LAPAN: Hujan Makin Berkurang di Jakarta Imbas Vorteks Borneo

CNN Indonesia | Senin, 01/03/2021 11:23 WIB
LAPAN ungkap penyebab intensitas hujan berkurang di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Jabodetabek sejak 22 Februari. Ilustrasi hujan dan banjir di Bandung. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti PSTA Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) LAPAN Erma Yulihastin, mengatakan pelemahan konveksi berkurangnya intensitas hujan di bagian barat Indonesia termasuk Jabodetabek disebut akibat adanya aktivitas Vorteks Borneo yang berlangsung pada 22 Februari 2021.

"Kondisi ini berlangsung hingga 22 Februari, dan menjadi penyebab cuaca yang cenderung cerah selama dua hari wilayah di Jawa bagian barat pada 21-22 Februari," ujar Erma melalui pernyataan tertulis (28/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan pada 23 Februari terbentuk siklon tropis (TC 98S) di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara, yang menarik udara sehingga terjadi peningkatan angin baratan yang signifikan di Jawa bagian tengah dan timur.


Pergerakan angin kencang ini, menurutnya, membentuk awan dan hujan yang berdampak tidak terjadinya hujan di pulau Jawa bagian barat.

Seiring dengan pergerakan TC 98S ke arah barat pada 24-25 Februari, kata dia, angin dari utara berasosiasi dengan aktivitas Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) mulai terbentuk, dan mencapai kekuatan maksimal pada 26 Februari, sehingga kembali menyebabkan hujan dinihari dengan intensitas sedang di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Erma walaupun sempat terjadi hujan tetapi tidak berpotensi hujan ekstrim yang menimbulkan banjir. Namun, cenderung menimbulkan angin kencang akibat pergerakan angin dari utara yang bergerak dengan cepat.

"Angin dari utara Jakarta mengalami pergerakan cepat melalui daratan Jakarta sehingga menggagalkan konvergensi. Angin kencang inilah yang sempat terasa di daerah Cilincing, Jakarta Utara pada Jumat lalu," ujarnya.

Ia mengatakan Kejadian angin kencang di Cilincing, Jakarta utara ini sebelumnya sudah diprediksi dengan baik oleh Decision Support System (DSS), Satellite based Disaster Early Warning System (SADEWA) milik LAPAN.

SADEWA merupakan sistem peringatan dini atmosfer ekstrim berbasis satelit dan model atmosfer yang dikembangkan litbang LAPAN untuk mendukung riset atmosfer.

Sebelumnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menurunkan tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai Minggu (21/2).

TMC yang dilakukan untuk mencegah fenomena siklon tropis yang memicu tingginya curah hujan di wilayah Jabodetabek yang diprediksi sampai Kamis (25/2).

TMC menggunakan pesawat khusus yang membawa ribuan kilogram garam yang ditabur ke awan yang berpotensi hujan lebat. Garam disebar di wilayah Banten, kedua ke bagian barat Jawa Barat, ketiga Selat Sunda lalu kembali ke Lanud Halim Perdanakusuma.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK