14 Ribu Ilmuwan Teriak Titik Kritis Iklim di Bumi Sudah Dekat

CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 20:30 WIB
14 ribu ilmuwan meneken inisiatif bahwa titik kritis iklim imbas pemanasan global semakin dekat. Ilustrasi efek pemanasan global. (Istockphoto/ShutterOK)
Jakarta, CNN Indonesia --

14 ribu ilmuwan meneken inisiatif bahwa titik kritis iklim imbas pemanasan global semakin dekat. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di jurnal BioScience, para ilmuwan menekankan bahwa pemerintah di seluruh dunia secara konsisten gagal mengatasi eksploitasi berlebihan terhadap Bumi.

Mengutip The Guardian, secara keseluruhan, penelitian ini menemukan sekitar 16 dari 31 tanda-tanda vital di bumi yang rekornya semakin mengkhawatirkan, termasuk emisi gas rumah kaca, kandungan panas laut dan massa es atau gletser.

"Ada semakin banyak bukti bahwa kita semakin dekat atau telah melampaui titik kritis yang terkait dengan bagian-bagian penting dari sistem Bumi," kata William Ripple, seorang ahli ekologi di Oregon State University yang terlibat dalam penelitian.


Menurut Ripple, pada April 2021, konsentrasi karbon dioksida mencapai 416 bagian per juta, konsentrasi rata-rata global bulanan tertinggi yang pernah tercatat. Lima tahun terpanas dalam catatan sejarah terjadi sejak 2015, dan 2020 adalah tahun terpanas kedua dalam sejarah.

Studi ini juga menemukan bahwa ternak sapi dan domba, sumber yang dituding memicu gas pemanasan global, sekarang berjumlah lebih dari 4 miliar, dan massa totalnya lebih dari gabungan semua manusia dan hewan mamalia.

Selain itu, jumlah hutan yang hilang di Amazon Brasil meningkat pada 2019 dan 2020, mencapai tingkat tertinggi dalam 12 tahun, yaitu 1,11 juta hektar terdeforestasi pada tahun 2020.

Namun, ada beberapa titik terang dalam penelitian ini, termasuk subsidi bahan bakar fosil yang mencapai rekor terendah dan divestasi bahan bakar fosil mencapai rekor tertinggi.

Untuk mengubah arah darurat iklim, peneliti menulis bahwa perubahan besar perlu dilakukan. Salah satunya penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap serta pengembangan cadangan iklim strategis global untuk melindungi dan memulihkan penyerap karbon alami dan keanekaragaman hayati.

"Pendidikan iklim juga harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah di seluruh dunia untuk mengatasi akar penyebabnya: eksploitasi berlebihan terhadap Bumi," kata peneliti.

Para peneliti juga menyoroti, meskipun ada penurunan polusi yang terkait dengan pandemi Covid-19, tingkat CO2 dan metana di atmosfer mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2021.

Greenland dan Antartika baru-baru ini juga menunjukkan tingkat massa es yang rendah sepanjang masa. Gletser mencair 31 persen lebih cepat daripada yang terjadi 15 tahun yang lalu.

Mengutip Aljazeera, Tim Lenton, direktur Institut Sistem Global Universitas Exeter mengatakan bahwa gelombang panas yang memecahkan rekor baru-baru ini di AS bagian barat dan Kanada, menunjukkan bahwa iklim telah mulai "berperilaku dengan cara yang mengejutkan dan tidak terduga".

"Kita perlu menanggapi titik kritis iklim dengan tindakan ntuk mendekarbonisasi ekonomi global dan mulai memulihkannya, alih-alih merusak alam," katanya.

(dal/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK