Jakarta, CNN Indonesia -- Tim peneliti dari perusahaan farmasi Code Pharma meracik obat terapi pengidap human immunodeficiency virus (HIV) buat diaplikasikan kepada pengidap Covid-19.
Mereka mengklaim obat itu bisa menyembuhkan pasien Covid-19 hanya dalam beberapa hari saja.
Code Pharma merupakan sebuah perusahaan farmasi yang bermarkas di Belanda menyelesaikan uji klinis pertama obat bernama Codivir, buat terapi untuk pasien virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan itu memiliki kantor penelitian dan pengembangan di Israel. Pada Senin (13/9) lalu mereka mengajukan izin kepada Komite Helsinki untuk berpindah ke Pusat Kesehatan Barzilai buat melakukan uji klinis fase kedua.
Seperti dilansir Jerusalem Post, uji klinis fase satu melibatkan sebanyak dua belas pasien dari rentang umur 18 hingga 60 tahun dengan gejala Covid-19 ringan hingga sedang.
Tujuh relawan dalam uji klinis pertama kemudian dites secara berurutan dengan metode PCR setiap dua hari sejak mereka menerima terapi menggunakan obat itu. Obat itu diberikan dengan metode suntik.
Pasien mendapatkan dua suntikan per hari dalam jangka waktu 10 hari.
Direktur dari Divisi Penyakit Menular di Pusat Kesehatan Barzilai, Prof. Shlomo Maayan, yang juga berperan sebagai konsultan Code Pharma mengatakan dari hasil penelitian fase satu menunjukkan Codivir aman diberikan pada manusia. Dia mengatakan obat itu secara signifikan menekan penyebaran virus Covid-19 dengan efek paling awal dalam tiga hari sejak diberikan.
Pasien-pasien yang menerima terapi dilaporkan pulih dengan cepat setelah mendapat terapi ini dan tidak menunjukkan efek samping yang sering ditemui pasca terinfeksi virus Covid-19.
"Data preklinis, dan hasil dari uji klinis mendukung keamanan dari penggunaan Codivir pada manusia dan menunjukkan efek yang signifikan sebagai anti-covid," ucap Dr Yotam Kolben dan Dr. Asa Kesler dari Departemen Kesehatan Pusat Kesehatan Hadassah yang merupakan penulis utama pada makalah penelitian ini.
Peneliti Racik Obat HIV Buat Obati Corona
Ilustrasi virus corona. (iStockphoto/koto_feja)
Menurut laporan Biospace, fase satu percobaan dari Codivir ini dilakukan di Brazil dan mendapat persetujuan dari Komite Nasional Etika Penelitian (CONEP). Penelitian tersebut dilakukan di Rumah Sakit Casa de Saúde - Vera Cruz di São Paulo, Brazil dengan Dr. Florentino Cardoso sebagai pengawas utama.
Codivir tersusun dari peptida 16 asam amino pendek yang diambil dari enzim HIV-1, dan pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti dari Universitas Hebrew yang masih terafiliasi dengan Code Pharma.
Pada awal pandemi Covid-19, Code Pharma melakukan tes secara tidak resmi pada pasien HIV di Republik Kongo. Obat itu secara tidak sengaja juga diberikan kepada pasien Covid-19 di sana.
"Salah satu rumah sakit di sana memberikan obat tersebut pada pasien Covid-19 juga, dan mereka pulih dengan baik," ucap Chief Executive Officer (CEO) Code Pharma, Zyon Ayni.
Setelah kejadian tersebut, rumah sakit meminta dosis tambahan dan mencatat ini sebagai uji klinis tidak resmi pada Codivir. Para dokter memisahkan pasien yang mendapatkan terapi Codivir dan yang tidak, dan semua pasien yang ada di rentang umur 35 hingga 78 tahun ditempatkan di ruangan Unit Perawatan Intensif (ICU)
"Dokter memberikan terapi dan melihat dua orang pasien pulih hanya dalam waktu sembilan hari, dan sisanya hampir pulih serta tidak menunjukkan jejak sisa virus. Dari 15 orang yang tidak mendapatkan terapi, 14 di antaranya meninggal," ucap Ayni.
[Gambas:Video CNN]