Hobi Meriung, Netizen RI Bisa Jadi Warga Super Power Internet
CNN Indonesia
Kamis, 25 Mar 2021 17:44 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: AFP PHOTO / MOHAMMED ABED
Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan teknologi terus mendorong jumlah pengguna internetdi Indonesia. Meski jumlahnya masih kalah dari negara maju seperti China dan Amerika Serikat, warganet atau netizen Indonesia terbilang cukup disegani di dunia.
Banyak polemik di dunia maya kemudian menjadi populer di dunia maya akibat aktivitas netizen Indonesia. Tak sampai di situ, kekuatan netizen Indonesia pun bisa membuat objek perbincangan tersebut 'menyerah'.
Baru-baru ini misalnya, netizen Indonesia membuat heboh dengan hilangnya akun Instagram milik turnamen All England dan penutupan kolom komentar Badminton World Federation (BWF). Sebelum itu terjadi, netizen Indonesia menyerbu kedua akun itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar Komunikasi Digital Firman Kurniawan menuturkan aksi serbu netizen Indonesia memang tak lepas dari kebiasaan orang Indonesia berkumpul atau meriung untuk ngobrol, dan membahas berbagai hal dalam mengisi waktu di dunia nyata.
Publik Indonesia pun membawa kebiasaan itu ke dunia digital, seperti ke media sosial hingga grup WhatsApp.
"Namun kenyataan bahwa netizen di berbagai dunia bereaksi bersama-sama secara masif dan membuat jera, sesungguhnya bukan fenomena baru," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com.
Baik di Indonesia maupun dunia, dia mengatakan gerakan masih itu pernah dilakukan oleh penggemar musik K-Pop dalam event kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 lalu.
Itu terjadi saat Presiden AS Donald Trump hendak kampanye di suatu negara bagian. Syarat hadir dalam kampanye, calon hadirin harus membeli tiket secara online.
Namun, calon hadirin tidak datang di hari kampanye setelah tiket diborong dalam jumlah hampir keseluruhan. Gelanggang kampanye Trump tampak sepi, hanya diisi beberapa orang dan tim Trump.
"Yang buruk, ini jadi efek sesungguhnya, pemberitaan media yang membingkai peristiwa itu sebagai olek-olok fans K-POP terhadap Donald Trump," ujarnya.
Di Indonesia, penggemar K-Pop juga muncul dalam pembahasan UU Cipta Kerja. Mereka para pengguna media sosial dengan kekuatan jejaringnya menekan anggota DPR dengan berbagai cara. Termasuk cara yang dilakukan adalah memperkenalkan diri sebagai wanita simpanan para anggota DPR.
"Tujuannya untuk mempermalukan anggota DPR yang disebut. Maka untuk menghindarinya, sang anggota DPR harus membatalkan proses pengesahan UU Cipta Kerja," ujar Firman.
Dari fenomena itu, para pengguna media sosial seolah menyadari kekuatannya sebagai penekan. Kekuatan itu pun diuji coba ulang ketika menanggapi hasil Digital Civility Index yang dirilis Microsoft 2020. Laman komentar Microsoft sampai ditutup karena tak tahan menghadapi caci maki netizen Indonesia.
Demikian pula pada saat polemik pemain catur Dewa Kipas, yang diragukan kemampuannya oleh Federasi Catur Dunia. Terakhir dan fatal saat BWF mendiskualifikasi pemain bulu tangkis Indonesia di kancah All England.
"Hari ini, entah terpaksa atau keharusan tata krama pergaulan, BWF secara resmi meminta maaf kepada Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia atas keputusannya. Jadi yang terjadi adalah kesadaran bahwa bersatunya pendapat yang dimuat pada platform digital merupakan kekuatan," ujar Firman.
Berdasarkan data, Firman menyebut pengguna internet Indonesia mencapai 202 juta dengan 170 juta di antaranya, aktif menggunakan media sosial. Masifnya gerakan yang ditimbulkan oleh kumpulan orang itu, kata dia sangat mampu membangun perhatian berbagai pihak.
"Termasuk pihak lain yang tak turut dalam objek pembahasan. Mereka jadi ikut memberi perhatian, bahkan penilaian," ujarnya.
Lantas, apakah yang dilakukan netizen Indonesia negatif? atau sebaliknya. Menurut Firman, perlu dilihat substansi dan caranya untuk menilai positif dan negatif tindakan netizen Indonesia.
Jika yang dibela adalah kepentingan Indonesia yang diperlakukan tidak adil, tentu bernilai positif. Namun dari caranya, mencaci maki bukan satu-satunya teknik komunikasi untuk didengar.
Bagaimanapun, kata Firman realitas medsos dapat menjadi cermin realitas di dunia nyata. Menyampaikan substansi yang benar dengan cara yang tidak santun, menunjukkan adanya situasi yang tak beres dengan cara berkomunikasi.
"Seolah untuk mencapai tujuan hanya bisa dengan cara mencaci maki ramai ramai, mengeluarkan kata-kata tak pantas dan tak mengindahkan perasaan lawan komunikasi," ujar Firman.
Bagi Firman, cari negatif itu berarti menutup kesempatan berdialog. Akhirnya, ketika caci maki itu jadi trending topic dunia, tentu akan dipersepsi seperti itulah cara bangsa Indonesia dalam berkomunikasi.
"Bagaimana bangsa lain menghadapi Indonesia untuk urusan pariwisata, kerjasama bisnis, pemberian bantuan kala bencana dan lain-lain?," tanya Firman.
Firman menambahkan brainware netizen Indonesia perlu diarahkan agar mampu memanfaatkan sarana komunikasi digital, sebagai sarana mencapai berbagai tujuan ekonomi, politik, dan sosial.
Jika berhasil, kuantitas besar Netizen Indonesia, cara berpikir yang logis, perilaku yang proporsional di media digital , akan menghadirkan super power baru, super power SDM yang kompak dan mampu berdialog.
Lebih dari itu, dia mengingatkan media digital adalah bentuk teknologi informasi dan komunikasi. Untuk berkomunikasi, netizen Indonesia tidak bisa hanya berelasi dengan dirinya sendiri. Menurutnya, perlu audiens, khalayak, mitra di luar Indonesia.
"Jaminan bahwa mereka yang ada di luar Indonesia akan dihargai dan diperlakukan layak oleh netizen Indonesia, akan bermanfaatkan di masa depan sebagai sarana berkolaborasi, mencapai berbagai tujuan," ujar Firman.
Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis mengatakan perilaku kerumunan di medsos dengan dunia nyata relatif hampir mirip.
Dalam sosiologi, dia mengatakan ada perilaku kolektif yang dinamakan konformitas, gerak kolektif yang dipicu oleh individu atau kelompok kecil orang yang kemudian terakumulasi membesar menjadi kelompok yang lebih besar.
"Dunia maya membuat amplifikasi sosial dari konformitas tersebut menjadi jauh lebih besar, bahkan hingga lintas negara," ujar Rissalwan kepada CNNIndonesia.com.
Perilaku itu, kata Rissalwan seperti pisau bermata ganda karena bisa positif dan bisa juga negatif. Padangan itu tergantung dari arahan kelompok pemicu awalnya.
"Hal ini tentunya menjadi tantangan ke depan untuk bisa diantisipasi oleh penyelenggara negara. Agar konformitas dunia maya tidak digunakan untuk hal-hal negatif," ujarnya.
Perkembangan teknologi terus mendorong jumlah pengguna internetdi Indonesia. Meski jumlahnya masih kalah dari negara maju seperti China dan Amerika Serikat, warganet atau netizen Indonesia terbilang cukup disegani di dunia.
Banyak polemik di dunia maya kemudian menjadi populer di dunia maya akibat aktivitas netizen Indonesia. Tak sampai di situ, kekuatan netizen Indonesia pun bisa membuat objek perbincangan tersebut 'menyerah'.
Baru-baru ini misalnya, netizen Indonesia membuat heboh dengan hilangnya akun Instagram milik turnamen All England dan penutupan kolom komentar Badminton World Federation (BWF). Sebelum itu terjadi, netizen Indonesia menyerbu kedua akun itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar Komunikasi Digital Firman Kurniawan menuturkan aksi serbu netizen Indonesia memang tak lepas dari kebiasaan orang Indonesia berkumpul atau meriung untuk ngobrol, dan membahas berbagai hal dalam mengisi waktu di dunia nyata.
Publik Indonesia pun membawa kebiasaan itu ke dunia digital, seperti ke media sosial hingga grup WhatsApp.
"Namun kenyataan bahwa netizen di berbagai dunia bereaksi bersama-sama secara masif dan membuat jera, sesungguhnya bukan fenomena baru," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com.
Baik di Indonesia maupun dunia, dia mengatakan gerakan masih itu pernah dilakukan oleh penggemar musik K-Pop dalam event kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 lalu.
Itu terjadi saat Presiden AS Donald Trump hendak kampanye di suatu negara bagian. Syarat hadir dalam kampanye, calon hadirin harus membeli tiket secara online.
Namun, calon hadirin tidak datang di hari kampanye setelah tiket diborong dalam jumlah hampir keseluruhan. Gelanggang kampanye Trump tampak sepi, hanya diisi beberapa orang dan tim Trump.
"Yang buruk, ini jadi efek sesungguhnya, pemberitaan media yang membingkai peristiwa itu sebagai olek-olok fans K-POP terhadap Donald Trump," ujarnya.
Di Indonesia, penggemar K-Pop juga muncul dalam pembahasan UU Cipta Kerja. Mereka para pengguna media sosial dengan kekuatan jejaringnya menekan anggota DPR dengan berbagai cara. Termasuk cara yang dilakukan adalah memperkenalkan diri sebagai wanita simpanan para anggota DPR.
"Tujuannya untuk mempermalukan anggota DPR yang disebut. Maka untuk menghindarinya, sang anggota DPR harus membatalkan proses pengesahan UU Cipta Kerja," ujar Firman.
Dari fenomena itu, para pengguna media sosial seolah menyadari kekuatannya sebagai penekan. Kekuatan itu pun diuji coba ulang ketika menanggapi hasil Digital Civility Index yang dirilis Microsoft 2020. Laman komentar Microsoft sampai ditutup karena tak tahan menghadapi caci maki netizen Indonesia.
Demikian pula pada saat polemik pemain catur Dewa Kipas, yang diragukan kemampuannya oleh Federasi Catur Dunia. Terakhir dan fatal saat BWF mendiskualifikasi pemain bulu tangkis Indonesia di kancah All England.
"Hari ini, entah terpaksa atau keharusan tata krama pergaulan, BWF secara resmi meminta maaf kepada Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia atas keputusannya. Jadi yang terjadi adalah kesadaran bahwa bersatunya pendapat yang dimuat pada platform digital merupakan kekuatan," ujar Firman.
Berdasarkan data, Firman menyebut pengguna internet Indonesia mencapai 202 juta dengan 170 juta di antaranya, aktif menggunakan media sosial. Masifnya gerakan yang ditimbulkan oleh kumpulan orang itu, kata dia sangat mampu membangun perhatian berbagai pihak.
"Termasuk pihak lain yang tak turut dalam objek pembahasan. Mereka jadi ikut memberi perhatian, bahkan penilaian," ujarnya.
Jari-jari Netizen Indonesia, Berdampak Negatif atau Positif?
Foto: AFP PHOTO / JUAN MABROMATA
Lantas, apakah yang dilakukan netizen Indonesia negatif? atau sebaliknya. Menurut Firman, perlu dilihat substansi dan caranya untuk menilai positif dan negatif tindakan netizen Indonesia.
Jika yang dibela adalah kepentingan Indonesia yang diperlakukan tidak adil, tentu bernilai positif. Namun dari caranya, mencaci maki bukan satu-satunya teknik komunikasi untuk didengar.
Bagaimanapun, kata Firman realitas medsos dapat menjadi cermin realitas di dunia nyata. Menyampaikan substansi yang benar dengan cara yang tidak santun, menunjukkan adanya situasi yang tak beres dengan cara berkomunikasi.
"Seolah untuk mencapai tujuan hanya bisa dengan cara mencaci maki ramai ramai, mengeluarkan kata-kata tak pantas dan tak mengindahkan perasaan lawan komunikasi," ujar Firman.
Bagi Firman, cari negatif itu berarti menutup kesempatan berdialog. Akhirnya, ketika caci maki itu jadi trending topic dunia, tentu akan dipersepsi seperti itulah cara bangsa Indonesia dalam berkomunikasi.
"Bagaimana bangsa lain menghadapi Indonesia untuk urusan pariwisata, kerjasama bisnis, pemberian bantuan kala bencana dan lain-lain?," tanya Firman.
Firman menambahkan brainware netizen Indonesia perlu diarahkan agar mampu memanfaatkan sarana komunikasi digital, sebagai sarana mencapai berbagai tujuan ekonomi, politik, dan sosial.
Jika berhasil, kuantitas besar Netizen Indonesia, cara berpikir yang logis, perilaku yang proporsional di media digital , akan menghadirkan super power baru, super power SDM yang kompak dan mampu berdialog.
Lebih dari itu, dia mengingatkan media digital adalah bentuk teknologi informasi dan komunikasi. Untuk berkomunikasi, netizen Indonesia tidak bisa hanya berelasi dengan dirinya sendiri. Menurutnya, perlu audiens, khalayak, mitra di luar Indonesia.
"Jaminan bahwa mereka yang ada di luar Indonesia akan dihargai dan diperlakukan layak oleh netizen Indonesia, akan bermanfaatkan di masa depan sebagai sarana berkolaborasi, mencapai berbagai tujuan," ujar Firman.
Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis mengatakan perilaku kerumunan di medsos dengan dunia nyata relatif hampir mirip.
Dalam sosiologi, dia mengatakan ada perilaku kolektif yang dinamakan konformitas, gerak kolektif yang dipicu oleh individu atau kelompok kecil orang yang kemudian terakumulasi membesar menjadi kelompok yang lebih besar.
"Dunia maya membuat amplifikasi sosial dari konformitas tersebut menjadi jauh lebih besar, bahkan hingga lintas negara," ujar Rissalwan kepada CNNIndonesia.com.
Perilaku itu, kata Rissalwan seperti pisau bermata ganda karena bisa positif dan bisa juga negatif. Padangan itu tergantung dari arahan kelompok pemicu awalnya.
"Hal ini tentunya menjadi tantangan ke depan untuk bisa diantisipasi oleh penyelenggara negara. Agar konformitas dunia maya tidak digunakan untuk hal-hal negatif," ujarnya.