Pakar Bocorkan Alasan Venus Berpotensi Jadi 'Rumah' Alien
CNN Indonesia
Senin, 28 Agu 2023 15:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Planet Venus memiliki beberapa alasan yang membuatnya berpotensi dihuni oleh makhluk cerdas ekstraterestrial atau alien. (Foto: via REUTERS/NASA NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Planet Venus memiliki beberapa alasan yang membuatnya berpotensi dihuni oleh makhluk cerdas ekstraterestrial atau alien.
Sebelumnya, ilmuwan di Goddard Space Flight Centre (GSFC) NASA Michelle Thaller menyebut kemungkinan planet lain dapat menopang kehidupan makhluk hidup. Dari sejumlah planet yang ada di Tata Surya, Venus menjadi salah satu planet yang berpotensi untuk ditinggali makhluk hidup.
"Saya tidak pernah menyangka Venus. Venus sekarang adalah tempat kita melihat sesuatu di atmosfer yang terlihat seperti sesuatu yang dihasilkan oleh bakteri," katanya.
Pada 2021, ilmuwan Pusat Sains dan Rekayasa Antariksa Universitas Wisconsin-Madison Sanjay Limaye menerbitkan rangkaian artikel yang menjelaskan Venus sebagai rumah potensial bagi kehidupan mikroba seperti bakteri dan organisme lainnya.
Berdasarkan data NASA, Venus berada pada jarak 108 juta km dari Matahari dan merupakan planet terpanas di Tata Surya kita, dengan suhu yang bahkan dapat melelehkan timah; permukaannya punya suhu rata-rata 475 derajat Celsius.
Atmosfer Venus terdiri dari asam sulfat dan karbon dioksida. Bahan-bahan itu mencegah panas planet terlempar ke luar angkasa dan menjadikannya tidak dapat dihuni oleh kehidupan 'berakal'.
Meski fitur-fitur tersebut membuat permukaan planet ini tidak ramah, tutupan awan globalnya yang tebal dapat menghadirkan kondisi yang lebih lembut untuk beberapa bentuk kehidupan mikroba karena ketersediaan sinar Matahari, nutrisi, dan sejumlah air. Semua faktor tersebut dapat menciptakan zona yang sempit tapi layak huni seperti yang diteorikan ada di atmosfer yang lebih tinggi.
Dalam studi Limaye dan sejumlah peneliti di jurnal Astrobiologi, mereka menyelidiki aspek-aspek ini dan menyajikan alasan-alasan untuk mengeksplorasi kemungkinan kehidupan, yang mungkin tersembunyi di balik awan-awan planet yang kompleks. Seri penelitian ini mengeksplorasi sejarah Venus sebagai planet yang berpotensi mendukung kehidupan, zona laik huni, dan tanda-tanda potensial organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi.
Ketersediaan air
Salah satu hasil penelitian tersebut menunjukkan Venus tidak selalu seperti sekarang ini. Seperti Bumi, lingkungannya memiliki aktivitas vulkanik dan lautan air yang cair.
Selama hampir 3 miliar tahun, ventilasi panas dan lautan tersebut bisa menjadi tempat hidup bagi mikroorganisme. Namun, kondisi itu telah hilang.
"Ketika kehidupan dimulai di Bumi, kondisi di Venus kemungkinan besar serupa. Beberapa pemodelan menunjukkan air mungkin telah ada selama 1 miliar hingga 3 miliar tahun," kata Limaye, dikutip dari laman Universitas Wisconsin-Madison.
Misteri atmosfer
Selain ketersediaan air, atmosfer Venus juga masih menyimpan misteri. Mengungkap misteri tersebut bisa jadi membawa Venus menjadi sebuah planet yang bisa ditinggali.
Salah satu misteri yang tengah didalami ditemukan lewat beberapa data spektral Venus yang menunjukkan bercak gelap yang menonjol dan tidak dapat dijelaskan pada lapisan awannya. Data ini menunjukkan area penyerapan yang kuat.
Limaye dan rekan-rekannya telah memikirkan apakah mikroorganisme dapat menjadi sumber penyerapan energi Matahari tersebut, seperti halnya bercak ganggang di lautan atau danau di Bumi. Dugaan tersebut muncul didukung oleh jejak air, energi, dan nutrisi seperti karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, dan belerang di awan.
"Venus memiliki potensi untuk menyimpan kondisi metabolisme yang berpusat pada besi dan belerang," ujar Limaye.
"Bersama-sama, penalaran kami menunjukkan bahwa partikel-partikel di awan bawah Venus mengandung keseimbangan massa yang cukup untuk mendukung mikroorganisme, air, dan zat terlarut, serta biomassa yang berpotensi cukup untuk dideteksi dengan metode optik," imbuhnya.
Selain itu, tekanan atmosfer pada ketinggian 48 hingga 70 kilometer di atas permukaan planet ini mirip dengan Bumi, dan awan tebal Venus mengurangi sebagian radiasi ultraviolet Matahari yang merusak, sehingga menciptakan kondisi yang tak terlalu ekstrem. Di Bumi telah ditemukan mikroorganisme bernama ekstremofil yang diketahui bisa bertahan dan bahkan berkembang dalam kondisi yang sama.
Atmosfer planet memiliki banyak fungsi, termasuk penyaringan radiasi berbahaya. Di Bumi, atmosfer (dan medan magnet) menghalangi sebagian besar sinar Matahari yang berbahaya.
Dengan demikian, kehidupan tanaman tumbuh subur di bawah sinar ultraviolet yang lebih lemah yang menyediakan bahan bakar untuk fotosintesis.
Limaye dan rekan-rekannya meyakini atmosfer Venus mampu menghasilkan zona yang seimbang. Dalam sebuah penelitian, ia dan rekan-rekannya menunjukkan atmosfer Venus mungkin dapat mendukung fototrofi, atau kemampuan organisme untuk memanfaatkan sinar Matahari sebagai sumber energi.
"Pancaran sinar Matahari yang dihitung di awan Venus mendukung potensi fototrofi seperti di Bumi," kata Limaye.
Limaye juga menambahkan awan planet ini menunjukkan kemampuan untuk menetralkan gas berbahaya seperti asam sulfat.
Planet Venus memiliki beberapa alasan yang membuatnya berpotensi dihuni oleh makhluk cerdas ekstraterestrial atau alien.
Sebelumnya, ilmuwan di Goddard Space Flight Centre (GSFC) NASA Michelle Thaller menyebut kemungkinan planet lain dapat menopang kehidupan makhluk hidup. Dari sejumlah planet yang ada di Tata Surya, Venus menjadi salah satu planet yang berpotensi untuk ditinggali makhluk hidup.
"Saya tidak pernah menyangka Venus. Venus sekarang adalah tempat kita melihat sesuatu di atmosfer yang terlihat seperti sesuatu yang dihasilkan oleh bakteri," katanya.
Pada 2021, ilmuwan Pusat Sains dan Rekayasa Antariksa Universitas Wisconsin-Madison Sanjay Limaye menerbitkan rangkaian artikel yang menjelaskan Venus sebagai rumah potensial bagi kehidupan mikroba seperti bakteri dan organisme lainnya.
Berdasarkan data NASA, Venus berada pada jarak 108 juta km dari Matahari dan merupakan planet terpanas di Tata Surya kita, dengan suhu yang bahkan dapat melelehkan timah; permukaannya punya suhu rata-rata 475 derajat Celsius.
Atmosfer Venus terdiri dari asam sulfat dan karbon dioksida. Bahan-bahan itu mencegah panas planet terlempar ke luar angkasa dan menjadikannya tidak dapat dihuni oleh kehidupan 'berakal'.
Meski fitur-fitur tersebut membuat permukaan planet ini tidak ramah, tutupan awan globalnya yang tebal dapat menghadirkan kondisi yang lebih lembut untuk beberapa bentuk kehidupan mikroba karena ketersediaan sinar Matahari, nutrisi, dan sejumlah air. Semua faktor tersebut dapat menciptakan zona yang sempit tapi layak huni seperti yang diteorikan ada di atmosfer yang lebih tinggi.
Dalam studi Limaye dan sejumlah peneliti di jurnal Astrobiologi, mereka menyelidiki aspek-aspek ini dan menyajikan alasan-alasan untuk mengeksplorasi kemungkinan kehidupan, yang mungkin tersembunyi di balik awan-awan planet yang kompleks. Seri penelitian ini mengeksplorasi sejarah Venus sebagai planet yang berpotensi mendukung kehidupan, zona laik huni, dan tanda-tanda potensial organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi.
Ketersediaan air
Salah satu hasil penelitian tersebut menunjukkan Venus tidak selalu seperti sekarang ini. Seperti Bumi, lingkungannya memiliki aktivitas vulkanik dan lautan air yang cair.
Selama hampir 3 miliar tahun, ventilasi panas dan lautan tersebut bisa menjadi tempat hidup bagi mikroorganisme. Namun, kondisi itu telah hilang.
"Ketika kehidupan dimulai di Bumi, kondisi di Venus kemungkinan besar serupa. Beberapa pemodelan menunjukkan air mungkin telah ada selama 1 miliar hingga 3 miliar tahun," kata Limaye, dikutip dari laman Universitas Wisconsin-Madison.
Misteri Atmosfer hingga Filter Radiasi
Ilustrasi. Planet Venus memiliki beberapa alasan yang membuatnya berpotensi dihuni oleh makhluk cerdas ekstraterestrial atau alien. (Foto: iStockphoto/ktsimage)
Misteri atmosfer
Selain ketersediaan air, atmosfer Venus juga masih menyimpan misteri. Mengungkap misteri tersebut bisa jadi membawa Venus menjadi sebuah planet yang bisa ditinggali.
Salah satu misteri yang tengah didalami ditemukan lewat beberapa data spektral Venus yang menunjukkan bercak gelap yang menonjol dan tidak dapat dijelaskan pada lapisan awannya. Data ini menunjukkan area penyerapan yang kuat.
Limaye dan rekan-rekannya telah memikirkan apakah mikroorganisme dapat menjadi sumber penyerapan energi Matahari tersebut, seperti halnya bercak ganggang di lautan atau danau di Bumi. Dugaan tersebut muncul didukung oleh jejak air, energi, dan nutrisi seperti karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, dan belerang di awan.
"Venus memiliki potensi untuk menyimpan kondisi metabolisme yang berpusat pada besi dan belerang," ujar Limaye.
"Bersama-sama, penalaran kami menunjukkan bahwa partikel-partikel di awan bawah Venus mengandung keseimbangan massa yang cukup untuk mendukung mikroorganisme, air, dan zat terlarut, serta biomassa yang berpotensi cukup untuk dideteksi dengan metode optik," imbuhnya.
Selain itu, tekanan atmosfer pada ketinggian 48 hingga 70 kilometer di atas permukaan planet ini mirip dengan Bumi, dan awan tebal Venus mengurangi sebagian radiasi ultraviolet Matahari yang merusak, sehingga menciptakan kondisi yang tak terlalu ekstrem. Di Bumi telah ditemukan mikroorganisme bernama ekstremofil yang diketahui bisa bertahan dan bahkan berkembang dalam kondisi yang sama.
Atmosfer planet memiliki banyak fungsi, termasuk penyaringan radiasi berbahaya. Di Bumi, atmosfer (dan medan magnet) menghalangi sebagian besar sinar Matahari yang berbahaya.
Dengan demikian, kehidupan tanaman tumbuh subur di bawah sinar ultraviolet yang lebih lemah yang menyediakan bahan bakar untuk fotosintesis.
Limaye dan rekan-rekannya meyakini atmosfer Venus mampu menghasilkan zona yang seimbang. Dalam sebuah penelitian, ia dan rekan-rekannya menunjukkan atmosfer Venus mungkin dapat mendukung fototrofi, atau kemampuan organisme untuk memanfaatkan sinar Matahari sebagai sumber energi.
"Pancaran sinar Matahari yang dihitung di awan Venus mendukung potensi fototrofi seperti di Bumi," kata Limaye.
Limaye juga menambahkan awan planet ini menunjukkan kemampuan untuk menetralkan gas berbahaya seperti asam sulfat.