Apa yang Terjadi Jika El Nino Bertahan Sampai Februari 2027?

CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 08:45 WIB
Ilustrasi. El Nino tahun ini diprediksi terparah, berpotensi menyebabkan 451 ribu kematian dan krisis pangan hingga 2027. Dampaknya mengancam stabilitas ekonomi global. (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia --

El Nino tahun ini disebut-sebut akan menjadi yang terparah sepanjang sejarah. Para pakar menyebut hampir 100 persen kemungkinan dampak El Nino akan bertahan sampai 2027. Lantas, apa yang terjadi jika El Nino bertahan selama itu?

Laporan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) pada hari Kamis (8/10) menyebut El Nino telah terbentuk secara kuat dan intensitasnya meningkat dengan cepat, prakiraan mereka menunjukkan kemungkinan hampir 100 persen bahwa fenomena ini akan berlanjut hingga Februari 2027.

Sejauh ini, anomali kenaikan suhu permukaan laut telah menyebabkan kondisi cuaca ekstrem di seluruh wilayah, termasuk Indonesia yang mengalami kekeringan hingga meningkatkan intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai pulau.

Indeks Nino 3.4 telah mencapai 2,5 derajat Celsius pada Agustus tahun ini dan menjadikannya Agustus terpanas dalam sejarah. Para ahli memprediksi indeks tersebut akan terus meningkat hingga menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celsius dan bertahan hingga tahun depan.

Berpotensi picu ratusan ribu kematian

Kelompok peneliti dari Climate Impact Lab di Universitas Chicago yang berfokus pada pemetaan dampak nyata perubahan iklim global menyebut Super El Nino tahun ini diproyeksikan akan menyebabkan 451 ribu kematian akibat hari-hari yang sangat panas.

"Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab.

Indonesia menyumbang 19.300 angka kematian pada perkiraan tersebut, menempati urutan kedua setelah Nigeria sebagai negara yang paling berisiko dengan angka kematian yang diproyeksikan mencapai 31.400 jiwa.

Angka perkiraan tersebut didapat berdasarkan data historis selama beberapa dekade berupa hubungan antara suhu dan kematian di masing-masing wilayah yang menunjukkan kematian akibat cuaca ekstem, belum termasuk kematian akibat bencana kekeringan, kebakaran hutan, atau banjir.

"Kelompok yang paling rentan adalah kelompok usia lanjut, kemudian bayi," kata Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate di Rhodium Group, yang juga terlibat dalam studi tersebut.

Inflasi dan krisis pangan akibat gagal panen

Tidak hanya meningkatkan suhu dan menyebabkan cuaca panas yang ekstrem, El Nino juga berisiko mengganggu stabilitas perekonomian negara. Sebuah studi menemukan hubungan antara El Nino dengan krisis pangan.

Menganalisis data dari El Nino 2015-2016 dan 2023-2024, Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Djoko Santoso Abi Suroso serta Manajer Riset dan Proyek di Pusat Perubahan Iklim ITB Isnan Fauzi menemukan penurunan produktivitas lahan pertanian yang menekan produksi padi selama periode tersebut.

"Jika Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras," tulis mereka di The Conversation.

Tidak hanya pada sektor pertanian, Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama Department of Economics College of William and Mary mengungkap hubungan antara peningkatan suhu udara dengan penurunan pendapatan dan produktivitas masyarakat secara keseluruhan.

"Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja," kata salah satu peneliti Esa Azali Asyahid, dikutip dari situs resmi UGM.

Menurut data, produktivitas cenderung optimal pada temperatur rata-rata tahunan sekitar 25 hingga 26 derajat Celsius. Namun, ketika temperatur terus meningkat melewati titik tersebut, produktivitas mulai mengalami penurunan secara signifikan.

Dampak berkepanjangan

Ekonom di Departemen Penelitian dan Dampak Pembangunan Ekonomi Asian Development Blog (ADB) Roshen Fernando mengatakan El Nino berisiko membawa dampak berkepanjangan, terutama di wilayah yang rentan seperti negara-negara berkembang yang mengalami kekeringan.

Ia mengungkapkan sektor pertanian mendominasi produksi dan lapangan kerja di sebagian besar negara Asia Tenggara. Gagal panen yang sangat mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem berisiko membuat rumah tangga miskin di pedesaan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

"Keluarga yang menjual ternaknya, memakan hasil panen berasnya sendiri, atau mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah untuk bertahan hidup di tahun yang buruk, akan memulai tahun berikutnya dengan lebih miskin dan kurang produktif," tulis Fernando di laman ADB, Jumat (9/10).

Menurutnya, dampak El Nino terhadap perekonomian juga semakin diperburuk dengan kondisi geopolitik seperti utang negara yang meningkat pasca pandemi, konflik di Timur Tengah, perang di Ukraina, gangguan pengiriman di Laut Merah.

(fta/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK