Mengenal Sistem Sinyal Kereta Pencegah Insiden 'Adu Banteng'
CNN Indonesia
Jumat, 05 Jan 2024 15:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Lalu lintas kereta dilindungi oleh sistem interlocking. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lalu lintas kereta api dilengkapi mekanisme keselamatan berbasis sinyal. Semua perangkatnya tergabung sistem interlocking yang amat penting buat menjaga agar tak terjadi tabrakan.
"Kereta tidak bisa berhenti begitu saja karena diperlukan perlambatan dari jarak yang cukup jauh untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Untuk mengamankan perjalanan kereta api tidak terjadi kecelakaan, dibutuhkan perangkat sinyal," ungkap Agung Prasdianto, Interlocking Software Engineer dari PT LEN Railway System, dalam sebuah webinar, Rabu (23/6/2021), dikutip dari situs ITB.
Ia menjelaskan sistem persinyalan ini merupakan sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari suatu stasiun menuju stasiun berikutnya.
Sinyal, kata Agung, diperlukan untuk membagi ruang perjalanan kereta api ke dalam petak-petak yang disebut blok. Sinyal inilah yang menjamin agar tak terjadi kecelakaan.
PT KAI, dikutip dari situsnya, menyatakan sinyal dan telekomunikasi (sintel) memiliki peran vital dalam mengamankan perjalanan kereta api, baik jalur tunggal maupun ganda.
"Sinyal berfungsi guna mengamankan kereta api yang hendak masuk stasiun, di stasiun dan keluar stasiun. Sedangkan telekomunikasi berguna mengamankan hubungan antar dua stasiun."
Sejak beroperasi di Indonesia pada 1867 (lintas Semarang-Tanggung), kereta api punya beberapa macam persinyalan.
Awalnya, penempatan persinyal di pinggir jalur kereta mempunyai tujuan yang sederhana, yakni sebagai batas penanda perhentian kereta api sebelum masuk stasiun. Fungsi sinyal pun berkembang.
Macam sinyal yang pernah dipakai di Indonesia ialah Sinyal Tebeng, Krian, Alkmaar, Siemens & Halske (S&H) dan sinyal elektrik.
Sinyal yang pertama kali digunakan ialah sinyal tebeng, berupa piringan berwarna merah yang ditempatkan pada as vertikal yang dapat diputar.
Lalu lintas kereta yang semakin ramai membuat operator beralih kepada peralatan yang lebih canggih. Misalnya, sinyal krian, bentuknya peralatan yang dapat mengunci sendiri agar lebih aman dan meninggikan tiang sinyal. Namanya diambil dari lokasi ertama kali dipasang, Stasiun Krian.
Setelah itu, KAI memakai Sinyal Alkmaar mulai 1910. Bentuknya berupa satu atau dua buah lengan ayun yang berjajar atas-bawah serta dikendalikan melalui rumah sinyal. Selain itu tuas-tuas dalam rumah sinyal dipasang agar hanya dapat digerakan satu sinyal dalam waktu yang sama.
Kereta api lantas menggunakan Sinyal Siemens & Halske (S&H). Sinyal jenis ini dapat mengatur perjalanan kereta api dalam satu petak (antar dua stasiun) dengan menambahkan sebuah pesawat blok.
Dalam operasionalnya, sinyal ini memiliki dua jenis tipe, yakni makanis dan semi otomatis. Pada tipe semi otomatis, setelah kereta api lewat sinyal yang dibuka (lengan naik ke atas) akan kembali pada kedudukan normal (sinyal menutup sendiri).
PT KAI menyebut saat ini sebagian besar lintas kereta api sudah dilengkapi dengan persinyal elektrik. Contohnya, Vital Processor Interlocking (VPI), Solid State Interlocking (SSI), Westtrace, System Interlocking Len (SIL).
Pembagian perangkat
Agung mengatakan sistem persinyalan ini terdiri dari berbagai bagian. Pertama, pusat pengendali lalu lintas kereta terpusat berupa Centralized Railway Traffic Control System.
"Jadi Centralized Railway Traffic Control System adalah sebuah sistem untuk mengontrol sistem persinyalan dalam kereta api," ujar alumni Teknik Fisika ITB itu.
Kedua, perangkat sinyal. Sejauh ini, ada tiga peralatan yang kerap digunakan dalam operasi perkeretaapian di Indonesia, yaitu tuas mekanik, local control panel, dan visual display unit.
Ketiga, operator manusia yang mengoperasikan perangkat-perangkat tersebut.
Keempat, juga alat pendeteksi keberadaan kereta api. Ada dua alat yang digunakan, yaitu axle counter dan track circuit. Axle counter bekerja dengan alat bernama evaluator untuk menghitung roda yang lewat.
Sistem interlocking di halaman berikutnya...
Agung menjelaskan semua perangkat yang ada di sistem persinyalan itu semuanya saling terkait dan saling mengunci satu sama lain dan diatur oleh sebuah sistem yang disebut dengan sistem interlocking.
Direktur Kenderal Perekretaapian Kementerian Perhubungan, dikutip dari situsnya, menjelaskan interlocking bisa diartikan sebagai komputer khusus yang dirancang dengan tujuan mengatur keselamatan perjalanan kereta api dan kereta api yang masuk dan keluar dari stasiun.
Ada dua jenis interlocking; sistem interlocking mekanik dan juga sistem interlocking elektrik.
Sistem interlocking elektrik punya sejumlah komponen kunci, seperti LCP/VDU sebagai operator pada sistem ini, technician terminal pada maintenance, dan sistem CTC/CTS SilVue OI1000 untuk operation control center.
"Technician terminal bisa dibilang black box-nya kereta yang merekam semua kerja sinyal dan bisa melihat kejadian yang sudah terjadi sebelumnya," jelas Agung.
"Technician terminal juga dapat mencatat kapan saja alarm nyala dan kapan saja ada gangguan," imbuhnya.
Insiden interlocking
Insiden kegagalan sistem interlocking bisa berbuah fatal. Contohnya, kecelakaan kereta di India yang menewaskan setidaknya 288 orang, Juni 2023.
Menteri Kereta Api India Ashwini Vaishnaw mengatakan kecelakaan ini terjadi karena "perubahan di interlocking elektronik" dan investgasi akan menunjukkan "siapa yang bertanggungjawab."
Menurut pejabat senior perkeretaapian, kecelakaan itu terjadi ketika Coromandel Express, kereta berkecepatan tinggi yang berangkat dari Kolkata ke Chennai, dialihkan ke jalur melingkar dan menabrak kereta barang berat yang berhenti di stasiun kereta Bahanaga Bazar.
Sebelumnya, tabrakan terjadi antara Kereta Api Turangga dengan KRL Commuter Line Bandung Raya di KM 181+700, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jumat (5/1) pukul 06.03 WIB. Lokasi itu ada di antara Stasiun Haurpugur dan Stasiun Cicalengka, tepatnya 800 meter sebelum sinyal masuk Stasiun Cicalengka.
Sejauh ini, korban meninggal mencapai empat orang dengan puluhan lainnya luka-luka.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengaku masih melakukan investigasi soal penyebab kecelakaan yang direncanakan berlangsung selama empat hari, mulai 5 hingga 8 Januari.
"Kami akan melakukan analisis menyeluruh terhadap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kecelakaan, serta melakukan koordinasi dengan beberapa pihak," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, dalam keterangan tertulisnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lalu lintas kereta api dilengkapi mekanisme keselamatan berbasis sinyal. Semua perangkatnya tergabung sistem interlocking yang amat penting buat menjaga agar tak terjadi tabrakan.
"Kereta tidak bisa berhenti begitu saja karena diperlukan perlambatan dari jarak yang cukup jauh untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Untuk mengamankan perjalanan kereta api tidak terjadi kecelakaan, dibutuhkan perangkat sinyal," ungkap Agung Prasdianto, Interlocking Software Engineer dari PT LEN Railway System, dalam sebuah webinar, Rabu (23/6/2021), dikutip dari situs ITB.
Ia menjelaskan sistem persinyalan ini merupakan sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari suatu stasiun menuju stasiun berikutnya.
Sinyal, kata Agung, diperlukan untuk membagi ruang perjalanan kereta api ke dalam petak-petak yang disebut blok. Sinyal inilah yang menjamin agar tak terjadi kecelakaan.
PT KAI, dikutip dari situsnya, menyatakan sinyal dan telekomunikasi (sintel) memiliki peran vital dalam mengamankan perjalanan kereta api, baik jalur tunggal maupun ganda.
"Sinyal berfungsi guna mengamankan kereta api yang hendak masuk stasiun, di stasiun dan keluar stasiun. Sedangkan telekomunikasi berguna mengamankan hubungan antar dua stasiun."
Sejak beroperasi di Indonesia pada 1867 (lintas Semarang-Tanggung), kereta api punya beberapa macam persinyalan.
Awalnya, penempatan persinyal di pinggir jalur kereta mempunyai tujuan yang sederhana, yakni sebagai batas penanda perhentian kereta api sebelum masuk stasiun. Fungsi sinyal pun berkembang.
Macam sinyal yang pernah dipakai di Indonesia ialah Sinyal Tebeng, Krian, Alkmaar, Siemens & Halske (S&H) dan sinyal elektrik.
Sinyal yang pertama kali digunakan ialah sinyal tebeng, berupa piringan berwarna merah yang ditempatkan pada as vertikal yang dapat diputar.
Lalu lintas kereta yang semakin ramai membuat operator beralih kepada peralatan yang lebih canggih. Misalnya, sinyal krian, bentuknya peralatan yang dapat mengunci sendiri agar lebih aman dan meninggikan tiang sinyal. Namanya diambil dari lokasi ertama kali dipasang, Stasiun Krian.
Setelah itu, KAI memakai Sinyal Alkmaar mulai 1910. Bentuknya berupa satu atau dua buah lengan ayun yang berjajar atas-bawah serta dikendalikan melalui rumah sinyal. Selain itu tuas-tuas dalam rumah sinyal dipasang agar hanya dapat digerakan satu sinyal dalam waktu yang sama.
Kereta api lantas menggunakan Sinyal Siemens & Halske (S&H). Sinyal jenis ini dapat mengatur perjalanan kereta api dalam satu petak (antar dua stasiun) dengan menambahkan sebuah pesawat blok.
Dalam operasionalnya, sinyal ini memiliki dua jenis tipe, yakni makanis dan semi otomatis. Pada tipe semi otomatis, setelah kereta api lewat sinyal yang dibuka (lengan naik ke atas) akan kembali pada kedudukan normal (sinyal menutup sendiri).
PT KAI menyebut saat ini sebagian besar lintas kereta api sudah dilengkapi dengan persinyal elektrik. Contohnya, Vital Processor Interlocking (VPI), Solid State Interlocking (SSI), Westtrace, System Interlocking Len (SIL).
Pembagian perangkat
Agung mengatakan sistem persinyalan ini terdiri dari berbagai bagian. Pertama, pusat pengendali lalu lintas kereta terpusat berupa Centralized Railway Traffic Control System.
"Jadi Centralized Railway Traffic Control System adalah sebuah sistem untuk mengontrol sistem persinyalan dalam kereta api," ujar alumni Teknik Fisika ITB itu.
Kedua, perangkat sinyal. Sejauh ini, ada tiga peralatan yang kerap digunakan dalam operasi perkeretaapian di Indonesia, yaitu tuas mekanik, local control panel, dan visual display unit.
Ketiga, operator manusia yang mengoperasikan perangkat-perangkat tersebut.
Keempat, juga alat pendeteksi keberadaan kereta api. Ada dua alat yang digunakan, yaitu axle counter dan track circuit. Axle counter bekerja dengan alat bernama evaluator untuk menghitung roda yang lewat.
Sistem interlocking di halaman berikutnya...
Pentingnya Sistem Interlocking
Kecelakaan kereta di Odisha, India, Juni 2023, disebut terkait kegagalan interlocking. (REUTERS/STRINGER)
Agung menjelaskan semua perangkat yang ada di sistem persinyalan itu semuanya saling terkait dan saling mengunci satu sama lain dan diatur oleh sebuah sistem yang disebut dengan sistem interlocking.
Direktur Kenderal Perekretaapian Kementerian Perhubungan, dikutip dari situsnya, menjelaskan interlocking bisa diartikan sebagai komputer khusus yang dirancang dengan tujuan mengatur keselamatan perjalanan kereta api dan kereta api yang masuk dan keluar dari stasiun.
Ada dua jenis interlocking; sistem interlocking mekanik dan juga sistem interlocking elektrik.
Sistem interlocking elektrik punya sejumlah komponen kunci, seperti LCP/VDU sebagai operator pada sistem ini, technician terminal pada maintenance, dan sistem CTC/CTS SilVue OI1000 untuk operation control center.
"Technician terminal bisa dibilang black box-nya kereta yang merekam semua kerja sinyal dan bisa melihat kejadian yang sudah terjadi sebelumnya," jelas Agung.
"Technician terminal juga dapat mencatat kapan saja alarm nyala dan kapan saja ada gangguan," imbuhnya.
Insiden interlocking
Insiden kegagalan sistem interlocking bisa berbuah fatal. Contohnya, kecelakaan kereta di India yang menewaskan setidaknya 288 orang, Juni 2023.
Menteri Kereta Api India Ashwini Vaishnaw mengatakan kecelakaan ini terjadi karena "perubahan di interlocking elektronik" dan investgasi akan menunjukkan "siapa yang bertanggungjawab."
Menurut pejabat senior perkeretaapian, kecelakaan itu terjadi ketika Coromandel Express, kereta berkecepatan tinggi yang berangkat dari Kolkata ke Chennai, dialihkan ke jalur melingkar dan menabrak kereta barang berat yang berhenti di stasiun kereta Bahanaga Bazar.
Sebelumnya, tabrakan terjadi antara Kereta Api Turangga dengan KRL Commuter Line Bandung Raya di KM 181+700, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jumat (5/1) pukul 06.03 WIB. Lokasi itu ada di antara Stasiun Haurpugur dan Stasiun Cicalengka, tepatnya 800 meter sebelum sinyal masuk Stasiun Cicalengka.
Sejauh ini, korban meninggal mencapai empat orang dengan puluhan lainnya luka-luka.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengaku masih melakukan investigasi soal penyebab kecelakaan yang direncanakan berlangsung selama empat hari, mulai 5 hingga 8 Januari.
"Kami akan melakukan analisis menyeluruh terhadap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kecelakaan, serta melakukan koordinasi dengan beberapa pihak," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, dalam keterangan tertulisnya.