Matahari Terbit di Utara, Pelajaran SMP Ditakuti Tanda Kiamat

CNN Indonesia | Sabtu, 19/06/2021 08:11 WIB
Ahli prihatin soal viral Matahari terbit di utara yang ditakuti sebagai tanda kiamat padahal terkait gerak semu Matahari pelajaran SMP Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

'Walau mentari terbit di utara, hatiku hanya untukmu'. Cuplikan lirik lagu 'Cantik' milik Kahitna ini indah buat rayuan namun bisa jadi menakutkan buat sebagian orang jika benar kejadian Matahari terbit di utara karena dikira tanda kiamat.

Viral Matahari terbit di utara belakangan viral di media sosial usai video penampakannya di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Namun ahli menjelaskan hal ini terjadi karena pergerakan Matahari yang sudah diajarkan saat duduk di bangku sekolah.


Menurut video itu Matahari yang seharusnya terbit dari timur tetapi terbit dari utara pada pukul 8 pagi, Kamis (18/6). Fenomena ini dikaitkan dengan hadis yang menyebut salah satu tanda kiamat adalah matahari terbit dari barat.

"Jadi ini kalau kita sebagai orang beriman selaku orang muslim dimana kita biasa dengar ada peringatan dari Rasulullah Muhammad SAW, salah satu tanda kiamat adalah jika matahari terbit di barat dan tenggelam di sebelah timur. Sepertinya dengan situasi pagi ini merupakan suatu isyarat matahari akan terbit di sebelah barat karena sekarang sudah berada di utara," sebut narasi dalam video itu.

Daryono, Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menanggapi video tersebut dengan mengungkap rasa prihatin sebab fenomena tersebut dikatakan merupakan gerak semu Matahari.

Daryono menyinggung materi gerak semu Matahari ini masuk mata pelajaran di tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

"Sedih, hal seperti ini sampai viral, sampai-sampai nyinggung kiamat segala," cuit Daryono lewat akun Twitter pribadinya.

Gerak semu tahunan matahari (GSTM) membuat Matahari tidak selalu tepat terbit dari timur. Matahari seolah terbit agak ke utara atau selatan di waktu tertentu.

Siswanto, Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, menjelaskan, GSTM terjadi akibat revolusi bumi yakni, gerak putar bumi mengelilingi matahari.

Akan tetapi saat mengelilingi matahari, poros bumi tidak tegak lurus tetapi miring 23,5 derajat. Akibatnya, ada gerak semu seolah matahari lebih ke utara atau selatan.

"Pada 22 Desember-21 Juni matahari seolah-olah bergeser ke belahan Bumi utara dan pada 22 Juni-21 Desember matahari seolah bergerak ke arah belahan Bumi selatan," jelas Siswanto melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Kamis (18/6).

Secara umum, gerak semu matahari ada dua yakni, gerak semu tahunan dan harian. GSTM mengakibatkan pergantian musim, sedangkan gerak semu harian matahari (GSHM) mengakibatkan pergantian siang dan malam. Pergerakan matahari dianggap semu sebab sebenarnya yang bergerak adalah bumi.

(els/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK