Tolak AI Dipakai untuk Militer, Peneliti Google DeepMind Resign

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 13:45 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah peneliti Google DeepMind mengundurkan diri dari perusahaan lantaran menolak teknologi kecerdasan buatan (AI) besutannya digunakan untuk operasi militer.

Sofia Ligouri, salah satu insinyur riset berasal dari Inggris mengundurkan dari Google DeepMind pekan lalu. Ia berbicara soal kekhawatirannya kontrak antara Google dengan militer yang tengah berlangsung.

"Menyadari bahwa perusahaan tempat saya bekerja semakin mendorong penggunaan sistem AI dalam operasi militer membuat saya merasa malu bekerja di Google," ungkap Ligouri kepada BBC, Kamis (22/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah bekerja di Google selama tiga tahun, Ligouri mengatakan dirinya untuk memutuskan mengundurkan diri karena meningkatnya kerja sama Google dengan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Menurutnya, langkah yang diambil perusahaan tidak sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai yang selama ini diterapkan.

"Saya tidak setuju dengan arah ini. Hal tersebut membuat saya kehilangan kepercayaan bahwa perusahaan saya benar-benar berpegang pada nilai-nilai etika yang selama ini mereka nyatakan," tambahnya.

Berdasarkan prinsip AI Google, nilai-nilai etika yang disinggung oleh Ligouri mencakup penerapan AI dengan "pengawasan manusia" serta penyelarasan teknologi dengan "hukum internasional dan hak asasi manusia".

Namun demikian, sejumlah mantan dan karyawan Google yang masih bekerja di perusahaan, serta para ahli yang diwawancarai oleh BBC mengaku khawatir teknologi AI yang digunakan untuk keperluan militer mungkin bertindak atau mengambil keputusan di situasi genting tanpa kendali atau campur tangan manusia yang memadai.

Para pekerja teknologi tersebut mengatakan bahwa mereka secara khusus mengkhawatirkan kesepakatan AI untuk keperluan militer yang ditandatangani tahun ini. Pasalnya, kesepakatan tersebut secara signifikan memperluas cakupan penggunaan teknologi AI yang diizinkan Pentagon, markas besar Departemen Pertahanan AS.

Seorang peneliti AI lainnya di Google DeepMind bernama Andreas Krisch, turut mengundurkan diri dari perusahaan pada awal bulan ini karena kekhawatiran yang sama. Krisch menilai tata kelola dan pengawasan Google belum memadai atau belum cukup berarti untuk menerapkan AI secara aman dan bertanggung jawab dalam lingkungan dan operasi militer yang bersifat rahasia.

Ia turut menyebut sistem AI milik Google belum cukup aman untuk mengembangkan kecerdasan super (superintelligence)" di masa depan.

"Google tampaknya tidak memiliki hak untuk mengendalikan atau memveto cara Pentagon menggunakan AI mereka. Google juga tampaknya memiliki akses informasi yang terbatas mengenai bagaimana teknologi tersebut diterapkan," jelas Krisch.

Sejumlah karyawan Google turut mengatakan mereka takut berbicara secara terbuka mengenai keselamatan AI dan penggunaannya dalam peperangan. Pasalnya, kontrak kerja mereka melarang kritik terbuka terhadap perusahaan.

Meski demikian, Ligouri tetap menyampaikan kritiknya. Menurutnya, membicarakan fakta bukanlah tindakan mengkritik.

"Pada prinsipnya, saya tidak diizinkan untuk mengkritik Google seumur hidup saya. Karena saya percaya hal-hal seperti ini perlu diketahui. Saya juga berpikir bahwa membicarakan fakta bukanlah tindakan mengkritik," tutur Ligouri.

"Orang-orang takut mendapatkan tindakan balasan dan mempertaruhkan karir mereka. Mereka merasa sedang diawasi dan tidak bisa berbicara secara terbuka," tambahnya.

Merespons hal tersebut, juru bicara Google mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan organisasi sektor publik di seluruh dunia dan mengikuti proses yang konsisten dalam meninjau maupun menjalin kontrak tersebut.

Menurutnya, proses ini mencakup kepatuhan terhadap kebijakan penggunaan yang dapat diterima dan prinsip-prinsip AI perusahaan.

"Kami juga memiliki saluran khusus bagi karyawan untuk menyampaikan kekhawatiran dengan aman, mulai dari masalah etika bisnis hingga pelanggaran. Kami juga menerapkan kebijakan tempat kerja yang ketat untuk mencegah segala bentuk tindakan balasan terhadap karyawan," kata juru bicara Google kepada BBC.

Kekhawatiran Penggunaan AI di Medan Perang Meningkat BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2