kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga hampir menyentuh 1 juta kasus menunjukkan kelemahan pemerintah untuk membatasi gerak masyarakat di sektor wisata dan pendeteksian mutasi virus corona.

Salah satu indikasinya ketika pemerintah mengendurkan aturan yang membolehkan masyarakat untuk berwisata ke Bali.

"Ini udah keliatan begitu pertama kali Bali dibuka, Bali tadinya rendah, begitu banyak orang bepergian di Bali, langsung 2 minggu setelah itu Bali angka kasusnya tinggi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/1).


Pandu menyebut sudah lama memprediksi Indonesia akan menembus angka 1 juta kasus positif Covid-19. Namun, menurutnya angka 999 ribu itu hanyalah mereka yang terdeteksi posirif lewat tracing. Ia meyakini angka 1 juta kasus akan tembus hari ini.

"Kalau engga tembus mungkin laporannya ditunda, nanti di rapel minggu depan. Kadang kan laporanya suka ditunda, testingnya di teken-teken. Tapi 'kan virus ini tidak bisa dibohongi," ujarnya sambil tertawa.

Deteksi virus keharusan

Lebih lanjut Pandu menjelaskan, Indonesia jadi negara yang selalu terlambat dalam penanganan mutasi virus corona karena tidak melakukan sequencing genom secara rutin, untuk mendeteksi perubahan strain virus yang selalu dinamis.

Agar lebih gencar melakukan pendeteksian mutasi virus corona, beberapa waktu lalu Kemenristek dan Kemenkes melakukan kolaborasi agar laboratorium yang sanggup lakukan sequencing virus berjejaring.

Pandu mengatakan, penelitian strain virus Covid-19 harus rutin dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab lonjakan kasus. Ia mengatakan, di Inggris dan negara lain sudah rutin penelitian sebulan sekali, bahkan seminggu sekali untuk mengetahui apakah lonjakan kasus terpengaruh oleh mutasi dan varian virus baru atau tidak.

"Kita selalu terlambat. Seharusnya mereka melakukan genom sequencing (pemeriksaan) produk genetik di indonesia setiap minggu, atau setiap 2 minggu sekali. Karena virus ini sangat mudah sekali bermutasi," ucapnya.

Pemeriksaan genom juga kerap dilakukan oleh negara tetangga, yaitu Singapura. Negara tersebut menemukan strain baru Covid-19 pada mahasiswa yang pulang dari Inggris dengan membawa mutasi virus Covid-19. Pandu menilai, langkah ini merupakan cara yang sigap dalam menangani pandemi.

Mengacu pada gelombang 2 lonjakan kasus positif dan kematian di Inggris, Pandu menilai hal itu disebabkan adanya mutasi virus yang harus diteliti lebih serius.

"Seperti kejadian di inggris. Kok, gelombang ke 2 sangat tinggi kasusnya. Wah, ini gak mungkin akibat perilaku manusia sedemikian abainya kepada prokes. Tetapi mereka aktif penelitian genom, jadi bisa disimpulkan penyebabnya," ucap Pandu.

Disamping itu ia juga mengkritik Presiden Jokowi yang kurang tegas dalam mengatur pola masyarakat yang kerap abai memakai masker.

"Seharusnya Presiden tuh mengeluarkan peraturan wajib pakai masker di seluruh Indonesia. Kalau gak punya masker ya dikasih," ucapnya.

(can/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK