BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem: Panas Bisa Mendadak Hujan
CNN Indonesia
Jumat, 24 Sep 2021 07:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan atau pancaroba. (Zajcsik/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan atau pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan saat ini.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan kondisi cuaca bisa berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya secara mendadak. Namun, menurutnya, secara umum biasanya cuaca cerah di pagi, kemudian mulai tumbuh awan pada siang, dan hujan jelang sore atau malam.
"Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai dari hujan disertai petir dan angin kencang serta hujan es. Arah angin bertiup sangat bervariasi sehingga mengakibatkan kondisi cuaca bisa dengan tiba-tiba berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya," kata Dwikorita seperti dikutip dari akun Twitter @InfoHumasBMKG, Kamis (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwikorita menyebut awan cumulonimbus biasanya tumbuh saat pagi menjelang siang dengan bentuk seperti bunga kol, warna keabu-abuan, serta tepian yang jelas. Namun, menurutnya, awan itu akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir, dan angin jelang sore.
Dia juga mengatakan curah hujan dapat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor.
"Karenanya, kepada masyarakat yg tinggal didaerah perbukitan yg rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati," sambungnya.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan tanda-tanda cuaca ekstrem terjadi dapat mulai dirasakan di wilayah Jabodetabek. Contohnya mana hujan es disertai angin kencang di sekitar kota Depok, yang menyebabkan pohon tumbang serta menimbulkan beberapa kerusakan lainnya pada Selasa (21/9) lalu.
Guswanto mengatakan berdasarkan analisis citra satelit diketahui kondisi itu terjadi karena ada pertumbuhan awan cumulonimbus yang sangat aktif terbentuk di sekitar wilayah Jabodetabek mulai siang hingga menjelang sore. Akibatnya adalah menyebabkan hujan dengan kategori sangat lebat dalam periode beberapa jam terjadi di wilayah Depok dan Bogor antara siang hingga sore.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Guwanto mengatakan BMKG sudah menerbitkan peringatan dini pada 13 September lalu mengenai potensi cuaca ekstrem selama periode pancaroba untuk wilayah Jawa Barat dan wilayah lainnya.
Peringatan dini tersebut, lanjut dia, kemudian dipertajam dengan informasi peringatan dini dalam skala waktu harian, di mana wilayah Jawa Barat termasuk wilayah yang berpotensi hujan lebat pada Senin lalu.
"Kemudian pada 21 September 2021, BMKG mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang meliputi wilayah Jabodetabek termasuk wilayah Depok dan sekitarnya mulai siang hari jam 13.30 WIB dengan potensi hingga malam hari," katanya.
Guswanto menjelaskan, cuaca ekstrem yang terjadi tersebut disebabkan oleh fenomena gelombang atmosfer yang teridentifikasi aktif di sekitar wilayah Indonesia termasuk di wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dia mengatakan dalam sepekan ke depan diperkirakan hampir sebagian wilayah Indonesia berpotensi diguyur hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, atau angin kencang seperti di Riau, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Wilayah lainnya, yaitu Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat serta Papua.
Guswanto mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama musim pancaroba demi menghindari risiko korban jiwa akibat cuaca ekstrem.
"BMKG terus memperbaharui informasi mengenai cuaca yang bisa diakses seluruh masyarakat melalui aplikasi InfoBMKG. Saat angin kencang, bagi pengendara lebih baik menepi dulu untuk menghindari risiko pohon atau baliho tumbang," kata Guswanto.
"Bagi para nelayan juga waspada gelombang tinggi. Jangan memaksakan melaut jika cuaca sedang buruk. Update terus informasi melalui InfoBMKG untuk mengetahui prakiraan cuaca di seluruh wilayah Indonesia," tambah Guswanto.
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan atau pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan saat ini.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan kondisi cuaca bisa berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya secara mendadak. Namun, menurutnya, secara umum biasanya cuaca cerah di pagi, kemudian mulai tumbuh awan pada siang, dan hujan jelang sore atau malam.
"Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai dari hujan disertai petir dan angin kencang serta hujan es. Arah angin bertiup sangat bervariasi sehingga mengakibatkan kondisi cuaca bisa dengan tiba-tiba berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya," kata Dwikorita seperti dikutip dari akun Twitter @InfoHumasBMKG, Kamis (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwikorita menyebut awan cumulonimbus biasanya tumbuh saat pagi menjelang siang dengan bentuk seperti bunga kol, warna keabu-abuan, serta tepian yang jelas. Namun, menurutnya, awan itu akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir, dan angin jelang sore.
Dia juga mengatakan curah hujan dapat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor.
"Karenanya, kepada masyarakat yg tinggal didaerah perbukitan yg rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati," sambungnya.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan tanda-tanda cuaca ekstrem terjadi dapat mulai dirasakan di wilayah Jabodetabek. Contohnya mana hujan es disertai angin kencang di sekitar kota Depok, yang menyebabkan pohon tumbang serta menimbulkan beberapa kerusakan lainnya pada Selasa (21/9) lalu.
Guswanto mengatakan berdasarkan analisis citra satelit diketahui kondisi itu terjadi karena ada pertumbuhan awan cumulonimbus yang sangat aktif terbentuk di sekitar wilayah Jabodetabek mulai siang hingga menjelang sore. Akibatnya adalah menyebabkan hujan dengan kategori sangat lebat dalam periode beberapa jam terjadi di wilayah Depok dan Bogor antara siang hingga sore.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
BMKG Minta Waspada Cuaca Ekstrem: Panas Bisa Tiba-tiba Hujan
BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan atau pancaroba. (Unsplash/Iren Petrova)
Guwanto mengatakan BMKG sudah menerbitkan peringatan dini pada 13 September lalu mengenai potensi cuaca ekstrem selama periode pancaroba untuk wilayah Jawa Barat dan wilayah lainnya.
Peringatan dini tersebut, lanjut dia, kemudian dipertajam dengan informasi peringatan dini dalam skala waktu harian, di mana wilayah Jawa Barat termasuk wilayah yang berpotensi hujan lebat pada Senin lalu.
"Kemudian pada 21 September 2021, BMKG mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang meliputi wilayah Jabodetabek termasuk wilayah Depok dan sekitarnya mulai siang hari jam 13.30 WIB dengan potensi hingga malam hari," katanya.
Guswanto menjelaskan, cuaca ekstrem yang terjadi tersebut disebabkan oleh fenomena gelombang atmosfer yang teridentifikasi aktif di sekitar wilayah Indonesia termasuk di wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dia mengatakan dalam sepekan ke depan diperkirakan hampir sebagian wilayah Indonesia berpotensi diguyur hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, atau angin kencang seperti di Riau, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Wilayah lainnya, yaitu Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat serta Papua.
Guswanto mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama musim pancaroba demi menghindari risiko korban jiwa akibat cuaca ekstrem.
"BMKG terus memperbaharui informasi mengenai cuaca yang bisa diakses seluruh masyarakat melalui aplikasi InfoBMKG. Saat angin kencang, bagi pengendara lebih baik menepi dulu untuk menghindari risiko pohon atau baliho tumbang," kata Guswanto.
"Bagi para nelayan juga waspada gelombang tinggi. Jangan memaksakan melaut jika cuaca sedang buruk. Update terus informasi melalui InfoBMKG untuk mengetahui prakiraan cuaca di seluruh wilayah Indonesia," tambah Guswanto.