Alasan BMKG Terlambat Beri Peringatan Tsunami Maluku Tengah

CNN Indonesia | Kamis, 17/06/2021 13:41 WIB
Menurut BMKG pihaknya tengah membaca dampak berdasarkan gempa tektonik, yang disebut tidak berpotensi tsunami. Ilustrasi tsunami. (Foto: Istockphoto/Augustine Fernandes)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan alasan terlambatnya informasi potensi tsunami usai terjadinya gempa Magnitudo 6,0 di Maluku Tengah.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hal itu lantaran pihaknya tengah membaca dampak berdasarkan gempa tektonik, yang disebut tidak berpotensi tsunami.

"Hasil pemodelan tsunami, gempa itu tidak berpotensi tsunami karena kekuatan masih [Magnitudo] 6 dan posisinya di perbatasan laut dengan pantai. Jadi secara tektonik tidak berpotensi tsunami," ujar Dwikora dalam acara virtual, Rabu (16/6).


Hasil observasi tinggi muka air laut di stasiun Badan Informasi Geospasial di Tehoru, kata dia, akhirnya menunjukkan adanya kenaikan permukaan air laut setinggi setengah meter usai gempa.

Hal itulah, kata Dwikorita yang akhirnya memicu munculnya peringatan kedua.

"Ini diperkirakan akibat dari adanya longsor tebing bawah laut," ucap Dwikorita.

Lebih lanjut ia menjelaskan sistem peringatan dini tsunami BMKG saat ini masih berpayokan pada gempa tektonik. Sehingga, BMKG tidak dapat memberikan peringatan dini tsunami yang berasal dari longsor bawah laut.

Dwikorita menyampaikan gempa yang terjadi di tenggara Maluku Tengah itu, dimutakhirkan menjadi magnitudo 6 dengan kedalaman 19 kilometer. Titik Gempa juga bukan ada di laut, melainkan di perbatasan laut dan pantai.

Berdasarkan data, BMKG mencatat ada 16 kali gempa susulan dengan rentang magnitudo 1,9 sampai 3,7.

Dwikorita menjelaskan guncangan gempa bumi dirasakan di sekitar wilayah Maluku Tengah, seperti Tehoru, Masohi, Bula, Kairatu, Saparua, Wahai, dan pulau Ambon.

Jenis gempa itu, dijelaskan Dwikorita adalah gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar turun atau normal fault," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah warga pesisir Pantai Tehoru dan Yaputi, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah dilaporkan mengungsi ke gunung usai melihat air di pantai surut.

Tidak lama kemudian muncul ombak berukuran kecil naik di pesisir pantai Pelabuhan Tehoru. Fenomena itu terjadi pascagempa dengan Magnitudo 6,1 di Maluku Tengah.

BMKG kelas I Ambon sempat mengimbau warga pesisir pantai di Desa Tehoru dan Yaputi menjauhi bibir pantai 2 jam, karena adanya potensi tsunami usai gempa Magnitudo 6,1 mengguncang wilayah itu.

(can/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK