Per Selasa (10/10) pukul 18.01 WIB, kata kunci 'Israel' jadi trending topic nomor 1 nasional dengan 5,29 juta kicauan. Selain itu, kata kunci 'hamas' duduk di peringkat keenam dengan 5,8 juta kicauan.
Masalahnya, unggahan-unggahan itu banyak yang merupakan misinformasi dan hoaks.
Menurut laporan CNN, Selasa (10/10), setelah perang meletus, para pengguna dengan cepat menyebar klaim salah dan menyesatkan mengenai konflik tersebut. Musk terpantau mengarahkan para pengguna ke sebuah akun yang dikenal karena menyebarkan informasi yang keliru.
Beberapa pengguna selama akhir pekan membagikan rilis berita palsu dari Gedung Putih yang secara keliru mengklaim bahwa AS mengirimkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan baru ke Israel sebagai tanggapan atas serangan itu.
Akun-akun di X dengan ratusan ribu pengikut, termasuk influencer Jackson Hinkle, dengan cepat menyebarkan siaran pers palsu Gedung Putih, Sabtu (7/10).
Hinkle mengklaim hal ini merupakan tamparan bagi Ukraina yang memohon Washington untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk mempertahankan diri dari Rusia.
Masalahnya, Musk turut menambahkan kekacauan informasi ini.
Pada Minggu (8/10), manusia terkaya dunia versi Forbes ini merekomendasikan pengguna X untuk memantau perkembangan konflik Israel-Hamas dengan mengikuti akun penyebar hoaks yang juga pernah menyebar klaim palsu tentang ledakan di Pentagon awal 2023.
Musk dan Hinkle kemudian menghapus postingan tersebut. Setelahnya, Musk berkicau, "Seperti biasa, cobalah untuk tetap sedekat mungkin dengan kebenaran, bahkan untuk hal-hal yang tidak Anda sukai."
Tidak hanya itu, sebuah akun yang mengaku-ngaku sebagai Jerusalem Post membagikan laporan palsu bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dirawat di rumah sakit. Belakangan, akun tersebut ditangguhkan.
Video-video yang keliru dan unggahan serupa lainnya juga menjadi viral di platform tersebut selama akhir pekan kemarin.
Sebuah video yang diklaim menunjukkan para jenderal Israel setelah ditangkap oleh pejuang Hamas ditonton lebih dari 1,7 juta kali pada Senin (9/10). Nyatanya, video tersebut ternyata berisikan penahanan para separatis di Azerbaijan.
Postingan lainnya menunjukkan pesawat yang ditembak jatuh dlihat lebih dari 500 ribu kali di X.
Namun, video tersebut sebetulnya adalah klip dari video game Arma 3, seperti ditulis dalam Catatan Komunitas (Community Notes) yang dilampirkan pada unggahan tersebut.
Apa Beda Yahudi, Israel, dan Zionis? (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Efek Twitter Blue berbayar di halaman berikutnya...
Emerson Brooking, peneliti senior di Digital Forensic Research Lab Atlantic Council, mengatakan media sosial bisa berubah menjadi medan perang propaganda. Menurutnya, platform milik Musk itu pun sudah jadi medan pertempuran 'online'.
"Pada masa perang, media sosial menjadi medan perang propaganda; selalu ada unsur disinformasi dan pembesar-besarkan. Saat ini, X adalah platform utama di mana pertempuran online ini terjadi," kata dia.
Brooking mengatakan perubahan kebijakan X di bawah kepemilikan Musk, yakni centang biru berbayar, memberikan angin segar bagi para propagandis dan penipu.
Setiap pengguna sekarang dapat membeli tanda centang "verifikasi" di X dengan mendaftar ke program langganan platform seharga US$8 per bulan, dan postingan mereka kemudian didorong oleh algoritma platform dan memenuhi syarat untuk dimonetisasi.
"Verifikasi berbayar berarti Anda tidak dapat membedakan antara jurnalis yang sudah diperiksa dan penipu," kata Brooking.
"Sistem 'views' yang mencari keuntungan memberi insentif kepada akun-akun yang menyamar sebagai outlet berita dan memposting sesering mungkin, mengambil dari sumber apa pun yang mereka bisa atau hanya mengarang."
Twitter telah lama memainkan peran penting dalam berbagi informasi selama konflik, mulai dari Arab Spring pada 2014 hingga invasi Ukraina tahun 2022.
Misinformasi yang viral selalu ada di platform ini, tetapi hal ini menjadi sangat menonjol di bawah kepemimpinan Musk, kata para ahli.
"Dalam satu dekade terakhir, setiap konflik pasti menimbulkan 'kabut perang' digital, di mana kedua belah pihak, dan para pendukungnya, mencoba menggunakan platform sosial untuk memutarbalikkan narasi yang menguntungkan mereka," kata Joe Galvin, jurnalis spesialis intelijen.
"Volume dan jangkauan misinformasi saat ini, jauh melebihi apa yang kita lihat pada konflik era media sosial awal, dan diperburuk oleh platform seperti X, yang telah menghilangkan pagar pembatas dan memungkinkan jenis disinformasi yang paling mengerikan merajalela," lanjut Galvin.
Dia mengatakan platform lain yang memiliki sedikit atau tidak ada pagar pembatas termasuk aplikasi pesan media sosial Telegram juga merupakan sarang misinformasi, tetapi X unik karena perilaku Musk.
"Bahkan pemilik X ikut ambil bagian dalam kekacauan ini, dengan mempromosikan akun-akun yang diketahui menyebarkan kebohongan kepada 150 juta pengikutnya."
"Faktanya orang-orang jahat, yang didukung oleh negara dan lainnya, telah menjadi lebih baik dalam menyebarkan kebohongan, dengan jaringan yang lebih canggih yang dibangun dan teknologi yang lebih baik - termasuk AI - yang digunakan. Platform-platform ini terus mengejar ketertinggalan," pungkas Galvin.
Per Selasa (10/10) pukul 18.01 WIB, kata kunci 'Israel' jadi trending topic nomor 1 nasional dengan 5,29 juta kicauan. Selain itu, kata kunci 'hamas' duduk di peringkat keenam dengan 5,8 juta kicauan.
Masalahnya, unggahan-unggahan itu banyak yang merupakan misinformasi dan hoaks.
Menurut laporan CNN, Selasa (10/10), setelah perang meletus, para pengguna dengan cepat menyebar klaim salah dan menyesatkan mengenai konflik tersebut. Musk terpantau mengarahkan para pengguna ke sebuah akun yang dikenal karena menyebarkan informasi yang keliru.
Beberapa pengguna selama akhir pekan membagikan rilis berita palsu dari Gedung Putih yang secara keliru mengklaim bahwa AS mengirimkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan baru ke Israel sebagai tanggapan atas serangan itu.
Akun-akun di X dengan ratusan ribu pengikut, termasuk influencer Jackson Hinkle, dengan cepat menyebarkan siaran pers palsu Gedung Putih, Sabtu (7/10).
Hinkle mengklaim hal ini merupakan tamparan bagi Ukraina yang memohon Washington untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk mempertahankan diri dari Rusia.
Masalahnya, Musk turut menambahkan kekacauan informasi ini.
Pada Minggu (8/10), manusia terkaya dunia versi Forbes ini merekomendasikan pengguna X untuk memantau perkembangan konflik Israel-Hamas dengan mengikuti akun penyebar hoaks yang juga pernah menyebar klaim palsu tentang ledakan di Pentagon awal 2023.
Musk dan Hinkle kemudian menghapus postingan tersebut. Setelahnya, Musk berkicau, "Seperti biasa, cobalah untuk tetap sedekat mungkin dengan kebenaran, bahkan untuk hal-hal yang tidak Anda sukai."
Tidak hanya itu, sebuah akun yang mengaku-ngaku sebagai Jerusalem Post membagikan laporan palsu bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dirawat di rumah sakit. Belakangan, akun tersebut ditangguhkan.
Video-video yang keliru dan unggahan serupa lainnya juga menjadi viral di platform tersebut selama akhir pekan kemarin.
Sebuah video yang diklaim menunjukkan para jenderal Israel setelah ditangkap oleh pejuang Hamas ditonton lebih dari 1,7 juta kali pada Senin (9/10). Nyatanya, video tersebut ternyata berisikan penahanan para separatis di Azerbaijan.
Postingan lainnya menunjukkan pesawat yang ditembak jatuh dlihat lebih dari 500 ribu kali di X.
Namun, video tersebut sebetulnya adalah klip dari video game Arma 3, seperti ditulis dalam Catatan Komunitas (Community Notes) yang dilampirkan pada unggahan tersebut.
Apa Beda Yahudi, Israel, dan Zionis? (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Efek Twitter Blue berbayar di halaman berikutnya...
Ulah Fitur Centang Biru Berbayar
Ilustrasi. Para ahli menyebut misinformasi X alias Twitter semakin memperburuk suasana konflik Israel-Palestina. (Foto: REUTERS/MOHAMMED SALEM)
Emerson Brooking, peneliti senior di Digital Forensic Research Lab Atlantic Council, mengatakan media sosial bisa berubah menjadi medan perang propaganda. Menurutnya, platform milik Musk itu pun sudah jadi medan pertempuran 'online'.
"Pada masa perang, media sosial menjadi medan perang propaganda; selalu ada unsur disinformasi dan pembesar-besarkan. Saat ini, X adalah platform utama di mana pertempuran online ini terjadi," kata dia.
Brooking mengatakan perubahan kebijakan X di bawah kepemilikan Musk, yakni centang biru berbayar, memberikan angin segar bagi para propagandis dan penipu.
Setiap pengguna sekarang dapat membeli tanda centang "verifikasi" di X dengan mendaftar ke program langganan platform seharga US$8 per bulan, dan postingan mereka kemudian didorong oleh algoritma platform dan memenuhi syarat untuk dimonetisasi.
"Verifikasi berbayar berarti Anda tidak dapat membedakan antara jurnalis yang sudah diperiksa dan penipu," kata Brooking.
"Sistem 'views' yang mencari keuntungan memberi insentif kepada akun-akun yang menyamar sebagai outlet berita dan memposting sesering mungkin, mengambil dari sumber apa pun yang mereka bisa atau hanya mengarang."
Twitter telah lama memainkan peran penting dalam berbagi informasi selama konflik, mulai dari Arab Spring pada 2014 hingga invasi Ukraina tahun 2022.
Misinformasi yang viral selalu ada di platform ini, tetapi hal ini menjadi sangat menonjol di bawah kepemimpinan Musk, kata para ahli.
"Dalam satu dekade terakhir, setiap konflik pasti menimbulkan 'kabut perang' digital, di mana kedua belah pihak, dan para pendukungnya, mencoba menggunakan platform sosial untuk memutarbalikkan narasi yang menguntungkan mereka," kata Joe Galvin, jurnalis spesialis intelijen.
"Volume dan jangkauan misinformasi saat ini, jauh melebihi apa yang kita lihat pada konflik era media sosial awal, dan diperburuk oleh platform seperti X, yang telah menghilangkan pagar pembatas dan memungkinkan jenis disinformasi yang paling mengerikan merajalela," lanjut Galvin.
Dia mengatakan platform lain yang memiliki sedikit atau tidak ada pagar pembatas termasuk aplikasi pesan media sosial Telegram juga merupakan sarang misinformasi, tetapi X unik karena perilaku Musk.
"Bahkan pemilik X ikut ambil bagian dalam kekacauan ini, dengan mempromosikan akun-akun yang diketahui menyebarkan kebohongan kepada 150 juta pengikutnya."
"Faktanya orang-orang jahat, yang didukung oleh negara dan lainnya, telah menjadi lebih baik dalam menyebarkan kebohongan, dengan jaringan yang lebih canggih yang dibangun dan teknologi yang lebih baik - termasuk AI - yang digunakan. Platform-platform ini terus mengejar ketertinggalan," pungkas Galvin.