Kota Diduga Sodom Gomora Hangus dan Meleleh Dihantam Asteroid
mrh | CNN Indonesia
Jumat, 24 Sep 2021 13:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Arkeolog mengungkap bukti-bukti berupa material yang hangus dan meleleh akibat hantaman asteroid di kota yang diduga Sodom-Gomora.(AFP/KHALIL MAZRAAWI)
Kota kuno ini ada di Lembah Yordania diperkirakan hancur akibat hantaman asteroid sekitar 3.600 tahun lalu. Kota kuno itu diperkirakan menjadi sumber tentang kisah Sodom dan Gomora yang dipaparkan dalam Al-Qur'an dan Alkitab. Dua kota tersebut diduga hancur akibat hantaman asteroid.
Sebuah makalah yang diterbitkan Nature Scientific Reports mengatakan bahwa ledakan di Tall el-Hammam cukup besar sehingga mampu meratakan seisi kota termasuk istana, bangunan dan tembok yang mengelilinginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, penelitian ini lebih berfokus membedah efek dari hantaman benda langit tersebut, dan bukan menyelidiki lebih lanjut apakah Tall el-Hammam memang benar-benar merupakan lokasi kota Sodom dan Gomora.
Para arkeolog telah menemukan bahan-bahan seperti tembikar yang meleleh menjadi kaca, bata lumpur yang menggelegak, dan bahkan bahan bangunan yang meleleh.
Namun, dalam temuan ini barang-barang itu meleleh pada suhu jauh di atas rata-rata. Suhu yang melelehkan benda-benda ini ada di atas metode pemanasan apapun yang bahkan dihasilkan secara buatan.
"Kami melihat bukti suhu yang lebih besar dari 2.000 derajat celcius," kata Kennett.
Di antara bahan hangus dan struktur yang hancur adalah sisa-sisa kerangka manusia yang terfragmentasi. Kennett dan timnya menganalisis apa yang direpresentasikan oleh material yang hangus dan meleleh, serta sisa-sisa jasad manusia dengan "disartikulasi ekstrem dan fragmentasi kerangka".
Dari analisis tanah mengungkapkan kandungan pada bola kecil besi dan silika serta logam cair yang ada di wilayah kota kuno tersebut. Kennett menambahkan bukti utama ledakan udara yang ditemukan oleh timnya adalah bahan yang disebut mineral kuarsa kejut atau shocked quartz.
"Ini adalah butiran pasir yang mengandung retakan yang terbentuk hanya di bawah tekanan yang sangat tinggi. Kami telah mengejutkan kuarsa dari lapisan ini, dan itu berarti ada tekanan luar biasa yang terlibat untuk mengejutkan kristal kuarsa. Kuarsa sendiri merupakan salah satu mineral terkeras, sangat sulit untuk disetrum," kata Kennett.
Daerah itu juga memiliki kadar garam tinggi pada lapisan-lapisan yang terbentuk pada saat ledakan udara. Menurut penulis, lapisan itu bisa saja terlempar oleh ledakan. Kennett menyimpulkan hal itu bisa menjadi alasan mengapa Laut Mati sangat kaya akan garam.
Dahsyat ledakan asteroid
Studi tersebut membandingkan ledakan udara yang terjadi sekitar 1650 SM dengan Peristiwa Tunguska yang terjadi pada 1908 ketika meteor setinggi 183 hingga 196 kaki memasuki atmosfer bumi, tepatnya di langit Siberia Timur dengan kecepatan sekitar 33.500 mil per jam yang kemudian meledak.
Ledakan udara yang dihasilkan melepaskan sekitar 12 megaton energi, setara dengan sekitar seribu kali energi bom atom yang membumihanguskan Hiroshima.
Para penulis termasuk profesor emeritus ilmu bumi di UC Santa Barbara, James Kennett, percaya bahwa ledakan udara kuno ini bahkan bisa lebih kuat daripada yang ada di balik Peristiwa Tunguska.
"Ada bukti ledakan kosmik besar, dekat dengan kota yang disebut Tall el-Hammam ini," kata Kennett seperti dikutip dari Newsweek, Selasa (21/9).
Kennett juga mengatakan bahwa kota tersebut menjadi area budaya yang sangat penting lantaran sebagian besar kompleksitas budaya awal peradaban manusia berkembang ada di sana.
Situs tersebut juga telah menjadi salah satu yang populer bagi para arkeolog, tetapi di antara lapisan-lapisan yang memberikan bukti adanya pemukiman mulai dari Zaman Tembaga (5000 hingga 3300 SM) hingga Zaman Perunggu (3300 hingga 1200 SM), terdapat interval 1,5 meter yang aneh.
Tell el-Hamman, yang terletak di timur laut Laut Mati dan merupakan salah satu wilayah yang paling padat penduduknya selama Zaman Perunggu dengan populasi 10 kali lipat dari Yerusalem. Kota itu telah dikaitkan dengan kota Sodom selama bertahun-tahun.
Pada 2015, profesor studi Alkitab dan apologetika di Trinity Southwest University, Dr. Steven Collins, mengatakan kepada situs Popular Archaeology bahwa Tall el-Hammam memenuhi "setiap kriteria" Sodom.
Deskripsi peristiwa ledakan meteor itu terdengar seperti kisah kehancuran Alkitab, tetapi Kennett tidak mau gegabah.
"Semua pengamatan yang dinyatakan dalam Kejadian konsisten dengan ledakan kosmik, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa kota yang hancur ini memang Sodom dari Perjanjian Lama," ujar Kennett.
Kota kuno ini ada di Lembah Yordania diperkirakan hancur akibat hantaman asteroid sekitar 3.600 tahun lalu. Kota kuno itu diperkirakan menjadi sumber tentang kisah Sodom dan Gomora yang dipaparkan dalam Al-Qur'an dan Alkitab. Dua kota tersebut diduga hancur akibat hantaman asteroid.
Sebuah makalah yang diterbitkan Nature Scientific Reports mengatakan bahwa ledakan di Tall el-Hammam cukup besar sehingga mampu meratakan seisi kota termasuk istana, bangunan dan tembok yang mengelilinginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, penelitian ini lebih berfokus membedah efek dari hantaman benda langit tersebut, dan bukan menyelidiki lebih lanjut apakah Tall el-Hammam memang benar-benar merupakan lokasi kota Sodom dan Gomora.
Para arkeolog telah menemukan bahan-bahan seperti tembikar yang meleleh menjadi kaca, bata lumpur yang menggelegak, dan bahkan bahan bangunan yang meleleh.
Namun, dalam temuan ini barang-barang itu meleleh pada suhu jauh di atas rata-rata. Suhu yang melelehkan benda-benda ini ada di atas metode pemanasan apapun yang bahkan dihasilkan secara buatan.
"Kami melihat bukti suhu yang lebih besar dari 2.000 derajat celcius," kata Kennett.
Di antara bahan hangus dan struktur yang hancur adalah sisa-sisa kerangka manusia yang terfragmentasi. Kennett dan timnya menganalisis apa yang direpresentasikan oleh material yang hangus dan meleleh, serta sisa-sisa jasad manusia dengan "disartikulasi ekstrem dan fragmentasi kerangka".
Dari analisis tanah mengungkapkan kandungan pada bola kecil besi dan silika serta logam cair yang ada di wilayah kota kuno tersebut. Kennett menambahkan bukti utama ledakan udara yang ditemukan oleh timnya adalah bahan yang disebut mineral kuarsa kejut atau shocked quartz.
"Ini adalah butiran pasir yang mengandung retakan yang terbentuk hanya di bawah tekanan yang sangat tinggi. Kami telah mengejutkan kuarsa dari lapisan ini, dan itu berarti ada tekanan luar biasa yang terlibat untuk mengejutkan kristal kuarsa. Kuarsa sendiri merupakan salah satu mineral terkeras, sangat sulit untuk disetrum," kata Kennett.
Daerah itu juga memiliki kadar garam tinggi pada lapisan-lapisan yang terbentuk pada saat ledakan udara. Menurut penulis, lapisan itu bisa saja terlempar oleh ledakan. Kennett menyimpulkan hal itu bisa menjadi alasan mengapa Laut Mati sangat kaya akan garam.
Gambaran dahsyat ledakan asteroid di kota yang diduga Sodom Gomora
Ilustrasi. Arkeolog mengungkap bukti-bukti berupa material yang hangus dan meleleh akibat hantaman asteroid di kota yang diduga Sodom-Gomora.(BULENT KILIC / AFP)
Dahsyat ledakan asteroid
Studi tersebut membandingkan ledakan udara yang terjadi sekitar 1650 SM dengan Peristiwa Tunguska yang terjadi pada 1908 ketika meteor setinggi 183 hingga 196 kaki memasuki atmosfer bumi, tepatnya di langit Siberia Timur dengan kecepatan sekitar 33.500 mil per jam yang kemudian meledak.
Ledakan udara yang dihasilkan melepaskan sekitar 12 megaton energi, setara dengan sekitar seribu kali energi bom atom yang membumihanguskan Hiroshima.
Para penulis termasuk profesor emeritus ilmu bumi di UC Santa Barbara, James Kennett, percaya bahwa ledakan udara kuno ini bahkan bisa lebih kuat daripada yang ada di balik Peristiwa Tunguska.
"Ada bukti ledakan kosmik besar, dekat dengan kota yang disebut Tall el-Hammam ini," kata Kennett seperti dikutip dari Newsweek, Selasa (21/9).
Kennett juga mengatakan bahwa kota tersebut menjadi area budaya yang sangat penting lantaran sebagian besar kompleksitas budaya awal peradaban manusia berkembang ada di sana.
Situs tersebut juga telah menjadi salah satu yang populer bagi para arkeolog, tetapi di antara lapisan-lapisan yang memberikan bukti adanya pemukiman mulai dari Zaman Tembaga (5000 hingga 3300 SM) hingga Zaman Perunggu (3300 hingga 1200 SM), terdapat interval 1,5 meter yang aneh.
Tell el-Hamman, yang terletak di timur laut Laut Mati dan merupakan salah satu wilayah yang paling padat penduduknya selama Zaman Perunggu dengan populasi 10 kali lipat dari Yerusalem. Kota itu telah dikaitkan dengan kota Sodom selama bertahun-tahun.
Pada 2015, profesor studi Alkitab dan apologetika di Trinity Southwest University, Dr. Steven Collins, mengatakan kepada situs Popular Archaeology bahwa Tall el-Hammam memenuhi "setiap kriteria" Sodom.
Deskripsi peristiwa ledakan meteor itu terdengar seperti kisah kehancuran Alkitab, tetapi Kennett tidak mau gegabah.
"Semua pengamatan yang dinyatakan dalam Kejadian konsisten dengan ledakan kosmik, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa kota yang hancur ini memang Sodom dari Perjanjian Lama," ujar Kennett.