Katak Berukuran Bayi Masuk Pemukiman, Habitat Terancam

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 08:03 WIB
Katak raksasa awalnya ditemukan oleh sekelompok karyawan pabrik kayu yang tengah berburu babi hutan dan dibagikan melalui akun Facebook. Ilustrasi katak seukuran bayi yang ditemukan di Solomon. (Foto: Eric N. Smith/University of Texas Arlington via lipi.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia --

Katak raksasa berukuran bayi manusia ditemukan berkeliaran ke pemukiman warga di pinggiran Honiara ibu kota Kepulauan Solomon, pada pertengahan April 2021.

Temuan katak raksasa awalnya ditemukan oleh sekelompok karyawan pabrik kayu yang tengah berburu babi hutan dan dibagikan melalui akun Facebook oleh pemilik pabrik penggilingan kayu, Jimmy Hugo.

Ia membagikan foto katak besar itu kepada teman-teman Facebook miliknya dengan tulisan, 'Dari mana saya berasal, ini disebut ayam hutan'. Nama panggilan yang mengacu pada kesukaan penduduk Kepulauan Solomon pada hewan amfibi.


"ini lebih enak dari pada ayam," ujarnya.

Ahli biologi lokal Patrick Pikacha menulis bahwa katak itu spesies dari Cornufer guppyi. Nama yang diambil dari bahasa sehari-hari dikenal sebagai katak berselaput di Pulau Shortland atau katak berselaput raksasa.

Lebih lanjut ia menuturkan temuan katak raksasa tersebut merupakan sebuah indikator kualitas air yang dinilai sangat baik. Karena semakin banyak sungai yang tercemar sebagai akibat dari dampak antropogenik yang terutama disebabkan oleh penebangan di seluruh wilayah sebarannya.

Sementara itu menurut Kurator biologi pelestarian amfibi dan reptil di Museum Australia, Jodi Rowley mengatakan tertarik pada katak yang berukuran tidak biasa itu.

"Saya belum pernah melihat yang sebesar itu. Sangat jarang bagi mereka (Cornufer guppyi) untuk mencapai ukuran itu jadi yang ini pasti sudah cukup tua," ujarnya seperti dikutip Australian Geographic.

Terlepas dari ukurannya yang sangat besar dan memiliki posisi pada rantai makanan teratas, katak menghadapi sejumlah ancaman, termasuk hilangnya habitat.

Meskipun dahulunya mereka tinggal di dalam sekitar aliran sungai, Pikacha mengatakan spesies katak itu dinilai jarang terlihat lagi.

"Mereka menjadi sangat langka," kata Pikacha.

Namun spesimen yang ditangkap karyawan Huga itu bukan berstatus ayah atau ibu lagi. Dengan spekulasi itu Hugo berniat untuk menunjukkan kepeduliannya kepada Cornufer guppyi di masa depan.

"Saya memberi tahu anak-anak saya, jika kalian menangkap satu, kami akan menyimpannya, jadi ke depannya mereka akan melihat katak asli, bukan hanya melalui gambar," ujarnya.

Sementara itu, Hugo sempat terkejut dengan jumlah notifikasi dari postinganya. Saat ini terdapat 1.340 reaksi, dan 849 orang telah membagikan postingan tersebut. Dalam postinganya itu terlihat seorang anak di bawah umur tengah mengendong kata seukuran bayi manusia.

"Saya sangat terkejut melihat reaksi orang-orang terhadap gambar itu," katanya seperti dikutip Newsweek.

(can/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK