Perubahan Iklim yang Masih Menjadi Momok di Tengah Covid-19

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 19:36 WIB
Hari Bumi dirayakan setiap 22 April 2021. Perubahan iklim masih terjadi saat pandemi Covid-19 masih sangat mengkhawatirkan. Ilustrasi perubahan iklim dunia. (Foto: AP/Fernando Vergara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan iklim masih terjadi saat pandemi Covid-19. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berada pada tingkat rekor dan terus meningkat.

Laporan World Meteorological Organization(WMO) menyoroti dampak perubahan iklim yang meningkat dan tidak dapat diubah, yang mempengaruhi gletser, lautan, alam, ekonomi, dan kondisi kehidupan manusia dilansir Unep.org.

Imbasnya, perubahan iklim acap kali berdampak bencana alam seperti banjir dan kekeringan.


Konsentrasi CO2 di atmosfer tidak menunjukkan tanda-tanda pengurangan, justru memuncak dan terus meningkat. WMO melaporkan konsentrasi CO2 di atas 410 ppm selama paruh pertama tahun 2020. pada Juli 2020, naik menjadi 411,74 ppm.

Pengurangan emisi CO2 pada tahun 2020 hanya berdampak kecil pada laju peningkatan konsentrasi atmosfer, yang merupakan dampak dari emisi masa lalu dan saat ini.

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas menyatakan konsentrasi efek rumah kaca yang sudah berada pada level tertinggi dalam 3 juta tahun, saat ini terus meningkat.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Siberia mengalami gelombang panas yang berkepanjangan selama paruh pertama tahun 2020, yang sangat tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim antropogenik.

Dikutip Climate Columbia, sebuah studi baru memprediksi bahwa berdasarkan data di sektor energi, industri dan mobilitas pada tahun 2020, emisi CO2 di tingkat global turun 8 persen atau turun 2,4 miliar ton. Memang angka itu melampaui tingkat penurunan yang tercatat pada tahun 2009

Di Amerika Serikat dan Eropa, tercatat penurunan sekitar 12 persen sepanjang tahun lalu, Prancis mengalami penurunan sebesar 15 persen dan Inggris turun 13 persen.

Meski nampak terlihat seperti kemajuan, pengaruh yang signifikan terhadap perubahan iklim tidaklah cukup.

"Untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer dalam jangka panjang, pembatasan yang diberlakukan selama pandemi harus dilanjutkan selama beberapa dekade. Tetapi ini pun masih jauh dari cukup," ujar penulis studi Ralf Sussmann dari Karlsruher Institut für Technologie.

Menurut Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), pengurangan kumulatif sebesar ini akan dibutuhkan setiap tahun untuk mencapai Perjanjian Paris tentang perubahan iklim pada tahun 2030.

Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yuyun Harmono mengatakan pandemi Covid-19 seolah tidak memberi pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan.

"Harusnya lebih hijau, lebih berkelanjutan, lebih ramah lingkungan. Ternyata yang dilakukan hanyalah biasa-biasa saja." ujar Yuyun kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon (22/4).

Lebih lanjut ia menilai pandemi Covid-19 seolah tidak ada kaitannya dengan persoalan lingkungan, sehingga manusia mendorong pertumbuhan ekonomi terus-menerus.

Menurutnya penurunan sekitar 7 persen emisi di tingkat global dalam setahun ketika pandemi Covid-19 terbilang kecil, kecuali dilakukan dalam jangka panjang selama beberapa tahun.

"Tapikan engga jangka panjang, cuma anomali sedikit aja. Padahal pandemi dampaknya luar biasa," tutup Yuyun.

(can/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK