Ahli Sebut Potensi Gelombang Baru Corona Muncul 2022

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 17/02/2021 07:34 WIB
Ilmuwan Universitas Michigan, Siddharth Chandra mengatakan penurunan kasus Covid-19 dalam beberapa waktu ini bisa jadi bukan pertanda pandemi akan berakhir. Seorang pria melakukan test swab untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang baru pandemi Covid-19 diprediksi akan terjadi pada akhir 2021 atau awal 2022. Prediksi itu muncul berdasarkan pengalamannya meneliti penyakit influenza di Michigan, Amerika Serikat (AS) tahun 1918.

Ilmuwan Michigan State University, Siddharth Chandra mengatakan penurunan kasus Covid-19 yang terjadi dalam beberapa waktu ini bisa jadi bukan pertanda pandemi akan berakhir. Penelitian dilakukan Chandra dan rekan telah diterbitkan di American Journal of Public Health.

"Hal-hal buruk masih bisa terjadi satu atau dua tahun dari sekarang meskipun kami melihat penurunan jumlah kasus sekarang," ujar Chandra dilansir dari Futurity.


Chandra telah mempelajari penyakit influenza pada 1918 yang menewaskan sekitar 15.000 penduduk Michigan, AS selama satu dekade. Menggunakan data dari tahun 1918-1920, Chandra mengidentifikasi ada empat gelombang yang berbeda selama penyakit menyebar di wilayah tersebut.

Pertama, gelombang puncak pertama terjadi pada Maret 1918. Kemudian terjadi lonjakan kasus kedua yang jauh lebih besar pada Oktober 1918, yang membuat gubernur Michigan memberlakukan larangan pertemuan publik di seluruh negara bagian.

"Sama seperti pembatasan yang diberlakukan selama pandemi Covid-19," ujarnya.

Setelah tiga minggu dari gelombang kedua, jumlah kasus menurun dan larangan dicabut. Namun, kebijakan itu menyebabkan puncak baru pada Desember 1918.

"Larangan itu tidak menghentikan penyebaran flu. Ini hanya menunda lonjakan kasus," ujar Chandra.

Setelah tiga gelombang itu, Chandra menyampaikan gelombang baru dengan jumlah kasus lebih tinggi dari gelombang sebelumnya terjadi 18 bulan kemudian atau pada Februari 1920. Jumlah kasus pada gelombang itu lebih tinggi dari Oktober 1918.

Mengutip MSU, gelombang baru pendemi influenza diduga disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya cuaca dingin. Dia mengatakan suhu dingin dengan kelembaban rendah kemungkinan besar memberikan kondisi optimal bagi virus untuk hidup dan menyebar.

Faktor lain yang memperparah penyebaran adalah tidak ada vaksin di masa itu.

"Pada 1918, tidak ada harapan untuk vaksin. Di 2021, kita memiliki vaksin yang tersedia," katanya.

Belajar dari pengalaman pandemi influenza 1918, ada kemungkinan lonjakan seperti Februari 1920 akan terjadi pada akhir 2021 atau awal 0222.

"Begitu banyak orang akan tetap rentan sampai mereka mendapatkan vaksin," ujar Chandra.

(mik/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK