BMKG Prediksi Musim Kemarau Datang Lebih Cepat, Ini Jadwalnya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih awal. Kapan prediksinya?
Menurut BMKG awal musim kemarau 2026 di sejumlah daerah Indonesia akan datang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir (1991-2020). Kondisi ini berpotensi membuat durasi kemarau menjadi lebih panjang di sejumlah daerah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, dari total 699 zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 325 zona musim atau 46,5 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau yang maju dari normalnya.
"Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju, yaitu di 325 ZOM atau 46,5 persen dari keseluruhan zona musim," ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3).
Sementara itu, 173 ZOM atau 24,7 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau yang sama dengan periode normalnya. Kemudian, 72 ZOM atau 10,3 persen diperkirakan mengalami kemarau yang mundur dari biasanya atau lebih lambat.
Awal musim kemarau
BMKG memprakirakan sebanyak 114 ZOM atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesiaakan mengawali musim kemarau mulai April 2026. Wilayah awal yang memasuki kemarau antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.
Kemudian pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM (26,3 persen) diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Disusul Juni 2026 sebanyak 163 ZOM (23,3 persen).
Pergerakan awal kemarau diprakirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan bergerak ke barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa kemajuan awal musim ini berimplikasi pada potensi durasi kemarau yang lebih panjang.
"Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat dia juga menjadi lebih panjang karena awalnya itu maju," jelasnya.
Perbandingan dengan normal klimatologis 1991-2020 menunjukkan pergeseran signifikan pada awal musim kemarau tahun ini.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemajuan awal kemarau mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan tengah, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG juga mencatat bahwa musim kemarau 2026 secara umum diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 zona musim (64,5 persen) diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
"Kondisinya kemaraunya tidak seperti tahun 2025. Untuk tahun 2026 ini seperti tadi kami sampaikan, kondisinya keringnya di bawah normal dan normal," kata Ardhasena.
BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan, dan kebencanaan.
"BMKG menghimbau agar informasi prediksi musim kemarau 2026 ini dapat dijadikan sebagai bentuk peringatan dini atau early warning dan dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk aksi dini atau early action," tegas Ardhasena.
Dengan awal musim yang lebih cepat dari normal dan potensi kondisi lebih kering, pemerintah daerah serta pelaku sektor strategis diimbau segera menyesuaikan perencanaan guna meminimalkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada 2026.