Adakah Capres yang Kasih Solusi Efek Krisis Iklim ke Pertanian?
CNN Indonesia
Selasa, 16 Jan 2024 09:51 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Simak paparan visi misi capres terkait iklim dan dampaknya ke sektor pertanian. (Foto: CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saat rekor-rekor panas terus pecah imbas krisis iklim, sektor pangan diprediksi jadi salah satu yang amat terdampak. Bagaimana tiga pasangan calon presiden-calon wakil presiden di Pemilu 2024 berusaha menanganinya pada visi-misi masing-masing?
Dalam kicauannya di X, Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengungkap 2023 merupakan tahun terpanas "dengan kejadian 50 persen hari-hari selama 2023 suhunya memanas di atas 1,5 derajat Celsius."
"Menyoroti sektor yg paling terdampak adalah pertanian dan ketahanan pangan. Suhu meningkat 1,5C efeknya pada pergeseran dan ketidakpastian musim shg membingungkan petani. Tapi tak ada solusi komprehensif disinggung utk atasi krisis iklim yg nyata diperlihatkan dari para paslon," ujar dia di akun pribadinya, @Eyulihastin, Minggu (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa sebetulnya dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian?
Senada, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengungkap pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim.
Variabilitas iklim memberikan pengaruh signifikan pada pertumbuhan tanam dan produksi perkebunan.
Perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu udara menyebabkan produksi pertanian menurun secara signifikan. Kejadian iklim ekstrem berupa banjir dan kekeringan menyebabkan tanaman yang mengalami gagal panen atau puso semakin luas.
"Dampak perubahan iklim yang demikian besar memerlukan upaya aktif untuk mengantisipasinya melalui strategi mitigasi dan adaptasi. Jika tidak, maka ketahanan pangan nasional akan terancam," kata Dwikorita, mengutip laman resmi BMKG.
Lalu, bagaimana usaha penanganan masalah iklim dan dampaknya ke sektor pertanian ini dalam pandangan ketiga paslon peserta Pilpres 2024?
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) memiliki sejumlah program yang berkaitan dengan masalah mengenai krisis iklim dan dampaknya ke sektor pertanian.
Hal tersebut tertuang dalam dokumen Visi, Misi, dan Program bertajuk 'Indonesia Adil Makmur untuk Semua'.
Salah satu misi pasangan AMIN adalah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok dan biaya hidup murah melalui kemandirian pangan, ketahanan energi dan kedaulatan air.
Untuk menuntaskan misi tersebut, pasangan yang diusung Partai NasDem, PKB, dan PKS itu berjanji bakal meminimalkan impor dan meningkatkan produksi pangan untuk mengurangi risiko dan gejolak pasokan pangan akibat perubahan iklim dan dinamika geopolitik.
Selain itu, mereka berjanji akan menerapkan sustainable forest management, dan menghentikan deforestasi hutan, terutama di Kalimantan, Sumatra dan Papua, untuk mempertahankan fungsi sebagai paru-paru dunia.
Kemudian, masalah iklim juga disorot di dalam misi mewujudkan keadilan ekologis berkelanjutan untuk generasi mendatang. Menurut pasangan itu, isu lingkungan menjadi prioritas utama untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan.
"Inisiatif kami meliputi pengembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah, pengendalian polusi, antisipasi bencana dan perubahan iklim, serta menjaga keanekaragaman hayati. Kita harus pastikan lingkungan hidup yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang lebih baik daripada kondisi yang kita terima dari para pendahulu," demikian bunyi penjelasan dalam dokumen tersebut.
Program-programnya meliputi, menekan laju kerusakan hutan, konservasi intake forest, dan reforestasi/rehabilitasi untuk memaksimalkan peran hutan sebagai carbon sink.
Serta mengoptimalkan restorasi lahan gambut untuk mencegah kebakaran, memperlambat perubahan iklim dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi rakyat.
Paslon nomor urut 2 dan 3 di halaman berikutnya...
Paslon 2 Prabowo-Gibran
Dalam visi-misinya, pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming menyatakan perubahan iklim merupakan salah satu tantangan strategis yang dihadapi Indonesia.
Merujuk dokumen visi dan misi berjudul 'Bersama Indonesia Maju', pasangan ini menyebut perubahan iklim bisa menyebabkan kekeringan dan hujan ekstrem yang menurunkan produksi pangan, kerawanan pangan, meningkatkan harga pangan, serta mengancam keselamatan jiwa.
Dalam dokumen itu, setidaknya ada 17 program prioritas Prabowo-Gibran, dan dua di antaranya berkaitan dengan masalah krisis iklim dan dampaknya pada sektor pertanian.
Pertama, mencapai swasembada pangan, energi, dan air. Dokumen visi-misi itu mencantumkan bahwa pencapaian swasembada pangan, energi, dan air harus dilakukan secara cepat dan seksama.
"Untuk program pangan di antaranya dengan pengembangan program food estate, terutama untuk padi, jagung, singkong, kedelai, dan tebu. Ditargetkan minimal 4 juta hektare tambahan luas panen tanaman pangan tercapai pada tahun 2029.
Kedua, menjamin pelestarian lingkungan hidup. Dalam upaya pembangunan dan peningkatan ekonomi negara, kepastian keberlanjutan dan pelestarian lingkungan hidup menjadi prioritas utama untuk menjamin generasi mendatang dapat hidup sehat dan nyaman.
Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD juga mengidentifikasi bahwa krisis iklim adalah persoalan pokok dan tantangan ke depan bagi Indonesia.
Hal tersebut terungkap dalam dokumen visi dan misi Ganjar-Mahfud bertajuk 'Menuju Indonesia Unggul'.
Menurut mereka perubahan iklim yang telah bergeser menjadi krisis iklim mengharuskan pergeseran paradigma dalam pembangunan. Lingkungan hidup atau planetary boundaries harus menjadi batasan bagi seluruh aktivitas, utamanya aktivitas ekonomi.
"Keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan menjadi titik krusial," demikian bunyi salah satu poin dalam visi dan misi Ganjar-Mahfud.
Salah satu misi pasangan nomor urut 3 ini adalah mempercepat perwujudan lingkungan hidup yang berkelanjutan melalui ekonomi hijau dan biru.
Lingkungan hidup berkelanjutan itu melingkupi upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, serta harmoni hutan untuk keseimbangan.
Ini dilakukan dengan moratorium deforestasi dan mempercepat reforestasi, reboisasi, dan rehabilitasi.
Selain itu, meningkatkan konservasi kawasan hutan sebagai sumber pangan lokal, obat-obatan herbal, air, oksigen, fungsi klimatologis, dan layanan alam bagi kehidupan masyarakat di sekitar hutan.
Ada pula pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan, adaptasi dan mitigasi krisis iklim, penerapan ESG (Enviromental, Social, Governance), dan program KadarKlim (Kampung Sadar Iklim).
Jakarta, CNN Indonesia --
Saat rekor-rekor panas terus pecah imbas krisis iklim, sektor pangan diprediksi jadi salah satu yang amat terdampak. Bagaimana tiga pasangan calon presiden-calon wakil presiden di Pemilu 2024 berusaha menanganinya pada visi-misi masing-masing?
Dalam kicauannya di X, Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengungkap 2023 merupakan tahun terpanas "dengan kejadian 50 persen hari-hari selama 2023 suhunya memanas di atas 1,5 derajat Celsius."
"Menyoroti sektor yg paling terdampak adalah pertanian dan ketahanan pangan. Suhu meningkat 1,5C efeknya pada pergeseran dan ketidakpastian musim shg membingungkan petani. Tapi tak ada solusi komprehensif disinggung utk atasi krisis iklim yg nyata diperlihatkan dari para paslon," ujar dia di akun pribadinya, @Eyulihastin, Minggu (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa sebetulnya dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian?
Senada, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengungkap pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim.
Variabilitas iklim memberikan pengaruh signifikan pada pertumbuhan tanam dan produksi perkebunan.
Perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu udara menyebabkan produksi pertanian menurun secara signifikan. Kejadian iklim ekstrem berupa banjir dan kekeringan menyebabkan tanaman yang mengalami gagal panen atau puso semakin luas.
"Dampak perubahan iklim yang demikian besar memerlukan upaya aktif untuk mengantisipasinya melalui strategi mitigasi dan adaptasi. Jika tidak, maka ketahanan pangan nasional akan terancam," kata Dwikorita, mengutip laman resmi BMKG.
Lalu, bagaimana usaha penanganan masalah iklim dan dampaknya ke sektor pertanian ini dalam pandangan ketiga paslon peserta Pilpres 2024?
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) memiliki sejumlah program yang berkaitan dengan masalah mengenai krisis iklim dan dampaknya ke sektor pertanian.
Hal tersebut tertuang dalam dokumen Visi, Misi, dan Program bertajuk 'Indonesia Adil Makmur untuk Semua'.
Salah satu misi pasangan AMIN adalah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok dan biaya hidup murah melalui kemandirian pangan, ketahanan energi dan kedaulatan air.
Untuk menuntaskan misi tersebut, pasangan yang diusung Partai NasDem, PKB, dan PKS itu berjanji bakal meminimalkan impor dan meningkatkan produksi pangan untuk mengurangi risiko dan gejolak pasokan pangan akibat perubahan iklim dan dinamika geopolitik.
Selain itu, mereka berjanji akan menerapkan sustainable forest management, dan menghentikan deforestasi hutan, terutama di Kalimantan, Sumatra dan Papua, untuk mempertahankan fungsi sebagai paru-paru dunia.
Kemudian, masalah iklim juga disorot di dalam misi mewujudkan keadilan ekologis berkelanjutan untuk generasi mendatang. Menurut pasangan itu, isu lingkungan menjadi prioritas utama untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan.
"Inisiatif kami meliputi pengembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah, pengendalian polusi, antisipasi bencana dan perubahan iklim, serta menjaga keanekaragaman hayati. Kita harus pastikan lingkungan hidup yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang lebih baik daripada kondisi yang kita terima dari para pendahulu," demikian bunyi penjelasan dalam dokumen tersebut.
Program-programnya meliputi, menekan laju kerusakan hutan, konservasi intake forest, dan reforestasi/rehabilitasi untuk memaksimalkan peran hutan sebagai carbon sink.
Serta mengoptimalkan restorasi lahan gambut untuk mencegah kebakaran, memperlambat perubahan iklim dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi rakyat.
Paslon nomor urut 2 dan 3 di halaman berikutnya...
Prabowo Hingga Ganjar
Ilustrasi. Paslon punya visi masing-masing soal iklim. (Diolah dari Dok. CNNIndonesia)
Paslon 2 Prabowo-Gibran
Dalam visi-misinya, pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming menyatakan perubahan iklim merupakan salah satu tantangan strategis yang dihadapi Indonesia.
Merujuk dokumen visi dan misi berjudul 'Bersama Indonesia Maju', pasangan ini menyebut perubahan iklim bisa menyebabkan kekeringan dan hujan ekstrem yang menurunkan produksi pangan, kerawanan pangan, meningkatkan harga pangan, serta mengancam keselamatan jiwa.
Dalam dokumen itu, setidaknya ada 17 program prioritas Prabowo-Gibran, dan dua di antaranya berkaitan dengan masalah krisis iklim dan dampaknya pada sektor pertanian.
Pertama, mencapai swasembada pangan, energi, dan air. Dokumen visi-misi itu mencantumkan bahwa pencapaian swasembada pangan, energi, dan air harus dilakukan secara cepat dan seksama.
"Untuk program pangan di antaranya dengan pengembangan program food estate, terutama untuk padi, jagung, singkong, kedelai, dan tebu. Ditargetkan minimal 4 juta hektare tambahan luas panen tanaman pangan tercapai pada tahun 2029.
Kedua, menjamin pelestarian lingkungan hidup. Dalam upaya pembangunan dan peningkatan ekonomi negara, kepastian keberlanjutan dan pelestarian lingkungan hidup menjadi prioritas utama untuk menjamin generasi mendatang dapat hidup sehat dan nyaman.
Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD juga mengidentifikasi bahwa krisis iklim adalah persoalan pokok dan tantangan ke depan bagi Indonesia.
Hal tersebut terungkap dalam dokumen visi dan misi Ganjar-Mahfud bertajuk 'Menuju Indonesia Unggul'.
Menurut mereka perubahan iklim yang telah bergeser menjadi krisis iklim mengharuskan pergeseran paradigma dalam pembangunan. Lingkungan hidup atau planetary boundaries harus menjadi batasan bagi seluruh aktivitas, utamanya aktivitas ekonomi.
"Keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan menjadi titik krusial," demikian bunyi salah satu poin dalam visi dan misi Ganjar-Mahfud.
Salah satu misi pasangan nomor urut 3 ini adalah mempercepat perwujudan lingkungan hidup yang berkelanjutan melalui ekonomi hijau dan biru.
Lingkungan hidup berkelanjutan itu melingkupi upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, serta harmoni hutan untuk keseimbangan.
Ini dilakukan dengan moratorium deforestasi dan mempercepat reforestasi, reboisasi, dan rehabilitasi.
Selain itu, meningkatkan konservasi kawasan hutan sebagai sumber pangan lokal, obat-obatan herbal, air, oksigen, fungsi klimatologis, dan layanan alam bagi kehidupan masyarakat di sekitar hutan.
Ada pula pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan, adaptasi dan mitigasi krisis iklim, penerapan ESG (Enviromental, Social, Governance), dan program KadarKlim (Kampung Sadar Iklim).