ANALISIS

Alat Deteksi Covid-19 RI yang Terburu-buru, Minim Publikasi

CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2021 13:00 WIB
Ahli menilai inovasi yang berkaitan dengan Covid-19 di Indonesia memang baik, tapi terkesan tertutup dan minim publikasi. Ilustrasi alat deteksi Covid-19 RI GeNose. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2 di Indonesia telah berlangsung hampir setahun sejak kasus pertama teridentifikasi. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut, salah satunya dengan menciptakan alat pendeteksi virus tersebut.

Alat pendeteksi yang paling populer buatan dalam negeri adalah GeNose C19. Alat pendeteksi berbasis embusan napas yang dibuat oleh Universitas Gadjah Mada itu diklaim memiliki sensitivitas 92 persen dan spesifisitas 95 persen.

Inovasi lain yang muncul saat pandemi misalnya ventilator, Mobile Laboratory BSL-2, rapid test non-PCR, hingga robot untuk membantu merawat pasien. Berdasarkan laman Kemenristek/ BRIN, lebih dari 60 inovasi yang ada di Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.


Epidemilog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai inovasi yang berkaitan dengan Covid-19 di Indonesia adalah hal yang baik. Namun, dia menilai inovasi yang ada di Indonesia terkesan tertutup dan terburu-buru.

"Cara-cara atau lompatan-lompatan yang kemudian tidak berhati-hati, cepat cari kesimpulan itu yang menurut saya sangat potensial membahayakan pmasalah penularan di Indonesia sudah sangat tinggi ini," ujar Pandu kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/2).

GeNose misalnya, dia sama sekali tidak menemukan karya ilmiah yang memuat hasil penelitian alat tersebut. Padahal, dia berkata alat tersebut perlu ditinjau oleh peneliti lain agar benar-benar akurat ketika digunakan.

Pandu menuturkan alat deteksi dengan embusan napas seperti GeNose bukan hal baru. Sejumlah negara telah mengembangkan alat seperti itu sebelum adanya pandemi Covid-19.

Namun, negara lain tidak mengandalkan alat itu karena merasa perlu diteliti lebih lanjut. Sebab, banyak faktor yang mempengaruhi sebuah gas di dalam tubuh yang dikeluarkan lewat embusan napas, misalnya dari pola makan hingga kesehatan gigi dan mulutnya.

"Banyak negara yang masih tidak yakin manfaatnya untuk skrining," ujarnya.

Lebih lanjut, Pandu berkata kementerian/lembaga di Indonesia latah terhadap sesuatu. Misalnya, dia melihat menteri dan kepala lembaga baru benar-benar berinovasi ketika diperintah Presiden Joko Widodo.

"Pokoknya hampir semua kementerian berusaha untuk menyenangkan Pak Jokowi. Tugas menteri-menteri kan menyenangkan Pak Jokowi supaya tidak dicopot," ujar Pandu.

Pandu juga melihat ada glorifikasi pada inovasi di Indonesia. Selain terhadap GeNose, dia mengingat glorifikasi juga terjadi ketika Kementerian Pertanian mengklaim menemukan alat yang bisa menangkal Covid-19 berbasis minyak kayu putih.

Tak hanya hingga ketika Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara menemukan obat Covid-19.

"Padahal semua ngaco dari segi metodologi, dari segi pengembangan, dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang harus benar. Walaupun darurat, prinsip yang benar harus diikuti. Kalau tidak akan menimbulkan kekacauan," ujarnya.

Pandu meningkatkan pengetesan adalah satu strategi pengendalian pandemi. Jika hal itu dilakukan dengan alat yang tidak tepat, dia khawatir orang positif yang dinyatakan negatif akan berkeliaran.

"Itu yang tidak dipahami," ujar Pandu.

Penelitian Covid-19 RI Minim Publikasi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK