ANALISIS

Teknologi Canggih di Balik Gagap Pengelola Pendeteksi Gunung Berapi

M. Ikhsan & Chandra Erlangga | CNN Indonesia
Rabu, 08 Dec 2021 17:48 WIB
Instrumen pemantau aktivitas gunung api sudah diterapkan di RI sesismometer atau perekam sensor getaran namun gagal mendeteksi erupsi. Gunung Semeru mengalami erupsi. (Foto: CNN Indonesia/Farid)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung berapi di Indonesia tersebar hampir ke seluruh penjuru tanah air. Julukan "Ring of Fire" disematkan ke Indonesia karena terdapat lebih dari 120 gunung api aktif.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, saat ini terdapat 3 gunung api aktif yang berstatus Level III atau siaga, sebanyak 17 gunung api dengan status Level II atau Waspada, dan 48 gunung api dengan Level I atau Normal.

Pada Sabtu (4/12), Gunung Semeru mengamuk dan meluluhlantakkan sejumlah rumah warga yang bermukim radius 11 kilometer dari puncak Semeru. Bencana datang secara mendadak, masyarakat mengaku tak menerima peringatan saat terjadinya erupsi.


Dengan banyaknya gunung api aktif muncul pertanyaan, mampukah Indonesia membangun sistem yang memberikan perlindungan bagi masyarakat dari mahadahsyatnya muntahan perut Bumi suhu 290 derajat celcius?

Ahli Geofisika dari Universitas Gajah Mada, Wiwit Suryanto menilai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah memiliki kelengkapan teknologi pantauan aktifvitas gunung berapi yang baik, namun kelengkapan instrumentasi belum bisa merata.

Meski begitu ia menilai pada Gunung berapi aktif sudah dimonitor aktivitasnya secara berkala

"Idealnya seperti di merapi itu kemungkinan early warning-nya bisa lebih bagus. Tapi kelengkapan instrumentasi mungkin belum bisa merata ya untuk gunung berapi. Kalau saya melihat kendalanya di sensitivitas alat, yang perlu kita tingkatkan lagi ke depan," ," ujar Wiwit kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Rabu (8/12).

Ia menjelaskan beberapa instrumen untuk memantau aktivitas gunung api, di antaranya seismometer atau perekam sensor getaran pada permukaan tanah.

Dari situ dia mengatakan para pengamat bisa tahu magma dari perut Bumi itu terlihat dari hiposenternya. Jika grafik menunjukkan semakin ke atas artinya ada magma yang naik.

Kemudian ada sinyal yang disebut dengan tremor atau getaran yang berlanjut. Menurutnya, tremor vulkanik merupakan gerakan gempa yang muncul terus selama beberapa jam. Biasanya hal itu menandakan magma naik ke atas perut Bumi.

Selain itu ada pula teknologi tiltmeter untuk mendeteksi kembang-kempisnya gunung. Menurutnya, gunung yang akan meletus itu biasanya ada peningkatan tekanan di tubuh gunung.

Peningkatan tekanan itu menyebabkan tubuh gunung seperti mengembang. Dengan begitu ada sensor yang bisa mendeteksi bentuk gunung dinamakan sensor tiltmeter.

Ia mengatakan di Gunung Merapi, Jawa Tengah misalnya, memiliki aktivitas gempa yang signifikan, sehingga begitu gempanya banyak akan otomatis menunjukkan tanda naik. Berarti bisa disimpulkan bahwa gunung akan terjadi erupsi.

Dibutukan Kejelian Pengelola Teknologi Pendeteksi Gunung Berapi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER