Vaksin Pfizer Diklaim Bisa Cegah Kematian Sejak Dosis Pertama

CNN Indonesia | Jumat, 26/02/2021 06:41 WIB
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech diklaim melindungi penerima dari gejala serius dan kematian sejak dosis pertama. Ilustrasi vaksin corona Pfizer. (AFP/JUSTIN TALLIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech diklaim melindungi penerima vaksin dari gejala serius dan kematian sejak dosis pertama, seperti yang dilakukan dalam uji klinis.

Dari hasil yang dipublikasikan pada Rabu (24/1) di Israel, memberikan jaminan bahwa manfaat vaksin sudah terlihat dalam uji coba dalam lingkup kecil, dan tetap efektif saat digunakan secara lebih meluas dengan berbagai usia dan kondisi kesehatan.

Sebuah studi menemukan bahwa vaksin tersebut mengurangi gejala hingga 94 persen dan mengurangi penyakit parah hingga 92 persen dalam waktu seminggu, setelah dosis kedua disuntikkan.


Studi tersebut diteliti oleh beberapa lembaga yaitu Clalit Research Institute, badan penelitian H.M.O bekerja sama dengan para ahli dari Universitas Harvard dan Rumah Sakit Anak Boston.

Namun hasil studi menyatakan bahwa hasil suntikan pertama hanya dapat mencegah kematian 72 persen. Angka yang dapat meningkat seiring bertambahnya sistem imun dari waktu ke waktu.

Studi tersebut menjadi pemeriksaan berskala besar pertama yang ditinjau oleh sejawat dalam penggunaan secara umum. Hal ini mencakup lebih dari satu juta orang berusia 16 tahun ke atas. Hampir sekitar 600 ribu di antaranya telah divaksinasi.

"Anda tidak pernah yakin, setelah uji coba apakah akan terlihat seperti ini di dunia nyata?" ujar Phil R. Dormitzer, wakil presiden dan kepala petugas ilmiah vaksin virus di Pfizer seperti dikutip NY Times.

Kampanye penyuntikan vaksin dengan cepat telah melampaui vaksin SARS-CoV-2 di seluruh dunia. Ini membuat negara tersebut sebagai laboratorium uji untuk vaksin Pfizer-BioNTech dosis dua.

Lebih dari setengah penduduk negara itu telah menerima dosis pertama, dan lebih dari sepertiganya telah menerima vaksin Covid-19 dosis kedua.

Israel memiliki perawatan kesehatan yang universal, dan sekitar 53 persen populasinya terdaftar di Layanan Kesehatan Clalit, yang memberi para peneliti akses ke sejumlah data yang digunakan untuk memastikan kesimpulan yang tepat.

"Tantangan utama adalah memastikan studi yang kami bandingkan untuk mengidentifikasi efek vaksin dalam karakteristik lain, dapat memprediksi apakah mereka terinfeksi saja atau sakit bergejala," kata Marc Lipsitch dari Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Menurut Ran Balicer pemimpin lembaga penelitian Clait dan penulis studi tersebut, pihaknya memiliki catatan medis lebih dari 20 tahun yang disimpan secara digital.

Studi tersebut melibatkan sekitar 22.000 penerima vaksin berusia 80 hingga lebih, sampel yang jauh lebih besar dari kategori berisiko tinggi daripada yang dimiliki Pfizer dalam uji klinis.

Pada studi terbaru menunjukkan tidak ditemukan penurunan efektivitas vaksin di antara orang tua.

"Penelitian ini adalah contoh tentang bagaimana uji coba acak dan database perawatan kesehatan saling melengkapi," ujar Miguel Hernán Peneliti Harvard University.

Studi dimulai ketika Israel memulai program vaksinasi pada 20 Desember 2020, dan berlanjut hingga 1 Februari 2021. Periode ketika Israel sedang melalui gelombang infeksi ketiga dan bersamaan ketika varian varian B.1.1.7, pertama kali terdeteksi di Inggris menjadi dominan kasus baru di Israel.

Studi tersebut menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif melawan varian baru asal Inggris itu.

Dikutip Times of Israel, vaksin yang dibuat oleh Pfizer dan mitranya di Jerman BioNTech diberikan dalam dua suntikan dengan jarak tiga minggu dari suntikan pertama.

Vaksin tersebut diperkirakan 57 persen efektif mencegah gejala COVID-19 dua hingga tiga minggu setelah dosis pertama. Efektivitas vaksin naik menjadi 94 persen seminggu atau lebih setelah dosis kedua.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK