Jakarta, CNN Indonesia -- Para ahli tengah menaruh perhatian pada turunan virus corona varian Delta, AY.4.2 yang kini angka kasusnya tengah meningkat 10 persen di Inggris dan sejumlah negara Eropa.
Direktur Sistem Komputasi di Institur Genetika UCL, Inggris, sekaligus Profesor Biologi, Profesor Francois Balloux mengatakan varian AY.4.2 merupakan garis keturunan SARS-CoV-2 yang baru-baru ini frekuensinya telah meningkat di Inggris.
Varian ini disebut sebagai keturunan dari varian Delta B.1.167.2 yang membawa dua mutasi karakteristik pada spike, Y145H dan A222V.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Kesehatan Israel mengkonfirmasi kasus Covid-19 terbaru yang timbul akibat subvarian dari strain delta virus corona yang disebut AY.4.2. Selain di Israel, varian tersebut lebih dulu ditemukan di negara Eropa.
"Sebagian besar mutasi SARS-CoV-2 telah muncul secara independen berkali-kali pada strain yang tidak terkait. Meskipun lonjakan mutasi Y145H dan A222V telah ditemukan di berbagai garis keturunan SARS-CoV-2 lainnya sejak awal pandemi, tetapi tetap pada frekuensi rendah hingga sekarang. Strain pertama yang membawa kedua mutasi sejak April 2020 tidak ada yang ditemukan di Variant of Concern mana pun," kata Balloux dikutip Science Media Centre.
Spike Y145H dan A222V sebelumnya ditemukan dalam garis keturunan varian Delta B.1.177 yang berkembang di Eropa pada musim panas 2020. Namun, dari analisis dan tindak lanjut yang dilakuan menunjukkan bahwa garis keturunan tersebut kemungkinan tidak memiliki keunggulan transmisi yang melekat dan penyebarannya kemungkinan besar disebabkan oleh proses demografis.
Positifnya, Balloux menyebut tidak ada mutasi yang secara pasti melalui analisa dan penyelidikan mendalam merupakan kandidat yang jelas untuk meningkatkan penularan virus.
"Tetapi kami telah belajar bahwa mutasi dapat memiliki efek yang berbeda, terkadang tidak terduga, pada jenis yang berbeda," tegasnya.
Saat ini, varian AY.4.2 sedang dipantau secara ketat di Inggris dan di tempat lain. Sebelum menjauh ke Israel, diketahui hanya ada tiga kasus yang terdeteksi di Amerika Serikat terkait varian tersebut.
Di Denmark, negara selain Inggris yang dianggap memiliki pengawasan genomik yang sangat baik, frekuensinya varian baru tersebut disebut mencapai 2 persen. Akan tetapi penularannya telah turun sejak lama.
Selain itu, pekerjaan fungsional sedang dilakukan khususnya untuk menguji apakah itu mungkin kurang dikenali oleh antibodi. Sebab, itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus akibat varian baru Covid-19 tersebut.
"AY.4.2 masih pada frekuensi yang cukup rendah dengan peningkatan 10 persen dalam penularannya dan hanya menimbulkan sejumlah kecil kasus tambahan. Sebab itu, keberadannya tidak mendorong peningkatan jumlah kasus baru-baru ini di Inggris."
"Munculnya strain lain yang lebih menular akan menjadi kurang optimal. Padahal, ini bukan situasi yang sebanding dengan kemunculan Alpha dan Delta yang jauh lebih menular (sekitar 50 persen atau lebih) daripada strain apa pun yang beredar saat itu. Di sini kita berhadapan dengan potensi peningkatan kecil dalam penularan yang tidak akan memiliki dampak yang sebanding pada pandemi secara keseluruhan," jelas Balloux.
Lebih Menular, Bikin Infeksi Covid-19 Naik
Mengenal turunan varian Delta, AY.4.2 yang disebut punya tingkat penularan lebih tinggi. (Dok. CNN.com)
Sementara itu Independent mengabarkan bahwa para ahli berspekulasi bahwa varian baru AY.4.2 bisa 15 persen lebih menular daripada varian Delta aslinya. Namun, para ahli juga tetapi tidak percaya kemunculannya akan menjadi bencana susulan bagi Inggris.
Data menunjukkan bahwa subvarian AY.4.2 bertanggung jawab atas hampir 10 persen infeksi baru pada awal Oktober. Sebuah pengarahan dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengatakan AY.4.2 telah berkembang dan akan terus mengalami peningkatan.
Para ahli berspekulasi bahwa itu bisa 10 hingga 15 persen lebih menular dari pada varian Delta asli, yang telah mendominasi di seluruh dunia. Dr Jeffrey Barrett, Direktur Inisiatif Genomics Covid-19 di Wellcome Sanger Institute, mengatakan keberadaan varian baru itu akan mengganggu, tetapi tidak akan menjadi bencana besar bagi Inggris dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, melalui media sosial Twitternya, Barrett menuliskan bahwa yang mungkin lebih mengkhawatirkan adalah virus itu menunjukkan keterbukaan jalur evolusioner ke penularan yang lebih tinggi dan ada jutaan kasus Delta di seluruh dunia tanpa banyak cakupan pengurutan.
Aris Katzourakis, seorang profesor evolusi dan genomik di Universitas Oxford, mengungkapkan keprihatiannya karena evolusi varian Delta virus Corona masih berlangsung sampai saat ini. Hal itu menandakan ada banyak ruang untuk adaptasi lebih lanjut terhadap transmisi ke manusia.
[Gambas:Photo CNN]
Pengujian sedang dilakukan untuk memastikan apakah sub-varian baru ini mungkin kurang dikenali oleh antibodi tubuh dan lebih baik dalam menghindari respons imun yang dihasilkan oleh vaksinasi atau infeksi sebelumnya.
Baik varian Alpha dan Delta menghasilkan lonjakan besar dalam kasus selama tahap awal pandemi. Tetapi dengan infeksi sekali lagi meningkat - hampir 50.000 orang dinyatakan positif Covid pada hari Senin - ada ketakutan bahwa munculnya AY.4.2 bisa menjadi awal dari gelombang baru sub-varian Delta.
"Kondisi ini mengkhawatirkan. Delta akan menjadi cabang dari banyak hal yang tumbuh saat ini," kata Dr Stephen Griffin, ahli virologi di Universitas Leeds.