Alasan Netizen Lebih Asyik Bahas Babi Ngepet Ketimbang BRIN

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 06:22 WIB
Pakar sebut alasan mengapa kasus babi ngepet lebih asyik dibahas oleh netizen ketimbang isu BRIN. Ilustrasi. Pakar sebut alasan mengapa kasus babi ngepet lebih asyik dibahas oleh netizen ketimbang isu BRIN. (istockphoto/t-lorien)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia Firman Kurniawan, mengatakan ada dua hal yang menyebabkan warganet Indonesia cenderung lebih asyik membahas kasus babi ngepet dari pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal ini berdasarkan hasil analisis Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi yang menyampaikan netizen lebih tertarik membahas isu 'babi ngepet' ketimbang BRIN.

Pertama, ia menilai isu BRIN merupakan pembahasan yang elit dan merupakan lembaga yang tidak populer. Orang dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekali pun, belum tentu membahas soal BRIN.


"Terlebih yang mengemuka tentang BRIN soal pelantikan kepala badan yang baru dan diangkatnya Bu Mega sebagai dewan Pembina BRIN," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Kamis (6/5).

Hal ini dibenarkan politikus PDIP sekaligus Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko yang menyebut Presiden Joko Widodo memang telah menunjuk Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Babi ngepet lebih "receh"

Menurut Firman, tidak banyak isu tentang lembaga BRIN tersimpan sebagai memori publik. Sedangkan soal Babi Ngepet, telah hidup sebagai mitos dan tersimpan di pikiran masyarakat.

Isu tersebut, kata dia muncul kembali sebagai berita dengan bungkusan cerita yang baru. Hal ini dianggap memanggil publik sebagai bahan bahasan.

"Terbukti selama beberapa waktu babi ngepet jadi trending topik di media sosial," tuturnya.

Kedua, kata dia di tengah banyaknya informasi yang diproduksi dan didistribusikan oleh publik, informasi harus mampu bersaing untuk bisa menarik perhatian publik secara luas.

Ia menilai cara mengemas informasi yang sensasional, mistis, kontroversial, penuh drama dan mengandung unsur cerita menjadi strategi untuk menampilkan informasi kepada publik.

Di samping itu ia menilai mengkonsumsi informasi dalam jumlah banyak cenderung mengandalkan proses berpikir publik. Hal inilah yang terjadi saat ini.

Firman menjelaskan bahwa saat ini jumlah durasi yang digunakan oleh mayoritas netizen RI untuk berelasi dengan media digital mencapai 9 jam per hari. Sehingga, wajar jika informasi yang diproses merupakan jenis informasi yang relatif mudah dimengerti, sederhana dan segera mendatangkan kepuasan.

"Informasi yang dangkal, memenuhi persyaratan untuk itu," pungkasnya.

Senada, Ismail menilai publik lebih suka membahas 'small talk' selama itu bersifat kontroversial. Menurutnya, hal itu berbahaya karena ke depan publik akan mudah dialihkan perhatiannya dari hal-hal besar dan esensial bagi masa depan bangsa.

Ismail juga menyinggung para akademisi yang tidak berminat atau berani menyampaikan pemikirannya secara terbuka, membangun diskursus di kalangan cendikiawan dan publik tentang isu penting di media sosial. Dia menduga peneliti lebih aktif di lingkungan tertutup seperti WA group dan webinar.

(can/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK