GeNose Dipakai di Bandara, Ahli Tagih Kajian Ilmiah

CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 08:13 WIB
Ahli tagih hasil kajiaan dan publikasi ilmiah GeNose yang bakal mulai digunakan di bandara dan pelabuhan, selain di stasiun. GeNose akan digunakan di bandara, stasiun, dan pelabuhan (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli epidemiologi menagih hasil publikasi ilmiah GeNose yang kini diperluas penggunaannya tak hanya di stasiun, tapi juga di bandara dan pelabuhan.

Hal ini diungkap Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI),Pandu Riono, menanggapi kebijakan Kementerian Perhubungan yang menyiapkan penerapan GeNose pada transportasi laut dan udara selain di stasiun.

"Belum ada (kajian ilmiah lanjutan). Apakah timnya Pak Kuwat melakukan tersebut? Beliau janji mau melakukan tapi tidak dilakukan," jelas Pandu saat ditanya apakah sudah ada hasil evaluasi GeNose di stasiun, Rabu (24/2).


Lebih lanjut menurut Pandu, sebelumnya GeNose sudah sempat dipublikasikan secara terbatas sebagai bahan evaluasi Kementerian Kesehatan untuk izin penggunaan GeNose di stasiun.

Namun, menurutnya banyak hal yang harus diperbaiki dalam laporan tersebut.

"Tidak jelas, laporan final uji yang lalu banyak salah. Belum diperbaiki," tuturnya lagi.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai koreksi yang harus dilakukan pada laporan itu, menurut Pandu GeNose masih harus melanjutkan uji validasi.

"Laporan yang ada belum cukup membuktikan bahwa alat tersebut cukup akurat untuk skrining," ujarnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Profesor Kuwat Triyana, inventor GeNose dari Fakultas MIPA, Universitas Gajah Mada menyebut publikasi kajian ilmiah GeNose masih berjalan.

"Ditunggu saja, kita belum istirahat," tulisnya saat dihubungi lewat pesan teks.

Namun, ia belum menjawab lebih lanjut ketika ditanya perkiraan kapan publikasi keluar.

Terkait dengan hasil studi efektivitas GeNose yang telah dipakai bagi penumpang kereta api. Kuwat menyebut tak memegang data tersebut dan harus dikonfirmasi kepada PT KAI.

Pandu juga meminta publikasi segera dikeluarkan agar penggunaan alat itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Beliau banyak janji sebelum dipakai secara luas, agar bisa dipertanggungjawabkan aspek keilmuan dan kemanfaatannya," katanya.

Dikritik Cuma Motif Ekonomi

Lantaran minim publikasi ilmiah, Pandu mengkritik kebijakan GeNose yang digunakan di stasiun, bandara, dan pelabuhan diterapkan atas dasar motif ekonomi.

"Ya kalau dipakai juga ngga ada manfaatnya untuk pencegahan penularan, dan itu bukan niatnya pemerintah tapi meningkatkan penggunaan moda transportasi udara, hanya motif ekonomi," tandasnya.

Padahal menurut Pandu, pemerintah mestinya belajar dari kesalahan kebijakan tahun lalu di sektor transportasi.

Saat itu menurutnya pengetesan menggunakan rapid test antibodi yang tak akurat membuat penularan terus terjadi.

GeNose rencananya akan mulai diterapkan di Pelabuhan Tanjung Priok akhir April ini secara acak (random). Sementara, untuk sektor udara atau pesawat akan mulai diterapkan pada 1 April 2021 mendatang.

Budi mengatakan perluasan penerapan GeNose di dua moda transportasi itu dilakukan setelah pihaknya mencermati penggunaan alat tes itu di kereta.

Namun, alih-alih menyebut tingkat efektivitas alat ini mendeteksi Covid-19, ia malah menyebut dasar pengambilan kebijakan penerapan GeNose di bandara dan pelabuhan karena animo masyarakat.

"Di kereta api, animo masyarakat untuk menggunakan GeNose sangat bagus dan saat ini para pemangku kepentingan di sektor perhubungan laut dan udara juga menginginkan penggunaan GeNose," kata Budi dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa (23/2).

Budi menambahkan penerapan GeNose di simpul-simpul transportasi diperlukan agar masyarakat mendapatkan akses terhadap alat pendeteksi (screening) Covid-19 yang lebih terjangkau.

(eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK