Pakar Ungkap Faktor Penyebab Covid-19 Malaysia Tinggi

CNN Indonesia | Kamis, 16/09/2021 17:40 WIB
Epidemiolog Dicky Budiman membedah berbagai faktor di balik kasus infeksi Covid-19 di Malaysia yang masih tinggi. Tes PCR Covid-19 di Malaysia. (AFP/MOHD RASFAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, membedah berbagai faktor di balik kasus infeksi Covid-19 di Malaysia yang masih tinggi, meski sudah menerapkan penguncian wilayah (lockdown) hingga program vaksinasi.

Dicky mengatakan vaksinasi tidak menjamin seseorang kebal terhadap virus, tetapi hanya mencegah tingkat keparahan infeksi dan mencegah kematian.

"Vaksin ini sudah terbukti mencegah keparahan dan mencegah kematian secara signifikan. Tetapi dua hal lagi dia belum secara signifikan mencegah infeksi dan belum secara signifikan mencegah orang itu menularkan. Ini yang terjadi," kata Dicky kepada CNNINdonesia.com, Kamis (16/9).


Selain itu, varian baru Covid-19 seperti varian Mu dan C.1.2 juga masih menjadi ancaman. Menurut Dicky meski angka vaksinasi sudah cukup tinggi, saat ini masih banyak negara yang memiliki keterbatasan surveillance genome, sehingga tidak memiliki informasi yang cukup terhadap varian apa saja yang menyebar dan hanya mengandalkan sampling.

"Ini yang menjadi contoh di tengah adanya varian baru, selain varian Mu dan varian C.1.2 yang menjadi perhatian. Tapi bisa saja muncul potensi varian lain yang juga menurunkan efikasi vaksin, antibodi jika terinfeksi," ujar Dicky.

Dalam menghadapi varian baru itu, kata Dicky, tidak cukup dengan hanya menerapkan lockdown dan vaksinasi. Menurutnya kombinasi antara pembatasan mobilisasi, vaksinasi, 3T (Testing, Tracing dan Treatment), dan 5 M harus terus diperkuat.

"Virus akan lebih berbahaya ketika ia merambah ke tempat yang banyak populasi rawan, seperti belum divaksin dan memiliki komorbid," ujar Dicky.

Berkaca dari kejadian di Malaysia, Dicky mengatakan kondisi itu harus dijadikan pelajaran bagi Indonesia. Apalagi angka vaksinasi di Indonesia yang belum mencapai 50 persen dari total populasi.

Menurut Dicky jumlah kasus yang terus melonjak bukanlah hal yang mengagetkan. Malah menurut dia yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana pemerintah dan pemangku kepentingan mampu bertanggung jawab menjamin agar penduduk selamat dari infeksi virus.

Jumlah kasus infeksi Covid-19 di Negeri Jiran sudah menembus dua juta kasus Covid-19, dengan penambahan 15.669 kasus baru, pada Selasa (14/9) lalu.

Menurut data yang dipaparkan Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins pada Kamis (16/9), jumlah kasus Covid-19 di Malaysia mencapai 2.030.935, dengan 22.009 kematian.

Tingkat vaksinasi di Malaysia juga tergolong tinggi. Hingga kini, lebih dari setengah total penduduknya atau 17,5 juta jiwa telah menerima dua dosis vaksin.

Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, mengatakan 74 persen populasi penduduk dewasa Malaysia telah rampung divaksinasi, sementara itu sekitar 91,6 persen setidaknya telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19.

(mrh/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK