Ahli RI soal Hacker Serang Rusia: Siber Rusia Ketat, Tidak Bisa Bantah

CNN Indonesia
Rabu, 02 Mar 2022 15:53 WIB
Menurut pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha, serangan siber ke Rusia menjadi tantangan bagi para hacker anonymous. Militer Rusia menduduki sebuah wilayah di Ukraina. (Foto: REUTERS/ALEXANDER ERMOCHENKO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha menanggapi kelompok hacker anonymous dunia yang berbondong-bondong menyerang sistem keamanan digital Rusia. Rusia dikenal sebagai negara dengan sistem keamanan digital yang sangat kuat.

Menurut Pratama, serangan siber ke Rusia menjadi tantangan bagi para hacker anonymous.

"Rusia termasuk yang sangat ketat soal keamanan siber. Bahkan dalam beberapa kali kesempatan terlihat dari foto Valimir Putin masih memakai Windows XP yang dimodifikasi demi keamanan Kremlin. Ini menunjukkan mereka sudah sangat waspada pada level yang cukup tinggi," kata Pratama kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Rabu (2/3).

Meski begitu sebuah sistem keamanan digital tak sepenuhnya aman dari berbagai serangan. Dengan begitu, dibutuhkan pemutakhiran dan serangkaian tindakan untuk mendeteksi secara dini adanya serangan.

Bila perlu, kata Pratama dibutuhkan juga intelijen siber untuk mengetahui potensi tindak serangan siber, untuk dielaborasi dengan sistem keamanan lain.

"Semua sistem selalu ada kesempatan diretas, bahkan kepada CIA, Kanselir Jerman Angela Merkel dan juga Presiden Prancis Emanuele Marcon juga menjadi korban peretasan serta mata-mata," pungkasnya.

Dia mengatakan ekosistem keamanan siber meliputi deteksi, mitigasi dan pemrosesan. Bukan berarti sistem digital tidak bisa diretas, karena selalu ada celah untuk meretas sistem sekuat apapun, namun demikian ia tak menampik Rusia memiliki tingkat kewaspadaan dan standar tinggi ihwal keamanan siber.

"Rusia termasuk yang punya kewaspadaan dan standar tinggi soal keamanan siber, itu kita tidak bisa bantah," tuturnya.

Menyoal sumber daya manusia andal yang dimiliki Rusia. Pratama menilai sederet teknologi yang tak mudah diretas lahir dari Rusia. Salah satunya aplikasi pesan singkat, Telegram yang dibuat oleh warga Rusia, Pavel Durov.

Kelompok hacker yang cukup disegani dunia juga lahir dari Rusia, salah satunya geng yang baru meretas data Bank Indonesia, Ransomware Conti.

Kelompok itu disebut Pratama paling disegani, karena kerap berhasil meretas sistem keamanan, dan mengunggah bukti penetasannya.

"Bahkan dalam perang Ukraina-Rusia ini, grup conti secara terang-terangan memberikan peringatan pada semua pihak yang meretas sistem milik Rusia," ujarnya.

Sebelumnya Rusia mendapatkan perlawanan dari jagat maya menggunakan teknik Distributed Denial of Service (DDoS). Serangan itu menghasilkan banjir trefik 'bodong' pada sebuah situs, sehingga tak bisa diakses.

Serangan siber itu datang dari kelompok hacker anonymous yang terus merusak sistem komputer di Rusia. Kelompok itu menargetkan kantor berita Rusia, media swasta lokal, sistem pemerintahan, lembaga keuangan dan fasilitas penting lain.

Namun peretas mengklaim tak akan mengganggu fasilitas yang berhubungan langsung dengan warga Rusia, seperti pembangkit tenaga listrik. Perang siber ini diharapkan bisa melemahkan Rusia di dunia maya.

Downdetector melaporkan banyak situs web di Rusia telah terganggu dan tidak bisa diakses. Kantor berita Rusia, Russia Today mengkonfirmasi situs serta situs Kremlin telah offline.

(can/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER