Fakta 3 Gempa Selandia Baru yang Berujung Peringatan Tsunami

CNN Indonesia | Jumat, 05/03/2021 15:14 WIB
BMKG mengatakan tiga rentetan gempa kuat itu terjadi di kedalaman dangkal jalur tunjaman Kermadec, Selandia Baru Kamis hingga Jumat (5/3) dini hari. Ilustrasi peringatan tsunami dan gempa di Selandia Baru. (AFP/DAVID ROWLAND)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menjelaskan fakta-fakta gempa yang sempat memicu peringatan dini tsunami di kawasan Pasifik Selatan hingga Selandia Baru.

Menurut Daryono fenomena itu masuk dalam skala gempa besar hingga dahsyat. Ia mengatakan tiga rentetan gempa kuat itu terjadi di kedalaman dangkal jalur tunjaman Kermadec, Selandia Baru Kamis malam (4/3) hingga Jumat (5/3) dini hari.

"Serangkaian gempa kuat dengan kedalaman dangkal terjadi jalur tunjaman Kermadec, Selandia Baru, sepanjang Kamis malam hingga Jumat pagi dini hari," ujar Daryono melalui keterangan tertulis (5/3).


Ia mengatakan gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,3 terjadi pukul 20.27 WIB berpusat di laut yang berjarak 174 km arah timur laut Gisborne. Gempa kedua terjadi pada pukul 00.41 WIB dengan kekuatan magnitudo 7,4 dan gempa ketiga terjadi pukul 02.28 WIB berkekuatan magnitudo 8,1.

Menurut Daryono gempa kedua dan ketiga ini juga berpusat di laut tetapi lebih dekat dengan Kepulauan Kermadec, yang berjarak sekitar 1.000 kilometer sebelah timur laut Selandia Baru.

Ketiga gempa besar ini, kata dia, berpusat di bidang antar lempeng, yaitu Lempeng Pasifik yang menunjam ke bawah Lempeng Australia, dengan laju penunjaman mencapai 60 milimeter per tahun.

Badan Manajemen Darurat Nasional (NEMA) Selandia Baru sempat meminta penduduk yang ada di sepanjang pantai timur Selandia Baru untuk melakukan evakuasi mulai dari wilayah Bay of Islands hingga Whangarei, Matata hingga Teluk Tolaga termasuk Whakatane dan Opotiki, dan Great Barrier Island ke tempat yang lebih tinggi.

Namun menurutnya hasil pemodelan tsunami menunjukkan tsunami tidak akan berdampak hingga di wilayah Indonesia.

Daryono mengatakan Selandia Baru merupakan kawasan rawan tsunami. Sejarah mencatat tsunami signifikan yang memiliki tinggi lebih dari 1 meter sudah terjadi sebanyak 14 kali sejak tahun 1212. Yaitu pad yaitu tsunami tahun 1215, 1545, 1820, 1826, 1855, 1868, 1877, 1913, 1929,1931, 1946, 1947, 1960, dan terbaru 2016.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK