Ahli Beberkan Alasan Mutasi Varian Omicron Tak Lebih Bahaya dari Delta
CNN Indonesia
Senin, 03 Jan 2022 20:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah penelitian sejauh ini menyebut gejala yang ditimbulkan Omicron lebih ringan dari varian Corona sebelumnya, yaitu Delta. (Foto: REUTERS/DANISH SIDDIQUI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gejala yang disebabkan virus Corona varian Omicron sejauh ini disebut lebih ringan dari Delta. Hal tersebut kemungkinan karena Omicron tidak terlalu baik dalam menginfeksi sel.
"Kami berspekulasi bahwa semakin efisien virus menginfeksi sel kami, semakin parah penyakitnya," ujar Ravindra Gupta, seorang profesor mikrobiologi klinis di Cambridge Institute for Therapeutic Immunology and Infectious Diseases dalam sebuah pernyataan.
"Fakta bahwa Omicron tidak begitu baik dalam memasuki sel paru-paru dan menyebabkan lebih sedikit sel yang menyatu dengan tingkat infeksi yang lebih rendah di laboratorium menunjukkan varian baru ini dapat menyebabkan penyakit terkait paru-paru yang kurang parah," tambahnya.
Menurut studi yang dilakukan Gupta, varian Omicron dari SARS-CoV-2 disebut kurang efisien dalam menyusup ke paru-paru dan menyebar dari sel ke sel, dibandingkan dengan varian lain.
Hal tersebut mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa data penyebaran awal dari negara-negara seperti Afrika Selatan dan Inggris menunjukkan bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah.
Menurut studi yang baru diunggah pada Selasa (21/12) di database pracetak bioRxiv ini, meski Omicron mungkin tidak menyerang sel paru-paru secara efisien, varian ini diketahui dapat menghindari sebagian besar antibodi yang dibuat oleh individu yang mendapatkan vaksinasi penuh.
Kemudian serupa dengan penelitian lain, tim peneliti menunjukkan bahwa booster dari vaksin Pfizer dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan antibodi orang yang divaksinasi.
"Meskipun kami masih kira akan ada penurunan kekebalan yang terjadi dari waktu ke waktu," kata Gupta.
Penelitian ini belum ditinjau oleh sejawat atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah, tetapi temuan tersebut mengisyaratkan bahwa mutasi Omicron menghadirkan pedang bermata ganda.
"Mutasi Omicron menghadirkan virus dengan pedang bermata dua: ia menjadi lebih baik dalam menghindari sistem kekebalan, tetapi mungkin telah kehilangan sebagian dari kemampuannya menyebabkan penyakit parah," kata Gupta.
Meski demikian, para peneliti masih perlu memastikan bahwa hasil dari eksperimen di laboratorium ini cocok dengan apa yang terjadi pada pasien manusia, dan bahwa mutasi Omicron benar-benar mempengaruhi tingkat keparahan infeksi.
Dilansir dari NPR, data dari Afrika Selatan, Inggris dan negara-negara lain menunjukkan bahwa infeksi Omicron mungkin kurang parah, tetapi tingkat latar belakang kekebalan dari infeksi alami dan vaksinasi membuat hasil ini sulit untuk ditafsirkan.
Lanjut ke halaman berikutnya..
Penelitian di Laboratorium
Omicron diketahui memiliki lebih dari 30 mutasi pada gen yang mengatur spike proteinnya, bagian dari virus yang dihubungkan ke sel untuk memicu infeksi.
Untuk menyelidiki bagaimana mutasi spike protein ini dapat mengubah cara virus berinteraksi dengan sel, para peneliti merekayasa virus sintetis yang disebut pseudovirus. Pseudovirus nantinya akan berfungsi membawa spike protein Omicron.
Sebagai perbandingan, peneliti juga membuat pseudovirus dengan spike protein delta dan beberapa dengan lonjakan Wuhan-1, atau virus SARS-CoV-2 asli.
Tim peneliti ingin memahami bagaimana tiga mutasi spesifik Omicron di tempat yang disebut situs pembelahan polibasik (PBCS) memengaruhi kemampuan virus untuk memasuki sel.
Setelah spike protein dimasukkan ke dalam sel, PBCS membelah untuk memungkinkan materi genetik dari virus memasuki sel inang.
Pada penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada 8 Juni di jurnal Cell Reports, varian alfa dan delta membawa mutasi PBCS yang membantu mereka memasuki sel dengan lebih mudah.
Omicron membawa mutasi serupa pada gen PBCS-nya, sehingga tim peneliti memperkirakan bahwa virus ini mungkin menyelinap ke dalam sel semudah varian Alfa dan Delta.
Mereka menguji teori ini dengan menggunakan pseudovirus mereka untuk menginfeksi sel paru-paru manusia di laboratorium, serta organoid paru-paru.
Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa terlepas dari mutasi PBCS yang terkait, Omicron kurang efisien dalam memasuki sel paru-paru dan organoid daripada delta dan malah lebih mirip dengan Wuhan-1.
Dilansir dari Live Science, Delta juga mengungguli Omicron dalam percobaan kedua. Saat memasuki sel, pseudovirus delaa memicu fusi sel, sebuah fenomena yang menyatukan sel-sel tetangga dan memungkinkan virus menyebar dengan cepat di antara mereka.
Fusi sel-sel yang meluas di paru-paru sering terlihat dalam konteks Covid-19 yang parah. Namun dalam percobaan kali ini, Omicron melakukan fusi sel dengan kurang efisien dibandingkan Delta, dan ini tampaknya menghambat kemampuan virus untuk bereplikasi dalam sel paru-paru.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gejala yang disebabkan virus Corona varian Omicron sejauh ini disebut lebih ringan dari Delta. Hal tersebut kemungkinan karena Omicron tidak terlalu baik dalam menginfeksi sel.
"Kami berspekulasi bahwa semakin efisien virus menginfeksi sel kami, semakin parah penyakitnya," ujar Ravindra Gupta, seorang profesor mikrobiologi klinis di Cambridge Institute for Therapeutic Immunology and Infectious Diseases dalam sebuah pernyataan.
"Fakta bahwa Omicron tidak begitu baik dalam memasuki sel paru-paru dan menyebabkan lebih sedikit sel yang menyatu dengan tingkat infeksi yang lebih rendah di laboratorium menunjukkan varian baru ini dapat menyebabkan penyakit terkait paru-paru yang kurang parah," tambahnya.
Menurut studi yang dilakukan Gupta, varian Omicron dari SARS-CoV-2 disebut kurang efisien dalam menyusup ke paru-paru dan menyebar dari sel ke sel, dibandingkan dengan varian lain.
Hal tersebut mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa data penyebaran awal dari negara-negara seperti Afrika Selatan dan Inggris menunjukkan bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah.
Menurut studi yang baru diunggah pada Selasa (21/12) di database pracetak bioRxiv ini, meski Omicron mungkin tidak menyerang sel paru-paru secara efisien, varian ini diketahui dapat menghindari sebagian besar antibodi yang dibuat oleh individu yang mendapatkan vaksinasi penuh.
Kemudian serupa dengan penelitian lain, tim peneliti menunjukkan bahwa booster dari vaksin Pfizer dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan antibodi orang yang divaksinasi.
"Meskipun kami masih kira akan ada penurunan kekebalan yang terjadi dari waktu ke waktu," kata Gupta.
Penelitian ini belum ditinjau oleh sejawat atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah, tetapi temuan tersebut mengisyaratkan bahwa mutasi Omicron menghadirkan pedang bermata ganda.
"Mutasi Omicron menghadirkan virus dengan pedang bermata dua: ia menjadi lebih baik dalam menghindari sistem kekebalan, tetapi mungkin telah kehilangan sebagian dari kemampuannya menyebabkan penyakit parah," kata Gupta.
Meski demikian, para peneliti masih perlu memastikan bahwa hasil dari eksperimen di laboratorium ini cocok dengan apa yang terjadi pada pasien manusia, dan bahwa mutasi Omicron benar-benar mempengaruhi tingkat keparahan infeksi.
Dilansir dari NPR, data dari Afrika Selatan, Inggris dan negara-negara lain menunjukkan bahwa infeksi Omicron mungkin kurang parah, tetapi tingkat latar belakang kekebalan dari infeksi alami dan vaksinasi membuat hasil ini sulit untuk ditafsirkan.
Lanjut ke halaman berikutnya..
Penelitian di Laboratorium
Foto: iStockphoto
Penelitian di Laboratorium
Omicron diketahui memiliki lebih dari 30 mutasi pada gen yang mengatur spike proteinnya, bagian dari virus yang dihubungkan ke sel untuk memicu infeksi.
Untuk menyelidiki bagaimana mutasi spike protein ini dapat mengubah cara virus berinteraksi dengan sel, para peneliti merekayasa virus sintetis yang disebut pseudovirus. Pseudovirus nantinya akan berfungsi membawa spike protein Omicron.
Sebagai perbandingan, peneliti juga membuat pseudovirus dengan spike protein delta dan beberapa dengan lonjakan Wuhan-1, atau virus SARS-CoV-2 asli.
Tim peneliti ingin memahami bagaimana tiga mutasi spesifik Omicron di tempat yang disebut situs pembelahan polibasik (PBCS) memengaruhi kemampuan virus untuk memasuki sel.
Setelah spike protein dimasukkan ke dalam sel, PBCS membelah untuk memungkinkan materi genetik dari virus memasuki sel inang.
Pada penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada 8 Juni di jurnal Cell Reports, varian alfa dan delta membawa mutasi PBCS yang membantu mereka memasuki sel dengan lebih mudah.
Omicron membawa mutasi serupa pada gen PBCS-nya, sehingga tim peneliti memperkirakan bahwa virus ini mungkin menyelinap ke dalam sel semudah varian Alfa dan Delta.
Mereka menguji teori ini dengan menggunakan pseudovirus mereka untuk menginfeksi sel paru-paru manusia di laboratorium, serta organoid paru-paru.
Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa terlepas dari mutasi PBCS yang terkait, Omicron kurang efisien dalam memasuki sel paru-paru dan organoid daripada delta dan malah lebih mirip dengan Wuhan-1.
Dilansir dari Live Science, Delta juga mengungguli Omicron dalam percobaan kedua. Saat memasuki sel, pseudovirus delaa memicu fusi sel, sebuah fenomena yang menyatukan sel-sel tetangga dan memungkinkan virus menyebar dengan cepat di antara mereka.
Fusi sel-sel yang meluas di paru-paru sering terlihat dalam konteks Covid-19 yang parah. Namun dalam percobaan kali ini, Omicron melakukan fusi sel dengan kurang efisien dibandingkan Delta, dan ini tampaknya menghambat kemampuan virus untuk bereplikasi dalam sel paru-paru.