Virus Kuno 15 Ribu Tahun di Gletser Tibet, 28 Tak Dikenali

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 10:57 WIB
Ahli menemukan kode genetik untuk 28 virus kuno yang baru diketahui di balik es gletser dari dataran tinggi Tibet, China yang mencair. Ilustrasi virus kuno di Tibet. (dok. cgtn.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli menemukan kode genetik untuk 33 virus kuno di balik es gletser dari dataran tinggi Tibet, China yang mencair. 28 di antaranya adalah virus baru yang tidak dikenali dan belum diketahui manusia saat ini.

Mengutip Science Alert, ahli mikrobiologi Zhi-Ping Zhong dari Ohio State University yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan pencairan es Gletser Tibet tidak hanya akan menyebabkan hilangnya mikroba dan virus kuno yang 'diarsipkan', tetapi juga melepaskannya ke lingkungan di masa yang akan datang.

Zhong dkk mengidentifikasi puluhan virus kuno berusia 15.000 tahun itu dari lapisan es Guliya di Dataran Tinggi Tibet.


"Gletser ini terbentuk secara bertahap, dan bersama dengan debu dan gas, banyak virus juga disimpan di dalam es itu," kata Zhong.

Para ahli menggunakan teknik metagenomics baru untuk menjaga sampel inti es mereka tetap steril dalam kondisi dingin.

Dilansir Science Daily, ahli mikrobiologi Ohio State University Matthew Sullivan mengatakan virus yang ditemukan di 21 ribu kaki atau 6,7 kilometer di atas permukaan laut China itu bisa berkembang biak di tengah lingkungan yang ekstrem dan menginfeksi sel di lingkungan yang dingin.

Tim mengungkap soal adanya bakteri dalam inti es yang menginfeksi Methylobacterium, yang merupakan bakteri penting untuk siklus metana di dalam es. Bakteri tersebut punya keterkaitan dengan virus yang ditemukan pada strain Methylobacterium di habitat tanaman dan tanah.

"Virus beku ini kemungkinan berasal dari tanah atau tanaman dan memfasilitasi perolehan nutrisi untuk inangnya," kata Sullivan.

Ahli Bumi Lonnie Thompson kemudian mengungkapkan temuan lain selain virus kuno yang dilepaskan es gletser Tiber yang mencair, yakni cadangan besar metana dan karbon yang diserap. Selain itu es juga menyimpan wawasan tentang perubahan lingkungan di masa lalu dan evolusi virus.

"Bagaimana bakteri dan virus merespons perubahan iklim? Apa yang terjadi ketika kita beralih dari zaman es ke periode hangat seperti sekarang ini?" kata Thompson.

Sebelumnya para peneliti telah menganalisis inti es sejak tahun 2015 dari lapisan es Guliya di Tiongkok barat. Di dalam ini es tersebut terdapat lapisan-lapisan yang sudah banyak menjebak apapun dari atmosfer sekitar dan kemudian menciptakan semacam garis waktu.

Dari lapisan garis waktu itu, ilmuwan bisa meneliti tentang perubahan iklim, mikroba, virus dan gas sepanjang sejarah.

Temuan virus kuno itu sudah dipublikasikan di Jurnal Microbiome. Dari situ ilmuwan dapat memahami bagaimana virus berevolusi selama berabad-abad. Pada penelitian tersebut, para ilmuwan juga mengembangkan metode baru yang sangat bersih untuk menganalisis mikroba dan virus dalam es tanpa mencemarinya.

Sejauh ini, empat virus sudah dikenali. Virus yang teridentifikasi di lapisan es Guliya sebelumnya itu telah diidentifikasi dan berasal dari keluarga virus yang menginfeksi bakteri. Para peneliti menemukan virus dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada yang ditemukan di lautan atau tanah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus berasal dari tanah atau tanaman, bukan dari hewan atau manusia. 

(dal/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK