'Cuci Otak' Terawan Berbekal Testimoni, Pakar Sindir Batu Ponari
CNN Indonesia
Jumat, 08 Apr 2022 18:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Dokter Terawan memakai metode 'cuci otak' yang belum tersertifikasi IDI untuk mengobati pasien stroke. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Metode 'cuci otak' mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dinilai tak bisa menjadi sahih hanya karena jutaan testimoni. Tanpa pengujian empirik, teknik itu tak ubahnya seperti 'batu Ponari' atau 'tongkat Perkins'.
Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) merekomendasikan pemberhentian Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) salah satunya didasarkan oleh metode 'cuci otak' itu.
Terapi penyakit stroke itu juga dikenal sebagai Intra-Arterial Heparin Flushing (IAHF) yang merupakan modifikasi Digital Subtraction Angiography (DSA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika pasien meyakini bahwa itu bisa menyembuhkan. Tak heran, jika 'batu Ponari' pun pernah berhasil menyembuhkan berbagai penyakit pada ratusan orang. Perlu dipahami, dunia kedokteran tak memberi tempat untuk testimoni karena tak bisa diuji," kata Pengamat Masalah Kesehatan Bambang Budiono melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (8/4).
"Sekalipun diucapkan oleh seorang Menteri atau bahkan presiden pun, testimoni tak akan pernah memiliki nilai setara bukti klinis," imbuhnya.
Diketahui, Ponari, bocah asal Jombang, Jawa Timur, sempat menarik perhatian massa, pada 2009, lantaran memiliki batu yang diklaim ajaib hingga bisa mengobati berbagai penyakit. Ratusan orang bisa mengantri di rumahnya menanti sentuhan ajaib batu itu. Kini, itu hanya tinggal cerita.
Bambang, yang juga dokter spesialis jantung itu, melanjutkan, dalam menguji keampuhan suatu metode pengobatan, terdapat beberapa cara atau metodologi yang lazim dilakukan dan telah diterima secara luas di dunia medis.
Di antaranya, dapat menggunakan hasil antara atau 'surrogate end point'. Misalnya ketika melihat adanya perubahan penanda khusus dari hasil laboratorium, melihat perubahan dari pencitraan khusus seperti kardiologi nuklir, ekokardiografi, dan lain-lain, yang kemudian digunakan untuk melihat dampak suatu pengobatan.
Selain itu, dokter maupun peneliti dapat menggunakan data klinis sebagai hasil akhir, seperti misalnya pada peningkatan kemampuan fisik, penurunan kekerapan dirawat di rumah sakit, penurunan kejadian serangan penyakit, dan lainnya.
Keunggulan suatu metoda pengobatan, katanya, bisa dilakukan dengan membandingkan obat atau metode baru dengan terapi standar atau membandingkan dengan suatu bahan yang tidak aktif yang disebut plasebo.
"Penelitian yang terbaik jika dilakukan randomisasi atau acak. Pasien dan dokter tak tahu yang mana obat aktif dan mana plasebo, karena kemasan plasebo dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk obat atau zat aktif, biasanya akan diberi kode dan pada akhir penelitian baru dibuka untuk mengetahui mana yang zat aktif dan mana yang plasebo," jelasnya.
Bambang kemudian mewanti-wanti, plasebo dapat memiliki dampak seperti zat aktif, baik khasiat maupun efek sampingnya. Sehingga tidak asing menurutnya apabila ada pasien yang memperoleh kapsul berisi tepung, namun bisa mengakibatkan penurunan kadar gula darah, tensi darah, hingga kadar kolesterol.
Dengan melihat kondisi itu, Bambang menyebut bahwa penelitian dengan desain yang baik akan menjawab apakah obat atau metode yang diberikan pada pasien itu benar-benar memiliki manfaat klinis. Semakin banyak yang terlibat penelitian, semakin kuat kesimpulan yang didapat.
Tongkat Perkins
Bambang kemudian mengingatkan kisah nyata tentang tongkat Perkins temuan Elisha Perkins, ahli bedah Angkatan Darat Kontinental selama Pertempuran Bunker Hill saat Perang Revolusi Amerika, 1795-1996
Perkins kemudian mematenkan alat tersebut selama 14 tahun pada 19 Februari 1796. Tongkat tersebut terdiri dari dua batang logam 3 inci dengan ujung runcing.
Dia mengklaim tongkat ciptaannya terbuat dari paduan logam yang tidak biasa dan bisa menyembuhkan berbagai peradangan, rematik, dan nyeri kepala dan wajah. Testimoni dari mulut ke mulut membuat metode itu mengalami 'booming' di masa itu.
"Perkins mengklaim cara ini bisa mengeluarkan cairan listrik berbahaya yang menjadi penyebab keluhan pasien," tutur Bambang.
Bambang melanjutkan, Ikatan Dokter Connecticut kala itu mengutuk metode itu sebagai 'perdukunan delusi, dan mengeluarkan Perkins dari keanggotaan. Namun Perkins berhasil meyakinkan tiga fakultas kedokteran AS bahwa metodenya berhasil. Di Kopenhagen, Denmark, dua belas ahli bedah di Royal Frederick Hospital juga mulai mendukung metode itu.
Perkins kala itu membanggakan 5 ribu kasus yang telah berhasil disembuhkan oleh tongkatnya. Bahkan, metoda penyembuhan tersebut disertifikasi oleh delapan profesor, empat puluh dokter, dan tiga puluh pendeta. Bahkan presiden Washington pun tergiur untuk membelinya.
Namun demikian, setelah kematian Perkins, dokter Inggris mulai meragukan kehebatan tongkatnya. Sehingga pada tahun 1799, Dr. John Haygarth melakukan uji coba. Ia merawat lima pasien rematik dengan tongkat kayu yang dibuat menyerupai logam.
Empat dari mereka melaporkan bahwa rasa sakitnya berkurang. Keesokan harinya pasien dirawat dengan tongkat logam dengan hasil yang sama. Dr. Haygarth melaporkan temuannya dalam publikasi berjudul 'On the Imagination as a Cause & as a Cure of the Disorders of the Body'.
Bambang melanjutkan Perkins memiliki banyak pendukung berpengaruh dan penjualan tongkat nya masih tetap berlanjut kala itu. Namun dengan kematian Putra Perkins pada tahun 1810, popularitas tongkat Perkins mulai menghilang.
"Belakangan ini media online dan televisi diwarnai berita pemberhentian seorang dokter ternama dari keanggotaan IDI. Beritanya semakin ramai dengan maraknya para tokoh masyarakat memberi testimoni yang menyatakan bahwa selama ini yang bersangkutan telah berhasil menyembuhkan ribuan orang dengan metoda terapi yang masih diperdebatkan manfaatnya, dan menjadi salah satu penyebab alasan pemberhentian." ujar Bambang.
"Sebagai sejawat yang telah menyatakan sumpah sebagai saudara kandung, tentu ikut prihatin dan sedih akan peristiwa tersebut, namun itu suatu keputusan yang telah diambil di forum tertinggi organisasi. Saya tak akan masuk dalam masalah itu," pungkasnya.
Terawan sendiri sudah menuliskan metode brain flushing dalam disertasinya di Unhas berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.
MKEK menduga ada tekanan terhadap Unhas untuk meloloskan disertasi itu. Selain itu, metode tersebut diragukan karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Terlebih, belum ada penelitian ilmiah terbuka yang melibatkan IDI dan organisasi profesi terkait metode itu.
Dalam sebuah wawancara di situs Good To Know, Terawan disebut mengobati anggota grup Panber Benny Panjaitan yang sempat lumpuh selama setahun akibat stroke. Keberhasilan pengobatan ini pun menyebar.
"Bagi sebagian orang, saya adalah dukun," kata Terawan dikutip dari Good to Know.
Setelah itu, ragam pejabat, tokoh nasional, selebritas, hingga WNA datang berduyun-duyun mencoba metode cuci otak itu. Maka, ketika Terawan dipermasalahkan keanggotaannya di IDI, para politikus, anggota DPR, menteri, ramai-ramai membelanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Metode 'cuci otak' mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dinilai tak bisa menjadi sahih hanya karena jutaan testimoni. Tanpa pengujian empirik, teknik itu tak ubahnya seperti 'batu Ponari' atau 'tongkat Perkins'.
Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) merekomendasikan pemberhentian Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) salah satunya didasarkan oleh metode 'cuci otak' itu.
Terapi penyakit stroke itu juga dikenal sebagai Intra-Arterial Heparin Flushing (IAHF) yang merupakan modifikasi Digital Subtraction Angiography (DSA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika pasien meyakini bahwa itu bisa menyembuhkan. Tak heran, jika 'batu Ponari' pun pernah berhasil menyembuhkan berbagai penyakit pada ratusan orang. Perlu dipahami, dunia kedokteran tak memberi tempat untuk testimoni karena tak bisa diuji," kata Pengamat Masalah Kesehatan Bambang Budiono melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (8/4).
"Sekalipun diucapkan oleh seorang Menteri atau bahkan presiden pun, testimoni tak akan pernah memiliki nilai setara bukti klinis," imbuhnya.
Diketahui, Ponari, bocah asal Jombang, Jawa Timur, sempat menarik perhatian massa, pada 2009, lantaran memiliki batu yang diklaim ajaib hingga bisa mengobati berbagai penyakit. Ratusan orang bisa mengantri di rumahnya menanti sentuhan ajaib batu itu. Kini, itu hanya tinggal cerita.
Bambang, yang juga dokter spesialis jantung itu, melanjutkan, dalam menguji keampuhan suatu metode pengobatan, terdapat beberapa cara atau metodologi yang lazim dilakukan dan telah diterima secara luas di dunia medis.
Di antaranya, dapat menggunakan hasil antara atau 'surrogate end point'. Misalnya ketika melihat adanya perubahan penanda khusus dari hasil laboratorium, melihat perubahan dari pencitraan khusus seperti kardiologi nuklir, ekokardiografi, dan lain-lain, yang kemudian digunakan untuk melihat dampak suatu pengobatan.
Selain itu, dokter maupun peneliti dapat menggunakan data klinis sebagai hasil akhir, seperti misalnya pada peningkatan kemampuan fisik, penurunan kekerapan dirawat di rumah sakit, penurunan kejadian serangan penyakit, dan lainnya.
Keunggulan suatu metoda pengobatan, katanya, bisa dilakukan dengan membandingkan obat atau metode baru dengan terapi standar atau membandingkan dengan suatu bahan yang tidak aktif yang disebut plasebo.
"Penelitian yang terbaik jika dilakukan randomisasi atau acak. Pasien dan dokter tak tahu yang mana obat aktif dan mana plasebo, karena kemasan plasebo dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk obat atau zat aktif, biasanya akan diberi kode dan pada akhir penelitian baru dibuka untuk mengetahui mana yang zat aktif dan mana yang plasebo," jelasnya.
Bambang kemudian mewanti-wanti, plasebo dapat memiliki dampak seperti zat aktif, baik khasiat maupun efek sampingnya. Sehingga tidak asing menurutnya apabila ada pasien yang memperoleh kapsul berisi tepung, namun bisa mengakibatkan penurunan kadar gula darah, tensi darah, hingga kadar kolesterol.
Dengan melihat kondisi itu, Bambang menyebut bahwa penelitian dengan desain yang baik akan menjawab apakah obat atau metode yang diberikan pada pasien itu benar-benar memiliki manfaat klinis. Semakin banyak yang terlibat penelitian, semakin kuat kesimpulan yang didapat.
Tongkat Perkins
Bambang kemudian mengingatkan kisah nyata tentang tongkat Perkins temuan Elisha Perkins, ahli bedah Angkatan Darat Kontinental selama Pertempuran Bunker Hill saat Perang Revolusi Amerika, 1795-1996
Perkins kemudian mematenkan alat tersebut selama 14 tahun pada 19 Februari 1796. Tongkat tersebut terdiri dari dua batang logam 3 inci dengan ujung runcing.
Dia mengklaim tongkat ciptaannya terbuat dari paduan logam yang tidak biasa dan bisa menyembuhkan berbagai peradangan, rematik, dan nyeri kepala dan wajah. Testimoni dari mulut ke mulut membuat metode itu mengalami 'booming' di masa itu.
"Perkins mengklaim cara ini bisa mengeluarkan cairan listrik berbahaya yang menjadi penyebab keluhan pasien," tutur Bambang.
Bambang melanjutkan, Ikatan Dokter Connecticut kala itu mengutuk metode itu sebagai 'perdukunan delusi, dan mengeluarkan Perkins dari keanggotaan. Namun Perkins berhasil meyakinkan tiga fakultas kedokteran AS bahwa metodenya berhasil. Di Kopenhagen, Denmark, dua belas ahli bedah di Royal Frederick Hospital juga mulai mendukung metode itu.
Menko Maritim Luhut Pandjaitan dan menkumham Yasonna Laoly termasuk pasien Terawan. (Foto: Adhi Wicaksono)
Perkins kala itu membanggakan 5 ribu kasus yang telah berhasil disembuhkan oleh tongkatnya. Bahkan, metoda penyembuhan tersebut disertifikasi oleh delapan profesor, empat puluh dokter, dan tiga puluh pendeta. Bahkan presiden Washington pun tergiur untuk membelinya.
Namun demikian, setelah kematian Perkins, dokter Inggris mulai meragukan kehebatan tongkatnya. Sehingga pada tahun 1799, Dr. John Haygarth melakukan uji coba. Ia merawat lima pasien rematik dengan tongkat kayu yang dibuat menyerupai logam.
Empat dari mereka melaporkan bahwa rasa sakitnya berkurang. Keesokan harinya pasien dirawat dengan tongkat logam dengan hasil yang sama. Dr. Haygarth melaporkan temuannya dalam publikasi berjudul 'On the Imagination as a Cause & as a Cure of the Disorders of the Body'.
Bambang melanjutkan Perkins memiliki banyak pendukung berpengaruh dan penjualan tongkat nya masih tetap berlanjut kala itu. Namun dengan kematian Putra Perkins pada tahun 1810, popularitas tongkat Perkins mulai menghilang.
"Belakangan ini media online dan televisi diwarnai berita pemberhentian seorang dokter ternama dari keanggotaan IDI. Beritanya semakin ramai dengan maraknya para tokoh masyarakat memberi testimoni yang menyatakan bahwa selama ini yang bersangkutan telah berhasil menyembuhkan ribuan orang dengan metoda terapi yang masih diperdebatkan manfaatnya, dan menjadi salah satu penyebab alasan pemberhentian." ujar Bambang.
"Sebagai sejawat yang telah menyatakan sumpah sebagai saudara kandung, tentu ikut prihatin dan sedih akan peristiwa tersebut, namun itu suatu keputusan yang telah diambil di forum tertinggi organisasi. Saya tak akan masuk dalam masalah itu," pungkasnya.
Terawan sendiri sudah menuliskan metode brain flushing dalam disertasinya di Unhas berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.
MKEK menduga ada tekanan terhadap Unhas untuk meloloskan disertasi itu. Selain itu, metode tersebut diragukan karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Terlebih, belum ada penelitian ilmiah terbuka yang melibatkan IDI dan organisasi profesi terkait metode itu.
Dalam sebuah wawancara di situs Good To Know, Terawan disebut mengobati anggota grup Panber Benny Panjaitan yang sempat lumpuh selama setahun akibat stroke. Keberhasilan pengobatan ini pun menyebar.
"Bagi sebagian orang, saya adalah dukun," kata Terawan dikutip dari Good to Know.
Setelah itu, ragam pejabat, tokoh nasional, selebritas, hingga WNA datang berduyun-duyun mencoba metode cuci otak itu. Maka, ketika Terawan dipermasalahkan keanggotaannya di IDI, para politikus, anggota DPR, menteri, ramai-ramai membelanya.