Penjelasan Sains BMKG Soal Viral Matahari Terbit di Utara

eks, CNN Indonesia | Jumat, 18/06/2021 09:19 WIB
BMKG beri penjelasan secara sains soal Matahari terbit di utara yang sempat viral di sosial media. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan viral soal Matahari terbit dari utara di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Siswanto Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG menjelaskan peristiwa itu terkait dengan gerak semu tahunan matahari (GSTM). GSTM membuat Matahari tidak selalu tepat terbit di arah timur, tapi seolah-olah terbit semakin ke utara atau ke selatan tergantung bulan tertentu.

Sebelumnya, viral rekaman video yang mengarahkan kamera ke arah matahari yang disebut perekam terbit dari utara. Rekaman video itu menyebut hal ini terjadi di MAN Binamu, Jeneponto, Kamis (17/6/2021).


Peristiwa matahari terbit dari utara dalam video itu tampak disaksikan oleh sejumlah guru sekolah. Mereka tampak kebingungan arah terbit matahari dari utara.

Lebih lanjut, Siswanto menjelaskan GSTM sendiri disebabkan revolusi bumi, yaitu gerak putar bumi pada orbitnya mengelilingi matahari. Namun, poros Bumi ketika mengelilingi Matahari tidak tegak lurus, melainkan miring 23,5 derajat.

Sehingga, menyebabkan gerak semu seolah-olah Matahari bergerak lebih ke utara atau selatan, terutama jika diamati dari khatulistiwa seperti dari kawasan Indonesia.

"Pada 22 Desember-21 Juni matahari seolah-olah bergeser ke belahan Bumi utara dan pada 22 Juni-21 Desember matahari seolah bergerak ke arah belahan Bumi selatan. Ini juga yang menyebabkan kadang-kadang seolah-olah Matahari terbit seperti dari arah agak utara atau selatan," tulisnya saat dihubungi, Jumat (18/6) pagi.

Selain menyebabkan pergeseran arah terbit matahari, GSM juga menyebabkan terjadinya perubahan musim atau iklim di sejumlah tempat di muka bumi. Perubahan musim ini berdampak pada wilayah yang ada di lintang tinggi, menengah, dan tropis.

Siswanto menjelaskan, pada saat matahari seolah bergerak ke arah utara, maka belahan Bumi di utara tentu akan mendapatkan sinar Matahari lebih banyak yang mengakibatkan munculnya musim semi atau musim panas di utara.

Sedangkan bagian Bumi sebelah selatan akan kekurangan sinar matahari sehingga muncul musim gugur ataupun musim dingin di belahan Bumi selatan. GSTM ke utara ini terjadi antara 21 Maret hingga 23 September tiap tahun, dengan titik puncak pada 21 Juni.

Begitu pula dengan sebaliknya, jika matahari seolah bergerak ke selatan Bumi, maka bagian selatan Bumi yang mendapat banyak sinar matahari lebih banyak akan mengalami musim panas dan bagian utara tidak mendapat sinar yang cukup musim dingin. GSTM ke arah selatan terjadi pada 23 September hingga 21 Maret tiap tahun, dengan puncak pada 22 Desember.

Efek GSM di Khatulistiwa, Musim hingga Hari Tanpa Bayangan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK