Viral Video Larangan Makan Buah Tanpa Biji, Apa Kata Pakar?

CNN Indonesia
Rabu, 17 Agu 2022 21:30 WIB
Video berisi larangan dari seorang pendakwah untuk makan buah tanpa biji dengan dalih berbahaya bagi keturunan sempat viral. Benarkah itu secara ilmiah? Ilustrasi. Sempat viral video pendakwah yang melarang makan buah tanpa biji hasil rekayasa genetik. (Foto: iStockphoto/Murilo Gualda)
Jakarta, CNN Indonesia --

Larangan atau bahkan pengharaman makan buah tanpa biji hasil rekayasa genetik dinilai tak punya dasar. Kenapa? Produk makanan hasil rekayasa genetik tak memengaruhi susunan DNA pemakannnya.

Sebelumnya, viral beredar video pendiri Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dr. Zaidul Akbar yang memuat klaim makan buah tanpa biji dapat berbahaya bagi keturunan. Video yang awalnya diunggah di YouTube pada 2019 itu beradar belakangan di sejumlah grup WhatsApp dalam bentuk potongan video.

"Kalau bapak ibu ketemu buah yang seedless, seedless itu enggak pake biji, jangan makan. Kalau dulunya buah itu ada biji, seperti anggur, kan ada tuh seedless grape, jangan makan," terang dia, dalam video yang diunggah oleh Sobat Herbal.

"Bibit dia itu dibikinnya di lab dengan rekayasa genetik. Rekayasa genetik mau tidak mau suka tidak suka pasti akan berpengaruh ke gennya yang makan ... Dan katakanlah kita makan sesuatu yang tidak sehat itu ngefeknya sampe tahunan lagi ke depan, gennya rusak semua," lanjutnya.

Klaim buah tanpa biji berbahaya untuk kesehatan tak hanya beredar dalam video tersebut.

Sebuah akun Facebook bernama "Aiiu Sep Tika" mengunggah sebuah video yang menyatakan buah tanpa biji hasil rekayasa genetik dapat menyebabkan dampak berbahaya bagi kesehatan manusia. Video tersebut juga disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa selain berbahaya, buah tanpa biji juga haram.

Faktanya, makan makanan dengan rekayasa genetik dalam hal ini buah tanpa biji tidak akan mempengaruhi gen seseorang.

Dikutip dari Royal Society, lembaga himpunan ilmuwan-ilmuwan nomor wahid global, menyatakan sebagian besar makanan yang kita makan mengandung gen, baik dalam makanan yang dimasak atau diproses.

Sebagian besar DNA telah hancur atau terdegradasi dan gen terfragmentasi oleh sistem pencernaan kita. Sistem pencernaan kita memecah susunan DNA tersebut tanpa mempengaruhi susunan genetik kita.

Manusia selalu memakan DNA dari tumbuhan dan hewan. Sebagian besar sel tumbuhan atau hewan mengandung sekitar 30 ribu gen, dan sebagian besar tanaman rekayasa genetik mengandung 1-10 gen tambahan dalam selnya.

Kita semua makan DNA dalam makanan kita, terutama dari makanan segar.

Meski demikian, sebagian besar DNA yang dimakan dipecah oleh sistem pencernaan kita dan hanya sejumlah kecil DNA yang terfragmentasi lalu masuk ke aliran darah serta organ.

Dilansir dari laman edukasi Harvard pada 2015, setelah 20 tahun penelitian dan pemantauan pada makanan rekayasa genetik, seluruh kekhawatiran tentang dampak kesehatan makanan rekayasa genetik tidak terbukti.

Salah satu contohnya adalah klaim dari kelompok advokasi anti-GMO yang menyatakan Institute for Responsible Technology (IRT), yang melaporkan bahwa tikus yang diberi diet yang mengandung kentang transgenik semua sistem organnya terpengaruh.

IRT menyatakan bahwa toksisitas adalah hasil dari teknik modifikasi genetik dan bukan kasus khusus untuk kentang tertentu. Mereka mengklaim proses pembuatan transgenik menyebabkannya menjadi racun, dan dengan demikian semua transgenik berisiko tinggi untuk keracunan.

Soal gagasan bahwa tanaman atau buah yang dimodifikasi gennya menjadi tidak stabil dan menyebabkan kerusakan, Megan L. Norris, kandidat Ph.D Molecular, Cellular, and Organismal Biology Program di Harvard University, membantahnya.

Mutasi pada DNA terkait erat dengan kanker dan penyakit lain, dan dengan demikian zat mutagenik dapat memiliki efek mengerikan pada kesehatan manusia.

Penciptaan mutasi, yang disebut mutagenesis, dapat diukur dan dibandingkan dengan agen penyebab mutasi yang diketahui dan senyawa aman yang diketahui.

Ada berbagai cara untuk mengukur mutagenisitas, tetapi metode yang paling tradisional adalah proses yang dipelopori oleh Bruce Ames di University of California di Berkeley.

Metodenya, sekarang disebut tes Ames untuk menghormatinya, mampu melacak peningkatan tingkat mutasi pada makhluk hidup sebagai respons terhadap beberapa zat, seperti bahan kimia atau makanan.

Pengujian lantas dilakukan kelompok riset dari National Laboratory of Protein Engineering and Plant Genetic Engineering di Beijing, China, dengan menerapkan tes Ames pada tomat transgenik dan jagung transgenik.

Hasil tes menunjukkan tidak ada hubungan antara tomat transgenik atau jagung dan mutasi.

Mereka mengulangi analisis mereka menggunakan dua metode tambahan untuk menganalisis mutagenisitas pada tikus dan mendapatkan hasil yang sama.

Hal ini memungkinkan mereka untuk menyimpulkan bahwa DNA yang dimodifikasi secara genetik tidak menyebabkan peningkatan mutasi pada konsumen. DNA yang dimodifikasi, seperti DNA yang tidak dimodifikasi, tidak bersifat mutagenik.

(lom/arh)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER