NASA Tuding China Akan Ambil Alih Bulan

CNN Indonesia
Senin, 04 Jul 2022 19:30 WIB
NASA menuding China hendak menguasai Bulan lewat misi eksplorasinya terutama di wilayah kutub selatan yang memiliki cadangan air. Misi Change'e milik China mendarat di Bulan, 2016. (Foto: Chinese State Administration of Science, Technology, and Industry for National Defense via Xinhua via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bos Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) Bill Nelson menuding China hendak menguasai Bulan. Negeri Tirai Bambu pun membantahnya.

Diketahui, China meningkatkan program luar angkasanya dalam satu dekade terakhir lewat eksplorasi Bulan sebagai fokusnya. Negara itu melakukan pendaratan tanpa awak bulan pertamanya pada 2013.

Mereka juga berharap untuk meluncurkan roket yang cukup kuat untuk mengirim astronaut ke bulan menjelang akhir dekade ini.

Dikutip dari media Jerman, Bild, Nelson (79) memperingatkan saat ini perlombaan di luar angkasa terjadi antara pihaknya dengan China, berbeda dari kondisi di masa lalu, yakni dengan Uni Soviet dan kemudian Rusia.

"Ada perlombaan baru ke luar angkasa, kali ini dengan China," ucapnya, kemarin.

Salah satunya adalah rencana pendirian pangkalannya sendiri di Bulan pada 2035 bersama dengan Rusia. Jika itu berhasil, taikonaut, sebutan bagi astronaut dari China, dapat melakukan eksperimen di bulan mulai 2036.

"Kita mestinya sangat khawatir China mendarat di bulan dan berkata: 'ini milik kami sekarang dan Anda tak boleh masuk'," cetus Nelson.

Dalam perlombaan angkasa ini, kutub selatan Bulan secara khusus jadi wilayah yang diperebutkan karena diduga memiliki endapan air yang dapat digunakan di masa depan untuk menghasilkan bahan bakar roket.

Artinya, siapa pun yang mendominasi sisi selatan bulan memiliki basis penting di luar angkasa.

"Program luar angkasa China adalah program luar angkasa militer," ucap Nelson, yang merupakan mantan astronaut sebelum terjun ke dunia politik.

"China itu bagus. Tapi China juga bagus karena mereka mencuri ide dan teknologi dari orang lain," sindirnya.

Lalu apa tujuan dari misi militeristik China di luar angkasa? "Nah, menurut Anda apa yang terjadi di stasiun luar angkasa China? Mereka belajar di sana bagaimana cara menghancurkan satelit orang lain," cetusnya.

Faktanya, China sudah meneliti teknologi yang memiliki lengan robot atau jaring untuk "menangkap" satelit selama bertahun-tahun. Seharusnya teknologi itu disebut untuk membersihkan puing-puing luar angkasanya, Namun sebenarnya satelit dari negara asing juga dapat diserang dengan cara ini.

China membantah keras ucapan bos NASA sambil menyerukan pembangunan komunitas multi-bangsa di luar angkasa.

"Ini bukan pertama kalinya kepala Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS mengabaikan fakta dan berbicara tidak bertanggung jawab tentang China," kata Zhao Lijian, juru bicara kementerian luar negeri China, dikutip dari Reuters.

"Pihak AS terus-menerus membangun kampanye kotor terhadap upaya luar angkasa China yang normal dan masuk akal, dan China dengan tegas menentang pernyataan tidak bertanggung jawab seperti itu," lanjutnya.

China, kata dia, selalu mempromosikan pembangunan masa depan bersama bagi umat manusia di luar angkasa dan menentang persenjataannya serta perlombaan senjata apa pun di luar angkasa.

Diektahui, NASA, di bawah program Artemis, berencana mengirim misi berawak untuk mengorbit bulan pada 2024 dan melakukan pendaratan berawak di dekat kutub selatan bulan pada 2025.

Sementara, China sedang merencanakan misi tanpa awak ke kutub selatan bulan dalam dekade ini.

[Gambas:Video CNN]

(Reuters/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER