Rekor Terburuk Es Laut Antartika Tercipta Februari, Ahli Buka Sebabnya
CNN Indonesia
Kamis, 27 Jul 2023 09:44 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Para peneliti menyatakan es laut Antartika telah mencapai titik terendah sejak pencatatan satelit dimulai 45 tahun lalu. (Foto: iStockphoto/Ray Hems)
Jakarta, CNN Indonesia --
Februari jadi momen saat es laut Antartika mencapai titik terendah di musim panas sejak pencatatan satelit dimulai 45 tahun lalu. Ahli menjelaskan pemicunya.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya Juni, selama 'fase pertumbuhan musim dingin' es laut yang mengambang di sekitar Antartika masih berjuang untuk pulih.
Lini masa es laut di Antartika yang disusun oleh para peneliti di Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menunjukkan cakupan es laut pada bulan Juli masih jauh di bawah yang seharusnya.
Dibandingkan dengan cakupan es laut musim dingin sebelum tahun 2010, lautan sekarang kehilangan sekitar 2,6 juta kilometer persegi es atau hampir empat kali lipat luas Texas.
"Untuk mengatakan belum pernah terjadi sebelumnya tidaklah cukup kuat," kata ahli oseanografi fisik Edward Doddridge, mengutip Science Alert, Rabu (26/7).
Saat itu, rekor terendah telah mencapai tingkat peristiwa 5 sigma, yang merupakan ambang batas di mana para peneliti meyakini apa yang mereka lihat bukan hanya variabilitas acak dari kekacauan alam semesta yang sedang bekerja.
"Bagi Anda yang tertarik dengan statistik, ini adalah peristiwa lima sigma," jelas Doddridge.
"Jadi, ini adalah lima standar deviasi di luar rata-rata. Artinya, jika tidak ada yang berubah, kita akan mengalami musim dingin seperti ini setiap 7,5 juta tahun sekali," imbuhnya.
Sejak saat itu, suhu telah mencapai 6,4 standar deviasi dari rata-rata 1991 hingga 2020.
Doddridge mengatakan krisis iklim kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Meskipun demikian, bagaimana krisis iklim mendorong pencairan es laut yang begitu ekstrem masih belum diketahui secara jelas.
Tak pernah diprediksi
Selama bertahun-tahun, es di Antartika telah mencair dengan cara yang tidak pernah diprediksi oleh model iklim. Ketidaksesuaian ini memperjelas bahwa para ilmuwan belum memiliki pemahaman terperinci tentang bagaimana lautan, es, dan atmosfer di belahan bumi selatan berinteraksi.
Akibat suhu atmosfer global telah menghangat karena emisi bahan bakar fosil, bukti menunjukkan permukaan samudra selatan agak mendingin, sementara bagian yang lebih dalam menghangat.
Permukaan air yang lebih dingin mungkin terdengar seperti kondisi yang penuh harapan bagi es laut yang mengapung, tapi setelah bertahun-tahun mengalami peningkatan cakupan es, es laut Antartika tiba-tiba runtuh pada 2016. Penyebab hal ini masih dicari tahu oleh para peneliti.
Studi awal menunjukkan angin yang semakin hangat di wilayah tersebut mungkin mendorong pencairan es. Transisi menuju El Nino menciptakan angin barat yang sangat kencang di samudra selatan selama beberapa bulan terakhir.
Hal ini kemungkinan besar memecah banyak es laut baru yang biasanya terbentuk saat musim dingin tiba. Namun, ilmuwan iklim dari Universitas Princeton Zachary Labe dalam sebuah postingan blog menyebut hal ini tidak dapat sepenuhnya menjelaskan besarnya es laut yang hilang.
Arus pasang air hangat juga bisa menggerogoti gunung es dari bawah.
Labe berpendapat kurangnya es juga membantu meningkatkan suhu udara permukaan, yang pada gilirannya mungkin menghangatkan air permukaan untuk menciptakan lingkaran umpan balik positif yang selanjutnya mencegah pembentukan es.
Jika es laut mencair di sekitar Antartika, para ilmuwan khawatir hal ini bisa memicu lingkaran umpan balik positif lebih lanjut, karena ombak dan angin hangat lebih mudah mencapai pantai.
Tanpa penelitian lebih lanjut, para ilmuwan tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada es laut di lautan selatan di tahun-tahun mendatang.
Karena samudra selatan membantu menggerakkan seluruh sirkulasi lautan di Bumi, tampaknya ini adalah sesuatu yang harus segera ditangani.
"Mungkin saja musim dingin berikutnya es akan kembali. Kita bisa berharap. Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi," kata Doddridge.
Masalah laut dan atmosfer di halaman berikutnya...
Doddridge mengungkap es laut memiliki sejumlah peran penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi.
Pertama, es membantu mengatur suhu dengan cara memantulkan panas matahari kembali ke ruang angkasa sehingga membantu mengatur suhu planet ini. Menurut dia jika es semakin sedikit, maka sinar matahari yang mengenai permukaan laut akan diserap dan bukannya dipantulkan ke luar angkasa.
"Hal ini mempercepat pemanasan di area tersebut, dan kehangatan tersebut kemudian terbawa ke seluruh dunia," kata Doddridge.
Kedua, siklus tahunan pembekuan dan pencairan mendorong arus global yang mengangkut air yang kaya nutrisi ke seluruh samudra, memberi makan ekosistem.
Es juga merupakan habitat bagi hewan seperti penguin dan anjing laut, dan sangat penting bagi makhluk yang lebih kecil seperti krill, yang memakan ganggang di bawah es selama musim dingin.
Para ilmuwan saat ini tengah mencari tahu apa yang menyebabkan penurunan tersebut. Apakah variabilitas alami atau perubahan iklim yang bertanggung jawab. Doddridge mengatakan kemungkinan besar penyebabnya adalah perubahan iklim.
"Ada orang yang mengatakan bahwa ini bisa jadi variabilitas alami. Tentu saja kami belum bisa memastikannya. Tapi itu sangat tidak mungkin," jelas Doddridge, mengutip ABC.
"Ini jelas merupakan jendela ke masa depan. Kita tahu bahwa seperti inilah dunia akan terlihat saat menghangat. Mungkin saja musim dingin berikutnya akan kembali. Kita bisa berharap. Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi," imbuhnya.
Selain itu, para ilmuwan tidak mengetahui dari mana perubahan itu berasal - laut atau atmosfer.
Doddridge percaya hal ini disebabkan oleh perubahan suhu laut. Fisikawan es laut dari Divisi Antartika Australia berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh kombinasi dari perubahan atmosfer dan laut yang memanas.
"Seluruh sistem yang kita lihat, kita tahu bahwa sistem ini sangat terkait. Setiap perubahan pada salah satu komponen, bahkan di wilayah yang jauh atau mungkin dekat dengan wilayah yang Anda pelajari, akan berpengaruh pada keseluruhan sistem," kata Heil.
"Kita tahu bahwa ada lebih banyak energi saat ini dalam sistem cuaca kita, jadi mereka jelas dapat berkontribusi besar untuk menggerakkan es laut dan juga membawa rezim termodinamika yang berbeda ke es laut," ujarnya menambahkan.
Namun, Heil sepakat dengan Doddridge bahwa akar penyebabnya kemungkinan besar berasal dari aktivitas manusia.
"Pernyataan konsensus saat ini adalah bahwa hal ini sebagian besar disebabkan oleh kekuatan antropogenik yang menyebabkan lautan menghangat, atmosfer menjadi sangat terganggu dan mempengaruhi es laut," ujar dia.
Apapun itu, ia khawatir perubahan lebih lanjut dalam keseimbangan dapat memicu titik kritis yang sulit untuk dibalikkan.
"Kita mungkin akan berada dalam kondisi yang baru. Hal itu akan sangat mengkhawatirkan bagi keberlanjutan kondisi manusia di Bumi, saya kira. Saya pikir banyak orang yang memiliki jangka waktu yang terlalu panjang, mengatakan bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi mereka. Saya cukup yakin bahwa ini adalah sesuatu yang akan dialami oleh generasi saya," tutup dia.
9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata (Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia --
Februari jadi momen saat es laut Antartika mencapai titik terendah di musim panas sejak pencatatan satelit dimulai 45 tahun lalu. Ahli menjelaskan pemicunya.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya Juni, selama 'fase pertumbuhan musim dingin' es laut yang mengambang di sekitar Antartika masih berjuang untuk pulih.
Lini masa es laut di Antartika yang disusun oleh para peneliti di Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menunjukkan cakupan es laut pada bulan Juli masih jauh di bawah yang seharusnya.
Dibandingkan dengan cakupan es laut musim dingin sebelum tahun 2010, lautan sekarang kehilangan sekitar 2,6 juta kilometer persegi es atau hampir empat kali lipat luas Texas.
"Untuk mengatakan belum pernah terjadi sebelumnya tidaklah cukup kuat," kata ahli oseanografi fisik Edward Doddridge, mengutip Science Alert, Rabu (26/7).
Saat itu, rekor terendah telah mencapai tingkat peristiwa 5 sigma, yang merupakan ambang batas di mana para peneliti meyakini apa yang mereka lihat bukan hanya variabilitas acak dari kekacauan alam semesta yang sedang bekerja.
"Bagi Anda yang tertarik dengan statistik, ini adalah peristiwa lima sigma," jelas Doddridge.
"Jadi, ini adalah lima standar deviasi di luar rata-rata. Artinya, jika tidak ada yang berubah, kita akan mengalami musim dingin seperti ini setiap 7,5 juta tahun sekali," imbuhnya.
Sejak saat itu, suhu telah mencapai 6,4 standar deviasi dari rata-rata 1991 hingga 2020.
Doddridge mengatakan krisis iklim kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Meskipun demikian, bagaimana krisis iklim mendorong pencairan es laut yang begitu ekstrem masih belum diketahui secara jelas.
Tak pernah diprediksi
Selama bertahun-tahun, es di Antartika telah mencair dengan cara yang tidak pernah diprediksi oleh model iklim. Ketidaksesuaian ini memperjelas bahwa para ilmuwan belum memiliki pemahaman terperinci tentang bagaimana lautan, es, dan atmosfer di belahan bumi selatan berinteraksi.
Akibat suhu atmosfer global telah menghangat karena emisi bahan bakar fosil, bukti menunjukkan permukaan samudra selatan agak mendingin, sementara bagian yang lebih dalam menghangat.
Permukaan air yang lebih dingin mungkin terdengar seperti kondisi yang penuh harapan bagi es laut yang mengapung, tapi setelah bertahun-tahun mengalami peningkatan cakupan es, es laut Antartika tiba-tiba runtuh pada 2016. Penyebab hal ini masih dicari tahu oleh para peneliti.
Studi awal menunjukkan angin yang semakin hangat di wilayah tersebut mungkin mendorong pencairan es. Transisi menuju El Nino menciptakan angin barat yang sangat kencang di samudra selatan selama beberapa bulan terakhir.
Hal ini kemungkinan besar memecah banyak es laut baru yang biasanya terbentuk saat musim dingin tiba. Namun, ilmuwan iklim dari Universitas Princeton Zachary Labe dalam sebuah postingan blog menyebut hal ini tidak dapat sepenuhnya menjelaskan besarnya es laut yang hilang.
Arus pasang air hangat juga bisa menggerogoti gunung es dari bawah.
Labe berpendapat kurangnya es juga membantu meningkatkan suhu udara permukaan, yang pada gilirannya mungkin menghangatkan air permukaan untuk menciptakan lingkaran umpan balik positif yang selanjutnya mencegah pembentukan es.
Jika es laut mencair di sekitar Antartika, para ilmuwan khawatir hal ini bisa memicu lingkaran umpan balik positif lebih lanjut, karena ombak dan angin hangat lebih mudah mencapai pantai.
Tanpa penelitian lebih lanjut, para ilmuwan tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada es laut di lautan selatan di tahun-tahun mendatang.
Karena samudra selatan membantu menggerakkan seluruh sirkulasi lautan di Bumi, tampaknya ini adalah sesuatu yang harus segera ditangani.
"Mungkin saja musim dingin berikutnya es akan kembali. Kita bisa berharap. Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi," kata Doddridge.
Masalah laut dan atmosfer di halaman berikutnya...
Peran Penting Es Laut Bagi Bumi
Es laut memiliki sejumlah peran penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi. (Foto: AP/Cpl Phil Dye RAF)
Doddridge mengungkap es laut memiliki sejumlah peran penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi.
Pertama, es membantu mengatur suhu dengan cara memantulkan panas matahari kembali ke ruang angkasa sehingga membantu mengatur suhu planet ini. Menurut dia jika es semakin sedikit, maka sinar matahari yang mengenai permukaan laut akan diserap dan bukannya dipantulkan ke luar angkasa.
"Hal ini mempercepat pemanasan di area tersebut, dan kehangatan tersebut kemudian terbawa ke seluruh dunia," kata Doddridge.
Kedua, siklus tahunan pembekuan dan pencairan mendorong arus global yang mengangkut air yang kaya nutrisi ke seluruh samudra, memberi makan ekosistem.
Es juga merupakan habitat bagi hewan seperti penguin dan anjing laut, dan sangat penting bagi makhluk yang lebih kecil seperti krill, yang memakan ganggang di bawah es selama musim dingin.
Para ilmuwan saat ini tengah mencari tahu apa yang menyebabkan penurunan tersebut. Apakah variabilitas alami atau perubahan iklim yang bertanggung jawab. Doddridge mengatakan kemungkinan besar penyebabnya adalah perubahan iklim.
"Ada orang yang mengatakan bahwa ini bisa jadi variabilitas alami. Tentu saja kami belum bisa memastikannya. Tapi itu sangat tidak mungkin," jelas Doddridge, mengutip ABC.
"Ini jelas merupakan jendela ke masa depan. Kita tahu bahwa seperti inilah dunia akan terlihat saat menghangat. Mungkin saja musim dingin berikutnya akan kembali. Kita bisa berharap. Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi," imbuhnya.
Selain itu, para ilmuwan tidak mengetahui dari mana perubahan itu berasal - laut atau atmosfer.
Doddridge percaya hal ini disebabkan oleh perubahan suhu laut. Fisikawan es laut dari Divisi Antartika Australia berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh kombinasi dari perubahan atmosfer dan laut yang memanas.
"Seluruh sistem yang kita lihat, kita tahu bahwa sistem ini sangat terkait. Setiap perubahan pada salah satu komponen, bahkan di wilayah yang jauh atau mungkin dekat dengan wilayah yang Anda pelajari, akan berpengaruh pada keseluruhan sistem," kata Heil.
"Kita tahu bahwa ada lebih banyak energi saat ini dalam sistem cuaca kita, jadi mereka jelas dapat berkontribusi besar untuk menggerakkan es laut dan juga membawa rezim termodinamika yang berbeda ke es laut," ujarnya menambahkan.
Namun, Heil sepakat dengan Doddridge bahwa akar penyebabnya kemungkinan besar berasal dari aktivitas manusia.
"Pernyataan konsensus saat ini adalah bahwa hal ini sebagian besar disebabkan oleh kekuatan antropogenik yang menyebabkan lautan menghangat, atmosfer menjadi sangat terganggu dan mempengaruhi es laut," ujar dia.
Apapun itu, ia khawatir perubahan lebih lanjut dalam keseimbangan dapat memicu titik kritis yang sulit untuk dibalikkan.
"Kita mungkin akan berada dalam kondisi yang baru. Hal itu akan sangat mengkhawatirkan bagi keberlanjutan kondisi manusia di Bumi, saya kira. Saya pikir banyak orang yang memiliki jangka waktu yang terlalu panjang, mengatakan bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi mereka. Saya cukup yakin bahwa ini adalah sesuatu yang akan dialami oleh generasi saya," tutup dia.
9 Bukti Pemanasan Global itu Nyata (Foto: CNN Indonesia/Agder Maulana)