Bos WhatsApp Buka Suara Marak Spyware Macam Pegasus Israel

CNN Indonesia
Senin, 19 Jul 2021 18:59 WIB
Bos Whatsapp buka suara soal meluasnya penggunaan spyware macam Pegasus milik perusahaan Israel yang digunakan memata-matai. Ilustrasi. Bos Whatsapp buka suara soal meluasnya penggunaan spyware macam Pegasus milik perusahaan Israel yang digunakan memata-matai. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bos WhatsApp buka-bukaan tentang meluasnya penggunaan spyware Pegasus milik perusahaan asal Israel, NSO group sebagai perangkat mata-mata di internet.

Kepala WhatsApp, Will Cathcart mengatakan bahwa ada kebutuhan perusahaan berkembang lebih banyak dan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah agar meminta pertanggungjawaban dari NSO Group.

Lebih lanjut, dia mendesak untuk melakukan moratorium global tentang penggunaan teknologi untuk mengawasi gerak-gerik orang lain seperti yang dilakukan lewat Pegasus.

Cathcart juga menambahkan hasil investigasi terbari Pegasus makin meyakinkan Whatsapp untukmempertahankan enkripsi end-to-end. Ia menyebut pelemahan keamanan akan memiliki konsekuensi yang menakutkan bagi kita semua.

Sebelumnya, proyek investigasi kolaboratif global mengungkap hampir lebih dari 1000 ponsel diintai secara global menggunakan spyware canggih. Sebanyak sekitar 300 nomor ponsel di India kemungkinan menjadi sasaran Pegasus.

Menurut laporan, dua Menteri yang menjabat di pemerintahan Narendra Modi, tiga pemimpin oposisi, satu otoritas konstitusional, beberapa jurnalis, dan pebisnis kemungkinan menjadi sasaran mata-mata.

Dalam utas Twitter, Cathcart mengatakan bahwa pengungkapan terbaru oleh Guardian dan Washington Post mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan perusahaan selama bertahun-tahun.

"Spyware berbahaya NSO digunakan untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan di seluruh dunia dan itu harus dihentikan. Pembela hak asasi manusia, perusahaan teknologi, dan pemerintah harus bekerja sama untuk meningkatkan keamanan dan meminta pertanggungjawaban pelaku spyware," cuitnya, Minggu (18/7).

Dia juga memuji Microsoft karena telah berani mengungkap tindak peretasan Windows oleh perusahaan Israel Candiru.

Cathcart juga menyoroti bagaimana NSO menggunakan kerentanan di WhatsApp yang meretas pengguna yang pertama kali terungkap pada 2019.

"Mereka mengandalkan kerentanan yang tidak diketahui di OS seluler, yang merupakan salah satu alasan mengapa kami merasa sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang kami temukan. Pada saat itu, kami bekerja dengan @CitizenLab, yang mengidentifikasi 100 lebih kasus peretasan terhadap pembela hak asasi manusia dan jurnalis di 20 lebih negara," ujarnya seperti dikutip Indian Express

Dia juga berterima kasih kepada Microsoft, Google, Cisco, VMWare, Asosiasi Internet, dan lainnya karena telah berbicara bagaimana bahaya memberi perusahaan spyware seperti Pegasus milik NSO.

Badan Intelejen Beberapa Negara Minta Akses Backdoor

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER