Mengenal Varian Baru AY.4.2, Bikin Kasus Covid-19 Naik

CNN Indonesia
Kamis, 21 Oct 2021 17:30 WIB
Mengenal turunan varian Delta, AY.4.2 yang disebut punya tingkat penularan lebih tinggi sehingga kasus Covid-19 naik 10 persen di Inggris. Foto: iStockphoto/koto_feja
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli tengah menaruh perhatian pada turunan virus corona varian Delta, AY.4.2 yang kini angka kasusnya tengah meningkat 10 persen di Inggris dan sejumlah negara Eropa. 

Direktur Sistem Komputasi di Institur Genetika UCL, Inggris, sekaligus Profesor Biologi, Profesor Francois Balloux mengatakan varian AY.4.2 merupakan garis keturunan SARS-CoV-2 yang baru-baru ini frekuensinya telah meningkat di Inggris.

Varian ini disebut sebagai keturunan dari varian Delta B.1.167.2 yang membawa dua mutasi karakteristik pada spike, Y145H dan A222V.


Kementerian Kesehatan Israel mengkonfirmasi kasus Covid-19 terbaru yang timbul akibat subvarian dari strain delta virus corona yang disebut AY.4.2. Selain di Israel, varian tersebut lebih dulu ditemukan di negara Eropa.

"Sebagian besar mutasi SARS-CoV-2 telah muncul secara independen berkali-kali pada strain yang tidak terkait. Meskipun lonjakan mutasi Y145H dan A222V telah ditemukan di berbagai garis keturunan SARS-CoV-2 lainnya sejak awal pandemi, tetapi tetap pada frekuensi rendah hingga sekarang. Strain pertama yang membawa kedua mutasi sejak April 2020 tidak ada yang ditemukan di Variant of Concern mana pun," kata Balloux dikutip Science Media Centre

Spike Y145H dan A222V sebelumnya ditemukan dalam garis keturunan varian Delta B.1.177 yang berkembang di Eropa pada musim panas 2020. Namun, dari analisis dan tindak lanjut yang dilakuan menunjukkan bahwa garis keturunan tersebut kemungkinan tidak memiliki keunggulan transmisi yang melekat dan penyebarannya kemungkinan besar disebabkan oleh proses demografis.

Positifnya, Balloux menyebut tidak ada mutasi yang secara pasti melalui analisa dan penyelidikan mendalam merupakan kandidat yang jelas untuk meningkatkan penularan virus.

"Tetapi kami telah belajar bahwa mutasi dapat memiliki efek yang berbeda, terkadang tidak terduga, pada jenis yang berbeda," tegasnya.

Saat ini, varian AY.4.2 sedang dipantau secara ketat di Inggris dan di tempat lain. Sebelum menjauh ke Israel, diketahui hanya ada tiga kasus yang terdeteksi di Amerika Serikat terkait varian tersebut.

Di Denmark, negara selain Inggris yang dianggap memiliki pengawasan genomik yang sangat baik, frekuensinya varian baru tersebut disebut mencapai 2 persen. Akan tetapi penularannya telah turun sejak lama.



Selain itu, pekerjaan fungsional sedang dilakukan khususnya untuk menguji apakah itu mungkin kurang dikenali oleh antibodi. Sebab, itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus akibat varian baru Covid-19 tersebut.

"AY.4.2 masih pada frekuensi yang cukup rendah dengan peningkatan 10 persen dalam penularannya dan hanya menimbulkan sejumlah kecil kasus tambahan. Sebab itu, keberadannya tidak mendorong peningkatan jumlah kasus baru-baru ini di Inggris."

"Munculnya strain lain yang lebih menular akan menjadi kurang optimal. Padahal, ini bukan situasi yang sebanding dengan kemunculan Alpha dan Delta yang jauh lebih menular (sekitar 50 persen atau lebih) daripada strain apa pun yang beredar saat itu. Di sini kita berhadapan dengan potensi peningkatan kecil dalam penularan yang tidak akan memiliki dampak yang sebanding pada pandemi secara keseluruhan," jelas Balloux.

Lebih Menular, Bikin Infeksi Covid-19 Naik

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER