Cara Merawat Borobudur Agar 'Awet Muda', Sapu Lidi Hingga Atsiri
CNN Indonesia
Senin, 06 Jun 2022 16:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKB) menyemprotkan cairan minyak atsiri di kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, 2021. Perawatan candi ini dilakukan dengan beberapa tahapan. (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Jakarta, CNN Indonesia --
Candi Borobudur dirawat dengan berbagai tahapan khusus, mulai dari dengan menggunakan cara tradisional hingga bahan kimia paling modern. Tujuannya, rumah ibadah umat Buddha berusia ribuan tahun ini 'awet muda'.
Diketahui, Pemerintah bakal membatasi tamu yang bisa masuk ke Candi Borobudur agar eksistensinya dapat bertahan lama. Salah satu caranya, kata Menko Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, dengan menaikkan tarif masuk menjadi Rp750 ribu untuk turis lokal.
Selain itu, US$100 untuk wisatawan asing yang ingin menaiki puncak Borobudur dan US$25 bagi wisatawan asing yang hanya berada di pelataran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peninggalan Dinasti Sailendra ini diperkirakan sudah berusia 1197 tahun (dibangun sekitar 780-840 Masehi) dan menjadi peninggalan Budha terbesar di dunia.
Sejak keruntuhan kerajaannya, monumen yang dibangun dengan gaya mandala ini ditemukan kembali oleh Pasukan Inggris pada 1814 di bawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.
Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pun menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan budaya.
Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, cara pelestarian Candi Borobudur adalah melalui perawatan rutin, yang terdiri dari pembersihan dan pengawetan, agar monumen ini bisa bertahan lama.
Berikut rincian perawatan rutin yang dilakukan di Candi Borobudur:
Tahap pertama perawatan untuk Candi Borobudur adalah proses pembersihan. Prinsip pembersihan dimulai dengan metode, bahan, dan alat yang paling sederhana hingga yang lebih modern jika tak mempan.
Berikut tahapan pembersihan dalam konservasi Borobudur:
Pertama, pembersihan mekanis kering (dry cleaning) yang dilakukan tanpa menggunakan air. Alat yang digunakan berupa sikat nilon dan sapu lidi. Pembersihan ini bertujuan untuk membersihkan debu, lumut, dan tumbuhan tingkat tinggi yang menempel pada material bangunan.
Mikroorganisme yang tidak dapat dibersihkan dengan pembersihan kering selanjutnya dibersihkan dengan pembersihan basah yang menggunakan air atau mekanis basah (wet cleaning).
Kedua, pembersihan basah (wet cleaning) dilakukan dengan menggunakan air yang disemprotkan dengan kompresor sehingga menghasilkan air bertekanan tinggi (20 MPa). Sasaran yang dibersihkan adalah algae, moss, dan lichen (lumut kerak) yang belum bisa hilang dalam pembersihan mekanis kering.
Lichen biasanya terdapat pada permukaan batu secara berkelompok membentuk bercak-bercak putih.
Ketiga, pembersihan secara kimiawi (chemical cleaning) yakni menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk membersihkan mikroorganisme yang masih tertinggal yaitu lichen.
Pembersihan lichen dengan menggunakan bahan kimia AC 322, yang merupakan campuran bahan Amonium bicarboat, Sodium bicarbonat, CMC, Aquamoline, dan arkopal yang dicampur dengan air hingga membentuk pasta.
Bahan kemudian dioleskan pada permukaan batu yang ditumbuhi lichen dengan waktu kontak 24 jam. Objek diusahakan dalam kondisi lembab selama 24 jam dengan cara ditutupi plastik.
Lichen yang sudah kontak dengan AC 322 24 jam akan mati. Ini terlihat dari warnanya yang berubah menjadi kecoklatan. Petugas kemudian membersihkan objek dengan mengunakan hingga air cucian hingga mencapai derajat keasamanan (pH) netral.
Pengolesan AC 322 secara selektif hanya pada batu yang ditumbuhi lichen saja dan dapat dilakukan berulang hingga lichen bersih.
Selain dengan menggunakan kimia, pembersihan lichen di Borobudur kini juga menggunakan bahan tradisional minyak atsiri. Fungsinya seperti pestisida alami. Bahan ini merupakan hasil kerjasama Balai Konservasi Borobudur dengan Universitas Islam Indonesia (UII) 2014.
Untuk menemukan jenis yang terbaik, tim peneliti membandingkan minyak atsiri cengkeh, minyak biji pala, dan minyak serai wangi. Pada 2015, kajian juga dilakukan terhadap penggunaan minyak atsiri nilam, temulawak, dan terpenting untuk menghambat pertumbuhan lumut kerak pada Cagar Budaya batu andesit.
Hasilnya, minyak atsiri dengan bahan temulawak menjadi yang terbaik dalam memberantas lumut di Borobudur, ketimbang pala, nilam, dan cengkeh.
"Minyak atsiri temulawak konsentrasi 20 persen dengan waktu pengujian 15 hari menunjukkan daya hambat yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan sel mikroalga dengan mortalitas sel sebesar 63,31 persen," demikian dikutip dari kajian itu.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan minyak atsiri ini fungsinya untuk pelestarian, melindungi candi dari lumut yang memang banyak tumbuh di Candi Borobudur.
"Dengan cairan ini bisa menghilangkan lumut itu. Ini salah satu inovasi penting dari Balai Konservasi Borobudur yang selama 3 tahun melakukan riset mengembangkan teknologi ini dan sekarang sudah cukup mantap, karena sudah diuji di batu lepas dan sekarang bisa diaplikasikan di batu candi," kata Himar dikutip dari Antara.
"Dari segi harga lebih hemat, karena minyak atsiri ini tidak tumbuh di laboratorium, tetapi tumbuhnya di masyarakat. Jadi kalau misalnya harus keluar biaya untuk itu nanti yang merasakan masyarakat," imbuhnya.
Infografis Fakta Menarik Candi Borobudur. Foto: (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
2. Pengawetan
Setelah pembersihan usai, tahap selanjutnya adalah pengawetan terhadap seluruh permukaan batu candi. Bentuknya adalah dengan penyemprotan bahan tertentu.
"Hal ini dilakukan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memberi kekebalan pada batu candi sampai pada jangka waktu tertentu agar tidak ditumbuhi mikroorganisme," dikutip dari situs Kemendikbudristek.
Bahan yang digunakan adalah Hyamine dengan konsentrasi 80 persen dicampur air sehingga menjadi larutan dengan konsentrasi 2 persen. Campuran Hyamine kemudian disemprotkan dengan menggunakan sprayer pada permukaan batu yang telah bersih dan kering.
Selain itu, penyemprotan dilakukan pada tebing tanah yang ditumbuhi lumut. "Hal ini bertujuan agar lumut mati dan sporanya tidak menyebar ke batu candi. Treatment sebaiknya dilakukan secara periodik untuk menjaga permukaan batu tetap bersih."
Jakarta, CNN Indonesia --
Candi Borobudur dirawat dengan berbagai tahapan khusus, mulai dari dengan menggunakan cara tradisional hingga bahan kimia paling modern. Tujuannya, rumah ibadah umat Buddha berusia ribuan tahun ini 'awet muda'.
Diketahui, Pemerintah bakal membatasi tamu yang bisa masuk ke Candi Borobudur agar eksistensinya dapat bertahan lama. Salah satu caranya, kata Menko Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, dengan menaikkan tarif masuk menjadi Rp750 ribu untuk turis lokal.
Selain itu, US$100 untuk wisatawan asing yang ingin menaiki puncak Borobudur dan US$25 bagi wisatawan asing yang hanya berada di pelataran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peninggalan Dinasti Sailendra ini diperkirakan sudah berusia 1197 tahun (dibangun sekitar 780-840 Masehi) dan menjadi peninggalan Budha terbesar di dunia.
Sejak keruntuhan kerajaannya, monumen yang dibangun dengan gaya mandala ini ditemukan kembali oleh Pasukan Inggris pada 1814 di bawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.
Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pun menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan budaya.
Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, cara pelestarian Candi Borobudur adalah melalui perawatan rutin, yang terdiri dari pembersihan dan pengawetan, agar monumen ini bisa bertahan lama.
Berikut rincian perawatan rutin yang dilakukan di Candi Borobudur:
Tahap pertama perawatan untuk Candi Borobudur adalah proses pembersihan. Prinsip pembersihan dimulai dengan metode, bahan, dan alat yang paling sederhana hingga yang lebih modern jika tak mempan.
Berikut tahapan pembersihan dalam konservasi Borobudur:
Pertama, pembersihan mekanis kering (dry cleaning) yang dilakukan tanpa menggunakan air. Alat yang digunakan berupa sikat nilon dan sapu lidi. Pembersihan ini bertujuan untuk membersihkan debu, lumut, dan tumbuhan tingkat tinggi yang menempel pada material bangunan.
Mikroorganisme yang tidak dapat dibersihkan dengan pembersihan kering selanjutnya dibersihkan dengan pembersihan basah yang menggunakan air atau mekanis basah (wet cleaning).
Kedua, pembersihan basah (wet cleaning) dilakukan dengan menggunakan air yang disemprotkan dengan kompresor sehingga menghasilkan air bertekanan tinggi (20 MPa). Sasaran yang dibersihkan adalah algae, moss, dan lichen (lumut kerak) yang belum bisa hilang dalam pembersihan mekanis kering.
Lichen biasanya terdapat pada permukaan batu secara berkelompok membentuk bercak-bercak putih.
Ketiga, pembersihan secara kimiawi (chemical cleaning) yakni menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk membersihkan mikroorganisme yang masih tertinggal yaitu lichen.
Pembersihan lichen dengan menggunakan bahan kimia AC 322, yang merupakan campuran bahan Amonium bicarboat, Sodium bicarbonat, CMC, Aquamoline, dan arkopal yang dicampur dengan air hingga membentuk pasta.
Bahan kemudian dioleskan pada permukaan batu yang ditumbuhi lichen dengan waktu kontak 24 jam. Objek diusahakan dalam kondisi lembab selama 24 jam dengan cara ditutupi plastik.
Lichen yang sudah kontak dengan AC 322 24 jam akan mati. Ini terlihat dari warnanya yang berubah menjadi kecoklatan. Petugas kemudian membersihkan objek dengan mengunakan hingga air cucian hingga mencapai derajat keasamanan (pH) netral.
Pengolesan AC 322 secara selektif hanya pada batu yang ditumbuhi lichen saja dan dapat dilakukan berulang hingga lichen bersih.
Ilustrasi. Penggunaan minyak atsiri diklaim menghemat biaya perawatan. (Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Selain dengan menggunakan kimia, pembersihan lichen di Borobudur kini juga menggunakan bahan tradisional minyak atsiri. Fungsinya seperti pestisida alami. Bahan ini merupakan hasil kerjasama Balai Konservasi Borobudur dengan Universitas Islam Indonesia (UII) 2014.
Untuk menemukan jenis yang terbaik, tim peneliti membandingkan minyak atsiri cengkeh, minyak biji pala, dan minyak serai wangi. Pada 2015, kajian juga dilakukan terhadap penggunaan minyak atsiri nilam, temulawak, dan terpenting untuk menghambat pertumbuhan lumut kerak pada Cagar Budaya batu andesit.
Hasilnya, minyak atsiri dengan bahan temulawak menjadi yang terbaik dalam memberantas lumut di Borobudur, ketimbang pala, nilam, dan cengkeh.
"Minyak atsiri temulawak konsentrasi 20 persen dengan waktu pengujian 15 hari menunjukkan daya hambat yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan sel mikroalga dengan mortalitas sel sebesar 63,31 persen," demikian dikutip dari kajian itu.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan minyak atsiri ini fungsinya untuk pelestarian, melindungi candi dari lumut yang memang banyak tumbuh di Candi Borobudur.
"Dengan cairan ini bisa menghilangkan lumut itu. Ini salah satu inovasi penting dari Balai Konservasi Borobudur yang selama 3 tahun melakukan riset mengembangkan teknologi ini dan sekarang sudah cukup mantap, karena sudah diuji di batu lepas dan sekarang bisa diaplikasikan di batu candi," kata Himar dikutip dari Antara.
"Dari segi harga lebih hemat, karena minyak atsiri ini tidak tumbuh di laboratorium, tetapi tumbuhnya di masyarakat. Jadi kalau misalnya harus keluar biaya untuk itu nanti yang merasakan masyarakat," imbuhnya.
Infografis Fakta Menarik Candi Borobudur. Foto: (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
2. Pengawetan
Setelah pembersihan usai, tahap selanjutnya adalah pengawetan terhadap seluruh permukaan batu candi. Bentuknya adalah dengan penyemprotan bahan tertentu.
"Hal ini dilakukan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memberi kekebalan pada batu candi sampai pada jangka waktu tertentu agar tidak ditumbuhi mikroorganisme," dikutip dari situs Kemendikbudristek.
Bahan yang digunakan adalah Hyamine dengan konsentrasi 80 persen dicampur air sehingga menjadi larutan dengan konsentrasi 2 persen. Campuran Hyamine kemudian disemprotkan dengan menggunakan sprayer pada permukaan batu yang telah bersih dan kering.
Selain itu, penyemprotan dilakukan pada tebing tanah yang ditumbuhi lumut. "Hal ini bertujuan agar lumut mati dan sporanya tidak menyebar ke batu candi. Treatment sebaiknya dilakukan secara periodik untuk menjaga permukaan batu tetap bersih."