Faktor Pemicu Fenomena Hujan Tanpa Mendung Menurut BMKG

CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 08:13 WIB
BMKG menyatakan fenomena hujan tanpa mendung saat musim pancaroba sudah lazim akibat berbagai faktor. BMKG menyatakan fenomena hujan tanpa mendung saat musim pancaroba sudah lazim akibat berbagai faktor. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) angkat bicara menjelaskan tentang fenomena hujan tanpa mendung saat musim pancaroba.

Peneliti Meteorologi BMKG, Deni Septiadi, mengatakan fenomena itu umum dan lazim terjadi. Menurutnya, peristiwa hujan tanpa mendung lebih banyak terjadi di masa peralihan atau pancaroba, walau tidak menutup kemungkinan terjadi juga saat kemarau dan hujan.

"Sebetulnya itu fenomena umum, lazim, enggak dikhususkan, memang lebih banyak di pancaroba," kata Deni kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/9).


Ia menjelaskan proses pembentukan awan membutuhkan pemanasan, konveksi, kemudian terbentuk proses inti kondensasi awan. Setelah terbentuk, lanjutnya, awan memiliki tiga fase yaitu kumulus, matang atau mature, kemudian disipasi alias punah.

"Awan itu kalau seandainya sudah terbentuk awan itu ada yang menyebut awan konvektif dan awan kalau sudah dewasa sekali bahkan kita sebut awan cb [cumulonimbus] biasanya," ujar Deni.

Deni mengatakan, awan seharusnya mencurahkan hujan setelah berada fase matang. Menurutnya, fenomena hujan tanpa mendung terjadi karena awan sudah menghasilkan hujan sebelum memasuki fase matang.

Deni berkata, fenomena hujan tanpa mendung biasanya disebut oleh pihaknya sebagai hujan prematur.

"Awan yang belum pada fase matang bisa jadi dia proses untuk energi pembentukan habis atau mungkin terpengaruh angin dia malah mengeluarkan isinya itu, kan tetes air sudah terbentuk. Nah, tetes air itu yang dicurahkan sehingga kalau kita sebut itu hujan prematur sebetulnya," ucap Deni.

Menurut Deni secara fisik fenomena hujan tanpa mendung alias hujan prematur lebih banyak terjadi di antara Maret hingga Agustus. Namun, menurut Deni tidak menutup kemungkinan fenomena itu terjadi juga di musim hujan atau kemarau, terutama untuk daerah-daerah dengan konvektif termal murni seperti Kalimantan.

"Itu namanya proses hujan yang terjadi akibat proses konvektif termal murni. Orang Kalimantan biasa, dia lagi jalan tiba-tiba hujan, hujannya mungkin gerimis, agak-agak enggak lebat, tapi terasa airnya di bawah. Itu biasanya daerah dengan kategori itu," ujar Deni.

Menurutnya, fenomena tersebut jarang ditemukan terjadi di Jawa karena proses konvektif di Jawa juga dipengaruhi oleh orografi.

"Proses konvektifnya yang paling mendukung itu proses konvektif secara termal, kalau daerah Jawa itu selain termal ada pengaruh orografi," ucap Deni.

(mts/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK