5 Fakta Perubahan Iklim di Hari Bumi 2022: Fesyen hingga Sampah
CNN Indonesia
Jumat, 22 Apr 2022 14:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu kampanye menentang industri fashion berjejak karbon. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/Rei/pd/15. Photogr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari Bumi 2022 menghadirkan sejumlah fakta yang belum banyak diketahui terutama terkait dengan dampak perubahan iklim dan pemanasan global. Di antaranya, soal industri fashion atau fesyen.
Peringatan Hari Bumi tiap 22 April merupakan acara tahunan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah lingkungan yang mendorong terjadinya perubahan iklim.
Ini diperingati di seluruh dunia dengan berbagai kegiatan. Mulai dari aksi unjuk rasa, konferensi, proyek sekolah, dan kegiatan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senator Gaylord Nelson memulai Hari Bumi pada 1970. Acara tersebut membantu meningkatkan dukungan publik untuk pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) untuk mengatasi masalah lingkungan.
Selain itu, Susan Clayton, seorang profesor psikologi dan studi lingkungan di The College of Wooster di Ohio mengungkapkan bahwa Hari Bumi mengingatkan orang untuk berpikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, ancaman yang dihadapi planet ini dan cara membantu melindungi lingkungan.
"Memikirkan sejarah aktivisme lingkungan dan cara individu bekerja sama untuk mengubah kebijakan dapat membuat kita lebih optimis tentang kemampuan untuk membuat perubahan positif di masa depan," kata Clayton dilansir Live Science.
Berikut fakta-fakta tentang Hari Bumi terkait perubahan iklim yang dikutip dari CBS News:
1. Industri fesyen pada 2018 menghasilkan 4 persen emisi gas rumah kaca dunia
Laporan yang ditulis oleh Global Fashion Aenda dan McKinsey and Company menyebut sektor fesyen pada 2018 bertanggung jawab atas 2,1 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca atau 4 persen dari total emisi global.
Studi ini menemukan bahwa 70 persen dari emisi industri fashion berasal dari kegiatan hulu seperti produksi dan pemrosesan bahan. Para peneliti memperkirakan emisi gas rumah kaca dari industri fesyen akan meningkat menjadi hampir 2,7 miliar ton setiap tahun pada tahun 2030 jika tidak ada tindakan lebih lanjut.
"Orang biasanya hanya mendapatkan sedikit kegunaan dari barang-barang ini dan kemudian membuangnya, berkontribusi pada lebih banyak limbah dan emisi. Pakaian kita harus tahan bertahun-tahun," Yaheya Heikal, CEO perusahaan pengelolaan lingkungan Futurae Vision.
2. 80 persen air limbah dunia mengalir kembali ke ekosistem tanpa diolah
Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), 80 persen air limbah dunia mengalir kembali ke ekosistem tanpa diolah atau digunakan kembali dan 44 persen air limbah rumah tangga tidak diolah dengan aman di seluruh dunia.
Karena itu, 1,8 miliar orang di seluruh dunia memanfaatkan sumber air minum yang berpotensi terkontaminasi tinja. Mereka yang mengonsumsi air yang tidak diolah berisiko tertular penyakit seperti kolera, disentri, tifus, dan polio.
PBB melaporkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah berada pada risiko terbesar terpapar polutan dalam air karena populasi yang lebih tinggi, kurangnya sistem pengelolaan air limbah, serta masalah ekonomi.
"Ketika populasi tumbuh dan lingkungan alam menjadi terdegradasi, memastikan ada pasokan air yang cukup dan aman untuk semua orang menjadi semakin menantang. Bagian utama dari solusinya adalah mengurangi polusi dan meningkatkan cara mengelola air limbah," kata PBB.
3. Empat dekade terakhir Bumi semakin hangat
Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, empat dekade terakhir masing-masing berturut-turut lebih hangat daripada dekade sebelumnya sejak 1850. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa gas rumah kaca dari aktivitas manusia berada di belakang perkiraan pemanasan 1,1 derajat Celcius antara tahun-tahun 1850 hingga 1900.
Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres memperingatkan bahwa planet ini berada di jalur menuju pemanasan global lebih dari dua kali lipat batas 2,7 derajat Fahrenheit yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 pada April ini. Bahkan Guetteres menyebut dunia sudah sangat dekat dengan batas pemanasan global.
4. Emisi karbon dioksida 2020 capai tingkat konsentrasi tertinggi
Laporan Tahunan Keadaan Iklim oleh American Meteorogical Society menyebut ada pengurangan emisi karbon dioksida 6 hingga 7 persen sebagai dampak pembatasan mobilitas di masa pandemi Covid-19.
Namun demikian, emisi karbon dioksida pada 2020 mencapai tingkat konsentrasi tertinggi di permukaan planet setidaknya dalam 800 ribu tahun terakhir.
Para ilmuwan menemukan bahwa peningkatan tingkat karbondioksida global dari tahun ke tahun selama setengah abad terakhir meningkat tiga kali lipat.
Kondisi itu menghasilkan suhu di atas rata-rata di seluruh dunia, suhu permukaan laut global 2020 yang mencapai titik tertinggi, rata-rata kandungan panas laut tertinggi, hingga badai siklon tropis terbanyak dalam sejarah.
"Kami telah mengubah rumah planet kami sedemikian rupa sehingga kami mempersulit masyarakat, bisnis, dan pemerintah untuk berfungsi seperti biasa," ucap John Opperman, direktur eksekutif Inisiatif Hari Bumi.
"Kita harus menerima perubahan yang telah kita bawa dan bekerja untuk memperbaikinya untuk menghindari efek terburuk dari perubahan iklim. Satu-satunya hal yang dapat memberikan pelipur lara adalah bahwa ini adalah masalah yang disebabkan oleh manusia. Kekuatan kita sebagai manusia untuk menyelesaikannya," imbuhnya.
5. Berat sampah plastik tahunan dunia hampir setara dengan berat semua manusia
Program Lingkungan PBB mengungkapkan manusia menghasilkan hampir 400 juta ton sampah plastik per tahun. Ini hampir setara dengan berat seluruh populasi manusia.
Kelompok lingkungan melaporkan bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan pada awal 2000-an meningkat lebih banyak dalam satu dekade dibandingkan dengan 40 tahun sebelumnya. Di seluruh dunia, 1 juta botol plastik dibeli setiap menit dan setengah dari semua plastik yang diproduksi dirancang untuk tujuan sekali pakai.
Pada tahun 2050, produksi global plastik primer diperkirakan mencapai 34 miliar ton.
"Kita perlu memperlambat aliran plastik dari sumbernya, tetapi kita juga perlu memperbaiki cara kita mengelola sampah plastik. Saat ini, banyak yang berakhir di lingkungan," ungkap salah satu program lingkungan itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari Bumi 2022 menghadirkan sejumlah fakta yang belum banyak diketahui terutama terkait dengan dampak perubahan iklim dan pemanasan global. Di antaranya, soal industri fashion atau fesyen.
Peringatan Hari Bumi tiap 22 April merupakan acara tahunan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah lingkungan yang mendorong terjadinya perubahan iklim.
Ini diperingati di seluruh dunia dengan berbagai kegiatan. Mulai dari aksi unjuk rasa, konferensi, proyek sekolah, dan kegiatan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senator Gaylord Nelson memulai Hari Bumi pada 1970. Acara tersebut membantu meningkatkan dukungan publik untuk pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) untuk mengatasi masalah lingkungan.
Selain itu, Susan Clayton, seorang profesor psikologi dan studi lingkungan di The College of Wooster di Ohio mengungkapkan bahwa Hari Bumi mengingatkan orang untuk berpikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, ancaman yang dihadapi planet ini dan cara membantu melindungi lingkungan.
"Memikirkan sejarah aktivisme lingkungan dan cara individu bekerja sama untuk mengubah kebijakan dapat membuat kita lebih optimis tentang kemampuan untuk membuat perubahan positif di masa depan," kata Clayton dilansir Live Science.
Berikut fakta-fakta tentang Hari Bumi terkait perubahan iklim yang dikutip dari CBS News:
1. Industri fesyen pada 2018 menghasilkan 4 persen emisi gas rumah kaca dunia
Laporan yang ditulis oleh Global Fashion Aenda dan McKinsey and Company menyebut sektor fesyen pada 2018 bertanggung jawab atas 2,1 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca atau 4 persen dari total emisi global.
Studi ini menemukan bahwa 70 persen dari emisi industri fashion berasal dari kegiatan hulu seperti produksi dan pemrosesan bahan. Para peneliti memperkirakan emisi gas rumah kaca dari industri fesyen akan meningkat menjadi hampir 2,7 miliar ton setiap tahun pada tahun 2030 jika tidak ada tindakan lebih lanjut.
"Orang biasanya hanya mendapatkan sedikit kegunaan dari barang-barang ini dan kemudian membuangnya, berkontribusi pada lebih banyak limbah dan emisi. Pakaian kita harus tahan bertahun-tahun," Yaheya Heikal, CEO perusahaan pengelolaan lingkungan Futurae Vision.
2. 80 persen air limbah dunia mengalir kembali ke ekosistem tanpa diolah
Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), 80 persen air limbah dunia mengalir kembali ke ekosistem tanpa diolah atau digunakan kembali dan 44 persen air limbah rumah tangga tidak diolah dengan aman di seluruh dunia.
Karena itu, 1,8 miliar orang di seluruh dunia memanfaatkan sumber air minum yang berpotensi terkontaminasi tinja. Mereka yang mengonsumsi air yang tidak diolah berisiko tertular penyakit seperti kolera, disentri, tifus, dan polio.
PBB melaporkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah berada pada risiko terbesar terpapar polutan dalam air karena populasi yang lebih tinggi, kurangnya sistem pengelolaan air limbah, serta masalah ekonomi.
"Ketika populasi tumbuh dan lingkungan alam menjadi terdegradasi, memastikan ada pasokan air yang cukup dan aman untuk semua orang menjadi semakin menantang. Bagian utama dari solusinya adalah mengurangi polusi dan meningkatkan cara mengelola air limbah," kata PBB.
3. Empat dekade terakhir Bumi semakin hangat
Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, empat dekade terakhir masing-masing berturut-turut lebih hangat daripada dekade sebelumnya sejak 1850. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa gas rumah kaca dari aktivitas manusia berada di belakang perkiraan pemanasan 1,1 derajat Celcius antara tahun-tahun 1850 hingga 1900.
Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres memperingatkan bahwa planet ini berada di jalur menuju pemanasan global lebih dari dua kali lipat batas 2,7 derajat Fahrenheit yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 pada April ini. Bahkan Guetteres menyebut dunia sudah sangat dekat dengan batas pemanasan global.
Tumpukan sampah di Kampung Bogor, Bekasi, yang didominasi oleh sampah plastik. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
4. Emisi karbon dioksida 2020 capai tingkat konsentrasi tertinggi
Laporan Tahunan Keadaan Iklim oleh American Meteorogical Society menyebut ada pengurangan emisi karbon dioksida 6 hingga 7 persen sebagai dampak pembatasan mobilitas di masa pandemi Covid-19.
Namun demikian, emisi karbon dioksida pada 2020 mencapai tingkat konsentrasi tertinggi di permukaan planet setidaknya dalam 800 ribu tahun terakhir.
Para ilmuwan menemukan bahwa peningkatan tingkat karbondioksida global dari tahun ke tahun selama setengah abad terakhir meningkat tiga kali lipat.
Kondisi itu menghasilkan suhu di atas rata-rata di seluruh dunia, suhu permukaan laut global 2020 yang mencapai titik tertinggi, rata-rata kandungan panas laut tertinggi, hingga badai siklon tropis terbanyak dalam sejarah.
"Kami telah mengubah rumah planet kami sedemikian rupa sehingga kami mempersulit masyarakat, bisnis, dan pemerintah untuk berfungsi seperti biasa," ucap John Opperman, direktur eksekutif Inisiatif Hari Bumi.
"Kita harus menerima perubahan yang telah kita bawa dan bekerja untuk memperbaikinya untuk menghindari efek terburuk dari perubahan iklim. Satu-satunya hal yang dapat memberikan pelipur lara adalah bahwa ini adalah masalah yang disebabkan oleh manusia. Kekuatan kita sebagai manusia untuk menyelesaikannya," imbuhnya.
5. Berat sampah plastik tahunan dunia hampir setara dengan berat semua manusia
Program Lingkungan PBB mengungkapkan manusia menghasilkan hampir 400 juta ton sampah plastik per tahun. Ini hampir setara dengan berat seluruh populasi manusia.
Kelompok lingkungan melaporkan bahwa jumlah sampah plastik yang dihasilkan pada awal 2000-an meningkat lebih banyak dalam satu dekade dibandingkan dengan 40 tahun sebelumnya. Di seluruh dunia, 1 juta botol plastik dibeli setiap menit dan setengah dari semua plastik yang diproduksi dirancang untuk tujuan sekali pakai.
Pada tahun 2050, produksi global plastik primer diperkirakan mencapai 34 miliar ton.
"Kita perlu memperlambat aliran plastik dari sumbernya, tetapi kita juga perlu memperbaiki cara kita mengelola sampah plastik. Saat ini, banyak yang berakhir di lingkungan," ungkap salah satu program lingkungan itu.