Jakarta, CNN Indonesia -- Bos WhatsApp buka-bukaan tentang meluasnya penggunaan spyware Pegasus milik perusahaan asal Israel, NSO group sebagai perangkat mata-mata di internet.
Kepala WhatsApp, Will Cathcart mengatakan bahwa ada kebutuhan perusahaan berkembang lebih banyak dan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah agar meminta pertanggungjawaban dari NSO Group.
Lebih lanjut, dia mendesak untuk melakukan moratorium global tentang penggunaan teknologi untuk mengawasi gerak-gerik orang lain seperti yang dilakukan lewat Pegasus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cathcart juga menambahkan hasil investigasi terbari Pegasus makin meyakinkan Whatsapp untukmempertahankan enkripsi end-to-end. Ia menyebut pelemahan keamanan akan memiliki konsekuensi yang menakutkan bagi kita semua.
Sebelumnya, proyek investigasi kolaboratif global mengungkap hampir lebih dari 1000 ponsel diintai secara global menggunakan spyware canggih. Sebanyak sekitar 300 nomor ponsel di India kemungkinan menjadi sasaran Pegasus.
Menurut laporan, dua Menteri yang menjabat di pemerintahan Narendra Modi, tiga pemimpin oposisi, satu otoritas konstitusional, beberapa jurnalis, dan pebisnis kemungkinan menjadi sasaran mata-mata.
Dalam utas Twitter, Cathcart mengatakan bahwa pengungkapan terbaru oleh Guardian dan Washington Post mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan perusahaan selama bertahun-tahun.
"Spyware berbahaya NSO digunakan untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan di seluruh dunia dan itu harus dihentikan. Pembela hak asasi manusia, perusahaan teknologi, dan pemerintah harus bekerja sama untuk meningkatkan keamanan dan meminta pertanggungjawaban pelaku spyware," cuitnya, Minggu (18/7).
Dia juga memuji Microsoft karena telah berani mengungkap tindak peretasan Windows oleh perusahaan Israel Candiru.
Cathcart juga menyoroti bagaimana NSO menggunakan kerentanan di WhatsApp yang meretas pengguna yang pertama kali terungkap pada 2019.
"Mereka mengandalkan kerentanan yang tidak diketahui di OS seluler, yang merupakan salah satu alasan mengapa kami merasa sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang kami temukan. Pada saat itu, kami bekerja dengan @CitizenLab, yang mengidentifikasi 100 lebih kasus peretasan terhadap pembela hak asasi manusia dan jurnalis di 20 lebih negara," ujarnya seperti dikutip Indian Express.
Dia juga berterima kasih kepada Microsoft, Google, Cisco, VMWare, Asosiasi Internet, dan lainnya karena telah berbicara bagaimana bahaya memberi perusahaan spyware seperti Pegasus milik NSO.
Badan Intelejen Beberapa Negara Minta Akses Backdoor
Foto: istockphoto/ stockcam
Dia juga menanggapi cuitan tentang permintaan beberapa badan intelejen negara untuk mendapat akses backdoor. Ia menyebut tak akan membuka kesempatan sedikutpun memberikan akses backdoor kepada intelejen negara manapun. Sebab, hal itu hanya akan jadi celah, "bagi peretas, penjahat, perusahaan spyware, dan pemerintah yang bermusuhan, dengan konsekuensi berbahaya bagi keselamatan dan keamanan."
Dikutip Gadgets 360, Pegasus menjadi pusat perhatian karena kerap mengintip para aktivis, advokat, jurnalis, dan pejabat senior pemerintah di 20 negara termasuk India pada Mei 2019.
Pegasus mengeksploitasi kerentanan, yang sudah diperbaiki WhatsApp sebelum dipublikasikan untuk menyusup ke perangkat Android dan iOS.
Beberapa bulan setelah kasus mata-mata dilaporkan, WhatsApp mengajukan gugatan terhadap NSO Group pembuat Pegasus. Perusahaan milik Facebook itu juga bekerja sama dengan pengawas Internet Citizen Lab untuk mengidentifikasi lebih dari 100 kasus peretasan yang dianggap kejam terhadap aktivis dan jurnalis di lebih dari 20 negara.
Cathchart juga berterima kasih kepada Microsoft, Google, Cisco, VMWare, Asosiasi Internet dan lainnya karena telah berani berbicara menentang bahaya memberi perusahaan spyware seperti NSO kekebalan hukum.