4 RS di Yogya Kembangkan Obat Covid dari Minyak Kelapa Murni

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 03:34 WIB
Salah satunya Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Empat rumah sakit di Yogyakarta tengah mengembangkan obat virus corona dari bahan dasar minyak kelapa murni (iStockphoto/fcafotodigital)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Empat rumah sakit di Yogyakarta tengah melakukan penelitian terapi penyembuhan virus corona (Covid-19) menggunakan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).

Keempat rumah sakit tersebut adalah RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RSUD Wonosari, serta RSUD Sleman.

Pakar Pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr. Sardjito, Ika Trisawati mengatakan upaya penemuan obat untuk mendukung pengobatan Covid-19 terus dilakukan oleh para peneliti di berbagai belahan dunia. Salah satunya memanfaatkan bahan alam atau herbal, termasuk VCO.


Penggunaan VCO dalam terapi Covid-19 dilatarbelakangi kandungan dalam minyak tersebut yang diketahui memiliki antivirus yang baik seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) serta derivatnya.

"VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus," jelas Ika dalam webinar Uji Klinis dan Penanganan Covid-19 yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Herbal FKKMK UGM, Kamis (15/4).

Seperti pada sabun, lanjut Ika mencontohkan, VCO bekerja dengan merusak membran sel pada virus. VCO masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin yang saat berinteraksi dengan membran sel virus bakal merusak lapisan lipid pada sel tersebut.

Dengan begitu, membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.

Dalam pilot studi di empat rumah sakit tersebut, Ika mengungkap hasil yang signifikan (p<0,05) dari penggunaan VCO dalam menurunkan TNF α pada kelompok VCO dibandingkan plasebo.

Selain itu, ada penurunan marker inflamasi antara lain CR, ferritin, dan IL6, walaupun secara statistik tidak siginifikan.

Temuan lain menunjukkan adanya penurunan D Dimer atau fragmen protein yang muncul saat bekuan darah larut dalam tubuh, serta ferritin yang signifikan (p<0,05). Baik sebelum maupun setelah intervensi VCO. Lalu terjadi penurunan CRP, IL6 dan procalcitonin, meski tak signiffikan.

"VCO dapat menurunkan marker inflamasi pada penderita Covid-19 sehingga diharapkan dapat mencegah perberatan penyakit," paparnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Reri Indriani menambahkan, terdapat potensi bahan alam yang cukup berlimpah dengan lebih dari 30 ribu spesies tanaman di Indonesia.

Data Riset Obat dan Jamu menunjukkan, dari spesies tanaman yang ada, 2.848 di antaranya adalah tumbuhan obat yang tersebar pada 405 etnis di 34 provinsi.

"Potensi bahan alam Indonesia memberi peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai produk jamu, maupun obat herbal terstandar dan fitofarmaka, termasuk sebagai terapi adjuvan Covid-19," imbuhnya.

BPOM, lanjutnya, mendampingi penelitian herbal terkait Covid-19. Sejauh ini ada 15 penelitian yang memanfaatkan bahan alam. Uji klinik dua di antaranya telah rampung.

Rinciannya, 4 penelitian dalam tahapan uji klinik; 5 penelitian tahap penyusunan protokol uji klinik; 1 penelitian tahap uji pra klinik; dan 3 penelitian dalam tahap penyusunan protokol uji pra klinik. Untuk uji pra klinik ditujukan sebagai anti inflamasi, daya tahan tubuh, antipiretik dan anti Covid-19.

Reri menyampaikan ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik selama prosesnya. Misalnya, kendala menemukan hewan model yang mampu menggambarkan patofisiologi Covid-19 pada manusia secara menyeluruh saat uji praklinik.

Tahapan uji klinik juga bukan perkara gampang ketika dilakukan di tengah pandemi, mengingat banyak faktor yang bisa mempengaruhi validitas hasil akhir. Persoalan lain, meliputi ukuran sampel, populasi subjek, hingga kategori subjek.

Belum lagi faktor manifestasi klinik pasien Covid-19 yang beragam, sehingga menuntut peneliti lebih cermat dalam menentukan definisi operasional perbaikan gejala klinis.

Dengan besarnya potensi bahan alam yang ada, ditekankan Reri, penemuan dan pengembangan obat herbal perlu terus didorong hingga menuju hilirisasi produk. Perlu pula dukungan dan sinergi, termasuk dari para akademisi dan perguruan tinggi.

"BPOM pun akan selalu hadir mendukung upaya hilirisasi produk obat bahan alam," ujarnya.

(kum/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK