Ahli RI soal Virus Varian Delta: Lebih Menular dari Alfa

CNN Indonesia | Selasa, 15/06/2021 15:19 WIB
Pakar menyebut virus corona varian Delta yang pertama menyebar di India lebih menular dari varian Alfa asal Inggris. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama mengatakan virus corona varian Delta lebih menular dan menurunkan efektivitas vaksin.

Sebelumnya, virus corona varian Delta atau B.1.617.2 yang berasal dari India telah ditemukan di Indonesia. Sebanyak tiga pasien positif Covid-19 di Jawa Timur, dinyatakan terinfeksi corona varian B16172 Delta. Mutasi jenis ini merupakan strain asal India.

Temuan itu diungkapkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Senin (14/6). Ia menyebut hal itu diketahuinya setelah mendapatkan laporan hasil penelitian whole genome sequencing yang dilakukan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.


"Varian Delta di Inggris ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa," ujar Tjandra dalam keterangan tertulis, Selasa (15/6).

Tjandra menuturkan hasil studi Public Health England (PHE) menyebut 90 persen kasus baru Covid-19 di negara itu adalah varian Delta. PHE juga mencatat kenaikan kasus 70 persen hanya dalam waktu satu minggu saja. Varian Delta menggantikan varian Alfa (B.1.1.7) yang semula dominan di Inggris.

"Kalau pola ini juga akan terjadi di negara kita maka tentu bebannya akan berat jadinya," ujarnya.

Lebih lanjut, Tjandra berkata hasil studi PHE menjelaskan waktu penggandaan (doubling time) varian Delta berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari.

Namun, belum ada data tentang berapa besar waktu penggandaan dari varian Delta yang kini ada di Indonesia, termasuk Kudus yang jadi daerah pertama temuan varian Delta.

Laporan PHE juga menunjukkan bahwa varian Delta berpengaruh menurunkan efektifitas vaksin dibandingkan varian Alfa. Seseorang yang baru dapat vaksin satu kali maka terjadi penurunan efektifitas perlindungan terhadap gejala sebesar 15 persen sampai 20 persen.

"Kita perlu pula mengamati kemungkinan dampak seperti ini, apalagi program vaksinasi memang sedang terus digalakkan. Hanya saja tentu kita tidak akan membandingkan varian Delta dengan varian Alfa seperti yang Inggris lakukan, karena varian Alfa bukanlah varian yang dominan di negara kita sebelum ini," ujar Tjandra.

Tjandra juga berkata pemerintah Inggris menggunakan 'novel genotyping test' untuk mendeteksi adanya varian Delta. Tes itu dapat memberi hasil dalam 48 jam dan hasilnya kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan 'whole genome sequencing'.

"Dan ternyata hasilnya memang positif, oleh PHE disebut sebagai 'extremely accurate'," ujarnya.

(jps/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK