Terapi Plasma Belum Terbukti Efektif untuk Kasus Berat Covid

tim, CNN Indonesia | Selasa, 15/06/2021 21:00 WIB
Ahli mengatakan bahwa berdasarkan sejumlah penelitian efektivitas dari plasma konvalesen pada kasus berat Covid-19 tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Ilustrasi. Ahli mengatakan bahwa berdasarkan sejumlah penelitian efektivitas dari plasma konvalesen pada kasus berat Covid-19 tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. (ANTARA FOTO/Fauzan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selama beberapa waktu, penggunaan plasma konvalesen sebagai terapi untuk Covid-19 banyak digunakan untuk pasien dengan gejala berat.

Namun, baru-baru ini ahli mengungkapkan bahwa efektivitas dari plasma konvalesen justru sebaliknya, yakni lebih bermanfaat untuk gejala ringan dan sedang.

"Efektivitas lebih baik pada penderita Covid-19 derajat ringan dan sedang dibanding derajat berat," papar Profesor David Handojo Muljono, Deputi bidang penelitian Translasional Lembaga Eijkman dalam webinar terkait Hari Donor Darah Sedunia, Senin (14/6).


Lebih lanjut, David yang merujuk kesimpulan dari sejumlah studi di beberapa negara termasuk Indonesia sendiri mengungkapkan bahwa penggunaan plasma konvalesen pada kasus berat Covid-19 tidak ada perbedaan dengan terapi kontrol biasa.

"Tidak ada perbedaan manfaat bermakna kelompok terapi plasma konvalesen dibandingkan terapi kontrol pada penderita derajat berat," ungkapnya.

"Pemberian dini [plasma konvalesen] dan pada pasien Covid-19 derajat ringan lebih baik dibandingkan pada pemberian tertunda dan pasien derajat berat," tambah David.

Di samping itu, David juga mengatakan regulator di berbagai negara dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini belum mengizinkan penggunaan plasma konvalesen sebagai standar terapi dan masih menanti hasil uji klinis dengan nilai statistik kuat.

Dalam arti lain, penggunaannya masih dengan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

"Semuanya masih dalam penelitian, belum dinyatakan baik untuk pengobatan Covid-19. Hasilnya pun masih bermacam-macam, ada yang bagus, ada yang tidak berbeda," katanya.

Dia memberi catatan bahwa yang terpenting dalam memberikan plasma konvalesen dengan kadar antibodi netralisasi yang tinggi dan pada saat yang tepat, yakni saat pasien derajat sedang, yang belum mengalami perburukan. Bisa dikatakan, pemberian plasma konvalesen yang lebih cepat maka lebih baik. 

Kadar antibodi netralisasi atau juga disebut dengan neutralizing antibody (NAb) merupakan antibodi yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup sel dengan cara menetralkan efek biologis yang ditimbulkan oleh agen infeksius ataupun patogen.

Ahli imunologi, Profesor Iris Rengganis mengatakan neutralizing antibody berasal dari antibodi yang dibentuk oleh pasien, vaksin, ataupun monoklonal buatan manusia.

"Tetapi, tidak mudah mendapat neutralizing antibody, tergantung dari bagaimana terbentuknya saat terinfeksi, ada yang bagus kualitasnya ada yang tidak, jadi tidak semua memiliki netralisasi yang optimal," paparnya.

David menambahkan berdasarkan penelitian, kadar antibodi netralisasi umumnya lebih rendah pada pasien Covid-19 tanpa gejala. Sementara pada penyintas dengan gejala parah, lebih tinggi.

"Penyintas [dengan gejala] yang parah sudah terbukti menetralisir antibodi dan sembuh," tambahnya.

(agn/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK