Ahli Suarakan Donor Plasma, Bantu Pasien Covid Ringan-Sedang

CNN Indonesia
Senin, 05 Jul 2021 08:06 WIB
Sejumlah ahli sepakat perlu adanya gerakan massif untuk donor plasma konsavalen walau hanya untuk membantu pasien Covid-19 ringan, Ilustrasi donor plasma konsavalen. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli virus sekaligus biologi molekuler Ahmad Rusdan mengatakan perlunya adanya gerakan massif seluruh warga Indonesia, khususnya penyintas Covid-19 untuk donor darah Plasma Konvalesens di tengah lonjakan kasus virus corona.

"Terutama untuk penerimanya adalah orang tua atau lansia yang memiliki gejala ringan karena kalau sudah gejala berat terlambat," ujar Rusdan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/7).

Menurut Rusdan, merujuk data TPK, terapi itu tak memberi manfaaat bagi pasien Covid-19 yang gejalanya sudah kritis. Namun dia menekankan berdasarkan data, terapi itu mampu mengurangi gejala Covid-19 yang semakin memburuk pada lansia.


"Jadi masalahnya untuk me-match kan donor yang terbatas, dengan mereka yang memiliki peluang baik dari manfaat TPK, karena TPK juga bukan terapi sapu jagad, hanya untuk indikasi yang spesifik," tuturnya.

Sementara Epidemiolog asal Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyatakan terapi plasma untuk penyembuhan pasien Covid-19 tak cukup efektif.

"Karena hasil uji klinis di banyak negara menunjukkan terapi plasma tidak signifikan efektif. Hasil uji klinis di Indonesia sendiri belum keluar," jelas Windhu.

Kendati demikian, Windhu mengaku terapi plasma cukup efektif untuk pasien yang bergejala ringan. Sejauh ini, dokter penanggung jawab pasien (DPJP) dengan judgment profesional yang dimiliki dapat memilih untuk menggunakan TKP atau tidak dalam merawat pasien Covid-19.

"Tapi terapi plasma sampai saat ini belum merupakan standar terapi dan perawatan pasien Covid-19. Jadi sifatnya fakultatif, tergantung DPJP-nya," tambah Windhu.

Meski begitu, ia tak menampik perlunya himbauan terapi plasma konvalesen, saat kasus Covid-19 meningkat tajam.

Sebelumnya, eks Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menuturkan antobodi seseorang yang bisa menahan Covid-19 bisa berasal dari dua hal yaitu orang yang mendapat donor plasma dan dari vaksin.

Sehingga, efektifitas terapi plasma konvalensesn dan vaksin ditentukan lewat adanya antobodi spesifik Covid-19 dan kadarnya. Kadar plasma penyintas Covid-19 bergejala berat 1:640. Sedangkan kadar plasma penyintas Covid-19 bergejala ringan 1:20.

Menurut penelitian dengan metode PRNT atau baku emas untuk uji netralitas virus, diketahui antibodi tertinggi berasal dari penyintas Covid-19 bergejala berat.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio menyatakan plasma konvalesen hanya untuk stadium ringan dan sedang.

"Tidak untuk kasus berat," kata Amin kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/7).

(nis/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER